|
ZAKAT SOLUSI ATASI KESENJANGAN SOSIAL |
|
Zakat sebagaimana dimaklumi merupakan ibadah maaliyah ijtimaiyah yang artinya bahwa zakat adalah ibadah harta yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan para mustahik terutama fakir miskin termasuk didalamnya membantu di bidang pendidikan,
ZAKAT SOLUSI ATASI KESENJANGAN SOSIAL Monday, March 21, 2011 3:10 PM
Zakat sebagaimana dimaklumi merupakan ibadah maaliyah ijtimaiyah yang artinya bahwa zakat adalah ibadah harta yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan para mustahik terutama fakir miskin termasuk didalamnya membantu di bidang pendidikan, kesehatan dan kegiatan ekonomi. Jika zakat para muzakki merupakan sarana untuk membersihkan jiwa dan harta mereka (Q.S At Taubah: 103) maka zakat bagi fuqara wal masakin harus mampu menjadikan mereka kaya atau paling tidak mengurangi angka kemiskinan di tengah masyarakat. Inilah hikmah lain dari kewajiban zakat.
The New Economics Foundation (NEF), sebagai LSM Internasional yang berpusat di Inggris dalam penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2002 lalu menyatakan bahwa dalam kurun waktu 1980-1990 dari setiap peningkatan pendapatan per kapita sebesar 100 USD, kelompok miskin hanya menikmati 2,2 USD atau 2,2%. Sedangkan sisanya 97,8 USD dinikmati oleh kelompok kaya. Era 1990-2001 ternyata kesenjangan semakin parah, sebesar 100 USD, kelompok miskin hanya menikmati 60 sen saja, sedangkan sisanya sebesar 99,4 USD dinikmati oleh kelompok kaya.
Data ini diperkuat oleh hasil riset Anup Shah (2008) yang menemukan bahwa 3 milyar manusia hidup dengan pendapatan dibawah 2 USD/hari, 1 dari 2 anak hidup dalam kemiskinan dan GDP 41 negara miskin sama dengan kekayaan 7 orang terkaya di dunia.
Mekanisme distribusi kekayaan yang terkonsentrasi pada tangan segelintir kelompok elit tersebut sangat dimurkai Allah SWT “….. supaya harta itu jangan hanya beredar diantara orang-orang kaya saja”(Q.S. Al Hasyr : 7).
Solusi problematika di atas salah satunya dengan distribusi pendapatan melalui Zakat, Infak dan Sedekah (ZIS). Sesungguhnya kemiskinan bukan semata-mata karena faktor kemalasan untuk bekerja (kemiskinan kultural), akan tetapi juga akibat sistem ekonomi yang tidak adil (kemiskinan struktural) dan ketidakpedulian kelompok kaya terhadap kelompok miskin.
Bukit Rata, 20 Maret 2011 Oleh Sri Hidayanti http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150115689599103 |