Poll

busyLoading Poll...
busyLoading Poll...

Berlangganan Artikel Baru

Name:
Email:

Login Box

Login

Don't You have account?

Sign Up

Facebook Like Button

Update Berita

Perkebunan Karet Hak Guna Usaha PT.SIR Terindikasi Telah Ditelantarkan, Perlu Segera DiCabut / dihapus Sesuai PP No 11 Thn 2010 Tentang Penertiban & Pendayagunaan Tanah Terlantar, Perlu Segera Tindakan Dari Kakanwil BPN Provinsi Aceh untuk Ditertipkan oleh PANITIA C sebagai tim indetifikasi tanah terlantar merujuk pada Perkbn no 4 thn 2010 tata cara penertiban tanah terlantar
Perjalanan Pembelajaran

Experienced Non-Expert: Pengalaman tidak selalu mengajarkan kita jadi ahli: Mengapa tante kita telah memasak selamat tiga puluh tahun, tetap saja masakannya tidak enak? Atau kenapa guru SMA kita sudah mengajar 20 tahun tetap saja membosankan kalau mengajar? Bukankah mereka berpengalaman? Kalau bukan pengalaman, apa yang membuat orang menjadi ahli?

 

Perjalanan Pembelajaran
A Journey of Learning; Curiosity, Research, Action.
Experienced Non-Expert: Pengalaman tidak selalu mengajarkan kita jadi ahli: Mengapa tante kita telah memasak selamat tiga puluh tahun, tetap saja masakannya tidak enak? Atau kenapa guru SMA kita sudah mengajar 20 tahun tetap saja membosankan kalau mengajar? Bukankah mereka berpengalaman? Kalau bukan pengalaman, apa yang membuat orang menjadi ahli?

Coba bayangkan bila, tante kita itu punya rasa keingintahuan tinggi: Sebenarnya memasak soto yang enak itu bagaimana ya? Kenapa anak2 sukanya makan di soto Pak Sadi, dan rawon Setan, dan nasi Bu Rudi? Lalu tante me-riset, apa saja kira2 yang harus ditambah kurangi, mulai mencoba memasak, meninta keponakan2 mencoba dan mengkritik, memperbaiki lagi masaknya dengan beberapa bumbu tambahan dan mencoba lagi, lagi, lagi. Walaupun mungkin tidak akan seenak Pak Sadi, rawon Setan atau Bu Rudi, saya yakin setelah 2 tahun saja masakannya akan jauh lebih enak daripada sekarang.

Pengalaman tidaklah membuat kita jadi ahli, pengalaman membuat kita terbiasa. Padahal pada jaman ini, kecuali kita jadi ahli, kita sulit bersaing dengan kompetitor kita. Dunia sudah menjadi kompleks, kita akan cepat tertinggal tanpa memperbaiki diri secara terus menerus. “Bisa” saja tidak cukup, kita harus jadi “hebat”.

Segala kemajuan jaman diawali dengan “curiosity”, rasa keingintahuan untuk menjadi lebih mengerti, lebih tahu, lebih paham. Semua manusia dilahirkan dengan DNA ini, semua kemajuan jaman didorong oleh ini. Dari pemahaman bulan purnama, waktu menanam padi, menjaring ikan dilaut, media cetak, sampai internet. Sering “curiosity” kita mati dibunuh kesibukan yang berdatangan terus.

“Curiosity” dilanjutkan dengan “Research”, riset tentang hal2 yang berkaitan dengan apa yang ingin kita temukan, seperti tante kita mungkin harus kepasar melihat2 bahan, harus telpon teman2nya tanya, dan diselesaikan dengan “Action”, tindakan2 yang nyata. Kalau tante tahu, tapi tidak mencoba, bagaimana dia bisa berhasil memasak soto yang enak, rawon yang nikmat?

Universitas Kehidupan, memberikan kesempatan kepada semua individu untuk belajar dan maju dalam bidang apa saja yang dimauinya. Hanya dibutuhkan “Curiosity, Research, Action” yang memadai untuk menjangkau apa saja yang kita inginkan. Untuk bidang pilihan apa saja yang kita memang mau.

Saya teringat almarhum Pak Teja, guru fisika SMA yang mengajar dengan jelas dan cerdas dan menarik, yang masih saja belajar sampai menjelang akhir hayatnya. Dan saya terlupa bepuluh guru yang tidak juga mau belajar untuk “mengajar dengan baik”, yang tidak punya “passion” ketika mengajar, yang jiwanya telah mati, dan hanya mengulang kata2 tanpa arti didepan kelas, dan kita semua mengantuk mulai membenci kata “belajar” dan “sekolah”.

Dalam batas tertentu kita diberi bakat untuk sebuah pekerjaan, tapi hasil riset terakhir mencatat bahwa faktor “deliberate practice” lah yang membuat orang menjadi hebat.

Bakat hanya memberi sedikit pemacu “booster”, sedangakan mesin penggerak kemajuan kemampuan kita adalah “Action”, tindakan2 berupa “latihan yang berkelanjutan”. Latihan yang membuat kita menjadi lebih baik, yang harus kita lakukan terus menerus.

SKA: Skill, Knowledge, Attitude kita, yang merupakan kompetensi dalam dunia kerja, merupakan hasil dari apa yang kita pelajari, baik dengan senang hati, ataupun dengan terpaksa. Kemampuan kita akan statis, pengetahuan kita akan berhenti, dan sikap kita akan buruk, bila tidak ada keinginan untuk maju.

Dengan menusuk, Mary Oliver menulis: "Listen--are you breathing just a little, and calling it a life?". Ketika kita masuk dalam ruang kenyamanan, dan hanya bernafas untuk hidup, dan tidak lagi mau menjadi lebih baik, bukankah berarti kita sudah “tamat” sebenarnya? “Dengarkan – kau hanya bernafas sedikit saja, dan mengatakan itu hidup?”

*Oleh Tanadi Santoso.
San Francisco, 20 Maret 2011, dalam perjalanan pembelajaran ke Stanford University, untuk mengikuti Executive Education “Design Thinking”.
http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150112873006596

 


Translate Web Ke Bahasa :

Kunjungan

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday704
mod_vvisit_counterYesterday1045
mod_vvisit_counterThis week4511
mod_vvisit_counterLast week7557
mod_vvisit_counterThis month27748
mod_vvisit_counterLast month38113
mod_vvisit_counterAll days586962

Online (20 minutes ago): 20
Your IP: 38.107.179.230
,
Today: Mei 24, 2012