Poll

busyLoading Poll...
busyLoading Poll...

Berlangganan Artikel Baru

Name:
Email:

Login Box

Login

Don't You have account?

Sign Up

Facebook Like Button

Update Berita

Perkebunan Karet Hak Guna Usaha PT.SIR Terindikasi Telah Ditelantarkan, Perlu Segera DiCabut / dihapus Sesuai PP No 11 Thn 2010 Tentang Penertiban & Pendayagunaan Tanah Terlantar, Perlu Segera Tindakan Dari Kakanwil BPN Provinsi Aceh untuk Ditertipkan oleh PANITIA C sebagai tim indetifikasi tanah terlantar merujuk pada Perkbn no 4 thn 2010 tata cara penertiban tanah terlantar
Pemerintahan Mafia

MENYEBUT kata mafia, kita langsung terbayang dengan dunia hitam yang biasa digeluti oleh pelaku-pelaku kriminal. Dalam Novel “The Godfather” karya Mario Puzo, ia menerangkan “Mafia” aslinya berarti tempat pengungsian

 

Pemerintahan Mafia
Helmy N Hakim - Opini  Thu, Feb 17th 2011, 08:31

MENYEBUT kata mafia, kita langsung terbayang dengan dunia hitam yang biasa digeluti oleh pelaku-pelaku kriminal. Dalam Novel “The Godfather” karya Mario Puzo, ia menerangkan “Mafia” aslinya berarti tempat pengungsian. Kemudian kata itu menjadi nama organisasi rahasia yang muncul untuk berjuang melawan penguasa yang menghancurkan negeri Sicilia dan penduduknya selama berabad-abad.

Pun dalam Kamus Bahasa Indonesia mendefinisikannya tak jauh berbeda yaitu perkumpulan rahasia yang bergerak di bidang kejahatan (kriminal); Mafia bisa berarti “tempat perlindungan” jika ditinjau dari akar bahasanya yang diduga berasal dari jazirah Arab. Yang sedikit nyeleneh mafia adalah akronim dari Mother and Father Italian Association. Bahasa lain dari mafia La Cosa Nostra.

Sejarah Mafia
Mafia berasal dari sebuah pulau di Negara Italia bernama Sicilia. Sicilia merupakan wilayah yang tidak pernah tenang. Mereka selalu dianggap biang kerok oleh pemerintah pusat apakah itu penjajah dari negara lain atau pemerintah Italia. Seiring dengan berjalannya zaman, Mafia menjadi kata yang identik dgn pulau Sicilia. Ia menjadi simbol pemberontakan rakyat Sicilia melawan pemerintah pusat

Mafia muncul sebagai organisasi “pemerintah bayangan” sejak jatuhnya penjajahan Perancis. Rakyat yang tidak puas dengan pemerintahan pusat lebih mempercayai mafia ketimbang aparat keamanan untuk mengatasi masalah-masalah mereka sehingga di antara petani-petani Sicilia--khususnya anggota Mafia--terbentuk kode etik yang disebut Omerta. Yang artinya rahasia. Rahasiakan segalanya dari pemerintah pusat dan aparat.

Saat Mussolini memegang tampuk pemerintahan, Mafia menjadi gerakan bawah tanah. Di perang dunia II, Mafia membantu pasukan sekutu sehingga mereka bisa merebut Sicilia tanpa jatuh banyak korban. Setelah kejatuhan Mussolini, Mafia kembali tumbuh subur di Sicilia. Bahkan kemudian menyebar ke seluruh dunia melalui imigran-imigran italia. Pimpinan dari keluarga mafia disebut “The Godfather” (Bapak baptis) atau biasa dipanggil “Don” anggotanya disebut “Mafioso” yang berarti “pria terhormat”. Keluarga Mafia bukan hanya organisasi kejahatan tapi seperti suatu perusahaan dengan managemen yang tertata rapi mulai dari algojo, ahli keuangan sampai pengacara.

Kekuatan Mafia mencapai puncaknya di AS pada pertengahan abad ke-20, hingga rentetan penyelidikan FBI pada tahun 1970-an dan 1980-an agak mengurangi pengaruh mereka. Meski kejatuhannya tersebut, Mafia dan reputasinya telah tertanam di budaya populer Amerika, difilmkan di televisi dan bahkan iklan-iklan. Begitu menariknya dunia mafia, sehingga membuat Mario Puzo menuliskannya dalam sebuah novel berjudul “The Godfather” yang kemudian diangkat dalam film berjudul “The Godfather” terdiri dari tiga sequel atau Trilogy.    

Film “The Godfather” ini menggambarkan secara utuh bagaimana keluarga-keluarga mafia Italia menjalankan kehidupan bisnis dan pribadinya. Seorang Vito Corleone yang mengawali karirnya dengan membunuh seorang tukang peras yang selalu minta hasil besar dari bisnis mencurinya, yang ia jalankan pada mulanya atas dasar tuntutan kebutuhan ekonomi keluarganya.

Dalam dunia Mafia, balas dendam, pembunuhan dan narkotika adalah hal biasa. Tapi tidak dengan tokoh mafia bernyali tinggi dari Sisilia -Italia bernama Don Vito Corleone. Bagi pemimpin mafia ini yang menguasai New York dan beberapa wilayah di Amerika yang sangat menghargai komitmen juga sangat menjunjung tinggi arti persahabatan dengan tegas menolak narkotika dalam bisnisnya. Meskipun pembunuhan karena pengkhianatan masih menjadi tradisi. Bagi seorang Vito Corleone, membunuh untuk keadilan adalah sesuatu yang pantas dan halal. Sebagai seorang kepala keluarga, Vito adalah seorang ayah dan suami yang baik yang tak pernah melewatkan akhir pekan bersama keluarganya. Bahkan Vito tidak pernah membicarakan bisnis di meja makan.

Perbedaan besar dunia mafia yang ia geluti adalah cara mendapatkan dan mempertahankannya. Seorang mafia tidak akan sungkan-sungkan menggunakan cara-cara kotor demi meraih keuntungan termasuk kekerasan apabila bisnisnya terganggu atau terhalang. Persaingan bisnis mafia sering berakhir dengan pertumpahan darah antar sesama keluarga mafia. Terkadang perang antar mafia juga melibatkan aparat keamanan bahkan pemerintah.

Politisi Mafia
Sesungguhnya apa yang dijalani oleh mafia adalah prinsip-prinsip Machiavelli. Dalam dunia politik seringkali politisi-politisi tidak segan untuk menghalalkan segala cara. Dengan menyaksikan dunia politik baik di pentas Aceh ataupun nasional kita dapat melihat dengan mata telanjang praktik tata cara mafia berlaku dalam pentas politik.

Kaum politisi yang menggunakan segala cara dalam meraih kekuasaan atau kepentingan politik dan bisnisnya, disadari atau tidak, telah menjadi mafia dalam panggung kekuasaan yang seharusnya digunakan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Hal ini belum seberapa jika tidak dibumbui kekerasan sebagaimana mafia sesungguhnya. Namun pada praktiknya di Aceh pun sering terdengar tentang kasus kekerasan yang berkaitan dengan politik dan bisnis yang melibatkan “oknum” aparat keamanan, seperti yang terjadi baru-baru ini.

Sebuah buku yang mengupas tentang teori bisnis mafia adalah “The Mafia Manager, A Guide to the Corporate Machiavelli.” kalimat pembuka dalam buku tersebut adalah “Kamu bisa mendapatkan hasil lebih banyak dengan kata-kata manis dan sepucuk senjata daripada hanya dengan kata-kata manis. Penulis buku ini juga seorang mafia yang mencantumkan satu huruf saja sebagai nama yaitu “V”. Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah jalan mafia hanya tersedia bagi orang-orang yang menginginkan keuntungan yang lebih dari sekadar uang dan materi saja, yaitu orang-orang yang menginginkan prestasi tertinggi dan ambisius. Di sinilah letak perbedaan mendasar dibandingkan dengan teori-teori bisnis lain yang hanya mengejar keuntungan dari segi materi dan finansial saja.

Jika terus terjadi kasus kekerasan yang berkaitan dengan politik ataupun bisnis, maka Aceh tak ubahnya seperti Sicilia yang semula melawan pemerintah pusat namun di akhir perang menjadi ajang pertarungan para mafia yang bertujuan meraih keuntungan belaka dengan mengabaikan nilai-nilai moral dan etika. Jika dibiarkan para “Don” ini bebas tanpa hukuman maka bukan tidak mungkin akan merusak tatanan masyarakat Islami yang sedang dibangun oleh rakyat Aceh.

* Penulis adalah pemerhati sosial politik Aceh.
http://aceh.tribunnews.com/news/view/49552/pemerintahan-mafia

 


Translate Web Ke Bahasa :

Kunjungan

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday702
mod_vvisit_counterYesterday1045
mod_vvisit_counterThis week4509
mod_vvisit_counterLast week7557
mod_vvisit_counterThis month27746
mod_vvisit_counterLast month38113
mod_vvisit_counterAll days586960

Online (20 minutes ago): 20
Your IP: 38.107.179.226
,
Today: Mei 24, 2012