|
PERBINCANGAN hangat seputar Unsyiah dalam beberapa hari terakhir di kolom Opini Serambi Indonesia,
Akademisi yang Terasing Affan Ramli - Opini 20 Februari 2010, 08:55 PERBINCANGAN hangat seputar Unsyiah dalam beberapa hari terakhir di kolom Opini Serambi Indonesia, semakin menarik diikuti setelah pihak-pihak yang terlibat sejauh ini seperti bersepakat untuk tidak membatasi pokok bahasan pada persoalan akreditasi C universitas itu. Fokus issu bergerak acak dari soal akreditasi, lalu ke etika kritik dan personalitas pengkritik. Tulisan terakhir Otto (17/2) mulai mengumandangkan isu tambahan, seputar kadar ilmiah dan tanggungjawab moral intelektual akademisi Unsyiah, khususnya terhadap konteks sosial politik yang melingkarinya. Dua isu terakhir ini, menurut saya lebih substansial untuk dibahas tuntas di hadapan publik Aceh mengingat keduanya berkait lansung dengan upaya verifikasi faktual sah tidaknya klaim sepihak Unsyiah sebagai “jantung hati” rakyat Aceh. Adapun persoalan-persoalan lain yang mengemuka lebih awal- seperti akreditasi C, kritik kurang santun, dan banyaknya dosen yang tidak aktif mengajar- tidak lansung mempertaruhkan keabsahan klaim tersebut. Bila simpulan Otto dalam tulisan “Rendahnya Imajinasi Berakademi” akurat bahwa terdapat kelangkaan akademisi Unsyiah yang berkadar pengetahuan tinggi dan menunaikan tanggungjawab moral intelektualnya terhadap persoalan sosial politik Aceh, maka Unsyiah “jantung hati” tidaklah lulus dalam proses verifikasi faktualnya. Tentu publik Aceh lebih ambil peduli pada persoalan ini. Saya satu dari rakyat Aceh yang sangat menantikan penjelasan Unsyiah terkait hal ini. Namun, kali ini saya berharap para akademisinya membiarkan Unsyiah membela diri, bukan melakukan pembelaan habis-habisan dengan cara mereka yang pada hakikatnya turut mengesankan kepada publik anggapan lemahnya para akademisi Unsyiah saat ini benar menyata. Membiarkan Unsyiah membela diri adalah dengan mengajukan data-data relevan yang telah dimiliki Unisyiah berkaitan hal ihwal kadar perkembangan pengetahuan dan peran intelektualitas para akademisi Unsyiah. Dalam menyeleksi data-data relevan, banyak tool yang bisa digunakan, bergantung pada indikator-indikator apa saja yang dipercayai sebagai alat ukur (parameter) perkembangan pengetahuan dan alat ukur realisasi tanggungjawab intelektualitas akademisi. Perkembangan iIlmu Untuk mengukur kadar perkembangan ilmiah (pengetahuan) Unsyiah, dapat merujuk pada teori D.A King. King mengatakan tiga puluh tahun yang lalu parameter penting untuk menilai perkembangan pengetahuan adalah produktivitas ilmiah, yaitu dari jumlah artikel yang berhasil dipublikasikan di jurnal-jurnal bergengsi dan kompetitif (terutama jurnal internasional). Sekarang, parameternya telah berubah dari produktivitas mnjadi “impact factor”. Perhitungan nilai impact factor didasarkan kepada jumlah rujukan (citation) dari artikel yang telah dipublikasikan. Artinya, jika artikel itu banyak dijadikan referensi oleh artikel-artikel lain yang dimuat di jurnal bergengsi juga, maka impact factor-nya menjadi tinggi. Banyak lembaga-lembaga pemberi dana riset dan universitas menggunakan impact factor ini dalam menilai pencapaian dosen, peneliti dan mahasiswa. D.A King sendiri telah menganalisis jumlah rujukan (citation) dari artikel yang dipulikasikan dari lebih 8000 jurnal dari 36 bahasa yang diindeks oleh ISI Thomson dari tahun 1993-2001, yang terdiri dari jurnal-jurnal dalam bidang sains dan teknologi (Hadi Nur, 2005). Maka asumsi kadar pengetahuan tinggi hanya dimiliki secara langka oleh beberapa akadmisi Unsyiah dapat diafirmasikan atau dinegasikan dengan ukuran yang diajukan oleh D.A King. Bisa dengan menggunakan parameter produktivitas ilmiah (meski ukuran ini mulai kadaluarsa), publik Aceh akan disuguhkan data jumlah artikel dosen dan mahasiswa Unsyiah yang telah dimuat di jurnal-jurnal bergengsi, terutama pada jurnal internasional dari tahun ke tahun. Alat ukur lain yang lebih updating adalah impact factor. Bberapa banyak artikel-artikel lain dimuat di jurnal bergengsi (internasional) mengutip dan membuat rujukan pada artikel-artikel dosen dan mahasiswa Unsyiah. Bila data-data ini diumumkan oleh pihak rektorat atau siapapun yang setia membela keyakinannya bahwa Unsyiah layak dibanggakan rakyat Aceh, maka publik Aceh dapat menilai sendiri tingkat keakuratan penilaian sebagian orang tentang merosotnya kemampuan ilmiah di kalangan akademisi Unsyiah. Bahkan jika data-data yang diajukan mampu memuaskan, publik punakan setuju dengan Purek I Unsyiah untuk menganggap kurang pentingnya akreditasi. Pertanyaannya adalah apakah Unsyiah memiliki data-data lengkap mengenai perkembangan kemampuan ilmiahnya sendiri? Alih-alih berharap Unsyiah merekam baik sejarah perkembangan sainnya sejak lahir setengah abad lalu, saya khawatir rekaman data-data itu pada periode kepemimpinan Darni Daud saja tak tersedia lengkap. Peran intelektualitas Peran intelektualitas di sini mengikut penjelasan para pemikir dunia, sebagai contoh ambil saja syarahan Gramsci dengan konsep intelektual organiknya atau Ali Syari’ati dengan konsep raushan fikr nya. Penyederhanaan makna aplikatifnya seperti yang dijelaskan Otto tentang peran Prof Dayan Dawood dalam menunaikan tanggungjawab moral intelektualnya terhadap persoalan sosial politik Aceh. Bahwa Dayan Dawood dengan kapasitas pengetahuannya memberikan kontribusi menentukan dalam usaha pencabutan DOM di Aceh. Sekali lagi publik Aceh pantas tahu apakah para akademisi Unsyiah memberikan respon-respon terbaiknya terhadap persoalan sosial politik di Aceh atau mereka terasing di menara gading? Sekarang biarkan Unsyiah mengajukan data-data yang dimilikinya mengenai peran intelektualitasnya. Mulai dari penjelasan apa yang disumbangankan Unsyiah dalam menyelesaikan konflik perang di Aceh yang berlangsung selama 1976-2005?. Setidaknya pengetahuan-pengetahuan apa yang disumbangkan Unsyiah sebagai lembaga pendidikan dalam proses penyelesaian konflik Aceh?. Lalu publik Aceh juga sepatutnya diberitau peran Unsyiah dalam menjawab tingginya risiko bencana Aceh, apakah perkembangan pengetahuan dan studi-studi di Unsyiah mampu memberikan jawaban atas persoalan ini? Pertanyaan berikutnya apakah Unsyiah telah menemukan solusi bagi persoalan kemiskinan Aceh yang mencapai sejuta jiwa? Ataukah Unsyiah ikut memperbanyak jumlah pengangguran dengan memproduk sarjananya-sarjana bermental buruh? Sambil menunggu jawaban Unsyiah terhadap beberapa pertanyaan di atas, ada baiknya melihat keterasingan Unsyiah selama ini dari hiruk pikuk rakyat Aceh yang sedang berhadapan dengan persoalan-persoalan utama mereka. Ketika ribuan hektar tanaman Pala petani di pantai barat-selatan mati diserang hama, Unsyiah tidak mampu menyumbangkan apapun untuk menangani hama itu, meski Fakultas Pertaniannya dihuni ratusan pakar bidang ini yang digaji dengan uang rakyat. Para akademisi pertanian Unsyiah cukup ”orgasme” dengan menghapal teks-teks buku yang mereka ajarkan setiap hari kepada mahasiswanya. Menghapal istilah-istilah latin dari nama-nama tumbuhan dilihat lebih penting daripada mengenal secara baik persoalan petani Aceh saat ini. Dalam sebuah diskusi di Fakultas Pertanian tahun 2003 yang pernah saya ikuti, fakta keterasingan Unsyiah dari realitas sosial masyarakat Aceh diungkapkan secara baik oleh salah seorang peserta; ” Kita tiap hari menghapal nama-nama latin dari jenis ternak hingga perincun ayam, tapi setiap kali ayam orang kampung terkena wabah yang mematikan secara massif, pengetahuan kita tidak menjadikan kita mampu menanganinya.” kata mahasiswa peternakan itu yang juga menjabat sebagai ketua BEMfakultas saat itu. Kawan yang lain mengatakan, para pengajar lebih suka membahas keunggulan kuda di Jepang, karena mereka lulusan Jepang. Sekelumit cuplikan ini memperkuat dugaan adanya fenomena kelangkaan akademisi Unsyiah yang menjalankan tanggungjawab intelektualitasnya dalam merespon persoalan aktual rakyat Aceh. Ditambah lagi persolan kejumudan ilmiah para akademisinya. Lalu dimanakah letak keabsahan Unsyiah ”jantung hati” rakyat Aceh? Mungkin pada perannya memproduksi tenaga kerja (buruh sarjana) selama ini, memprihatinkan! * Affan Ramli adalah pegiat kajian Komunitas Philosophia dan Panteu Community http://www.serambinews.com/news/view/24573/akademisi-yang-terasing |