|
Seorang pria bersenjata AK-47 melepaskan tembakan ke udara dalam merayakan kebebasan kota Libya Benghazi, Libya, Minggu (27/2). Presiden AS Barack Obama telah menyerukan diktator Libya Moammar Gadhafi untuk meninggalkan kekuasaan segera, ia telah kehilangan legitimasi untuk memerintah dengan penindasan kekerasan di atas warganya sendiri. AP/ Hussein Malla
100 Ribu Orang Tinggalkan Libya Donya Mon, Feb 28th 2011, 09:59 Seorang pria bersenjata AK-47 melepaskan tembakan ke udara dalam merayakan kebebasan kota Libya Benghazi, Libya, Minggu (27/2). Presiden AS Barack Obama telah menyerukan diktator Libya Moammar Gadhafi untuk meninggalkan kekuasaan segera, ia telah kehilangan legitimasi untuk memerintah dengan penindasan kekerasan di atas warganya sendiri. AP/ Hussein Malla TRIPOLI - Badan pengungsi dunia, United Nations Hight Commissioner for Refugee (UNHCR), menyatakan sekitar 100.000 orang telah meninggalkan Libia masuk ke negara-negara tetangganya dalam satu pekan terakhir. Termasuk 253 orang warga negara Indonesia (WNI) yang kini dievakuasi ke Tunisia.
“Tim darurat UNCHR bekerja sama dengan pemerintah Tunisia dan Mesir mendukung sekitar 100.000 orang yang meninggalkan Libya yang dilanda kekerasan dalam satu pekan ini,” demikian pernyataan UNHCR dikutip kantor berita AFP, Minggu (27/2).
Angka dari badan pengungsi itu menunjukkan banyak migran asing itu terutama dari Mesir dan Tunisia. Selain itu juga dalam angka yang dirilis UNHCR terdapat 4.600 orang Libya yang lari ke Mesir dan Tunisia.
Kantor berita AP juga mengutip UNHCR adanya 2.000 orang Cina yang mengungsi. Satu kelompok pengungsi terdiri dari orang Bangladesh, Thailand dan Pakistan ditemukan tanpa dokumen di daerah tak bertuan antara Libia dan Mesir dekat Sallum.
Bulan Sabit Merah sebelumnya mengatakan lebih dari 10.000 orang telah mengungsi dari Libia ke pos perbatasan Ras Jedir, Tunisia hari Sabtu. Sebelum kedatangan mereka, pemerintah Tunisia, Sabtu (26/2) lalu, mengatakan 40.000 orang telah melintas perbatasan Libia sejak 20 Februari. Sedangkan Mesir mengatakan 55.000 orang mengungsi sejak 19 Februari, demikian UNHCR. “Kami membantu Tunisia dan Mesir untuk menolong orang yang lari dari Libya,” ujar Komisaris UNHCR Antonio Gutteres.
Menurut UNHCR, lebih dari 100 ton bantuan untuk 10.000 orang termasuk tenda dan peralatan telah diterbangkan ke Tunisia hari Sabtu untuk digunakan di perbatasan Libia.
Sementara itu Badan Pangan Dunia (WFP) PBB, Jumat (25/2) pekan lalu, memperingatkan bahwa pasok makanan di Libia “terancam terputus” karena kapal tidak ada lagi yang merapat dan distribusi makanan terhambat kekerasan.
Eksodus itu menimbulkan masalah besar. Massa yang berkerumun menunggu tanpa mendapatkan fasilitas sanitasi yang memadai. Jalan-jalan tersumbat karena kemacetan lalu lintas sedangkan jumlah orang yang datang ke perbatasan semakin banyak sepanjang waktu.
Sekjen PBB Ban Ki-moon mengatakan lebih dari 20.000 orang mengungsi ke Tunisia dan dan 15.000 mengungsi ke Mesir. Bahkan, menurut laporan BBC di perbatasan Tunisia, aliran migran yang terus menerus ini menimbulkan masalah logistik dan kemanusiaan.
Seorang pria dari Nigeria yang bekerja secara ilegal di Libya selama sembilan tahun mengatakan, orang Afrika akan lebih banyak diserang karena dicurigai sebagai tentara bayaran Khadafi. “Khadafi membuat kesalahan besar menggunakan milisi kulit hitam sub-Sahara untuk memerangi rakyatnya sendiri,” katanya.
Karena itu, tambah pria Nigeria, kini rakyat di sana melihat orang berkulit hitam sama seperti tentara bayaran. “Di Benghazi saya dengar dua orang kulit hitam dibunuh. Di Tripoli seseorang juga memberitahu saya ada sejumlah orang berulit hitam dibunuh,” ujarnya. “Banyak orang Afrika di Libya yang harus mengungsi karena mereka takut nyawanya terancam,” pungkasnya.(bbc/ap/afp/ask) http://aceh.tribunnews.com/news/view/50445/100-ribu-orang-tinggalkan-libya |