|
GENAP 11 tahun sudah tragedi berdarah Semenyeh, yang tidak menyisakan marah dan dendam kesumat. Alhamdulillah! Cukuplah tahu sama tahu dan membiarkan peristiwa itu sebagai lelucon politik murahan bagi orang Aceh, yang sudah terbiasa bercanda dengan darah dan nyawa.
Selisik Catatan yang Tercecer dari Semenyeh Oleh Yusra Habib Abdul Gani - KONTRAS
KONTRAS NO.483. Thu, Apr 2nd 2009, 17:28
Cover Tabloid Kontras No. 483 Tahun XI 2 - 8 April 2009 GENAP 11 tahun sudah tragedi berdarah Semenyeh, yang tidak menyisakan marah dan dendam kesumat. Alhamdulillah! Cukuplah tahu sama tahu dan membiarkan peristiwa itu sebagai lelucon politik murahan bagi orang Aceh, yang sudah terbiasa bercanda dengan darah dan nyawa.
Sore itu, 25 Maret 1998, antara pukul 17.00-19.00, seusai makan malam, para tahanan politik (tapol) asal Aceh di kamp Semenyeh merasa pusing, muntah-muntah, dan rebah bergelimpangan. Makanan dibubuh racun berjangka untuk melemahkan saraf dan stamina. Suasana pun segera bertukar menjadi gundah, apa gerangan akan terjadi?
Di luar kamp, ribuan aparat keamanan siaga dengan sejata. Rupanya, 223 tapol Aceh dalam kamp ini hendak diantar pulang secara paksa. Berita ini segera menyebar ke kamp di Lenggeng, negeri Sembilan (130 pelarian Aceh); kamp Macap Umbo Melaka (84 orang); kamp Juru, Kedah (24 orang) dan kamp Port Klang (11 orang). Di kamp Lenggeng, sore itu mendadak tapol Aceh diarahkan berkumpul dalam satu blok dengan dalih mau didata ulang. Karena tindakan ini mencurigakan, maka sebelum makan malam berembuk dan diadakan voting: “makan malam atau tidak”. Suara mayoritas memilih: tidak makan, karena khawatir menjadi korban racun. Para pembangkang memilih makan. Akibatnya, mereka merasa pusing, muntah-muntah dan jatuh tergeletak. Perkara ini, tidak terjadi di kamp Macap Umbo dan kamp Juru. Tetapi, sejak pukul 16.00, kamp sudah dikepung oleh pasukan gabungan: Polisi Hutan, Polisi biasa dan militer lengkap dengan senjata.
Kebetulan, saya bersama Razali Abdullah Paya, Razali Abd. Hamid, Mahfudh Usman Lampohawé dan Muzakkir Abd. Hamid sedang berbincang dengan Timothy Farrit, pegawai Amnesty International dari London di Hotel Swiss Garden, untuk membicarakan kondisi aktivis GAM dalam kamp tahanan Malaysia. Dalam perjalanan menuju Hotel, seorang anggota Polisi Malaysia menghubungi saya via HP: “Yusra, semua rekan awak nak dihantar balik besok pagi”. “Terima kasih atas informasinya,” jawab saya. Berselang beberapa menit kemudian, Yusuf Tjubo dari kamp Juru menelepon saya: “Kamoë ka djikeupông lé aparat keamanan Malaysia deungon sendjata leungkap.” Saya bilang: “Prèh siat dalam sidjeuëm, akan ulôn hubôngi droëneuh, seubab kamoë keuneuk meurumpok deungon awak Amnesty International (Tunggu dalam satu jam, akan saya hubungi saudara. Kami mau jumpa dengan pegawai Amnesty International).” Usai bertemu, saya kontak Yusuf Tjubo. Sayang, HP-nya tutup.
Saat berbincang dengan Timothy, HP saya matikan. Di saat inilah situasi di masing-masing kamp sedang kritis. Saya beritahu kepada Timothy: “Rekan kami akan diantar pulang esok hari”, berdasarkan informasi yang saya terima sebelumnya.
Tapol Aceh dalam kamp Lenggeng, segera menyusun taktik perang gerilya. Berbekal pengalaman perang gerilya, akhirnya (antara pukul 20.00-21.00) mereka berhasil merobek kawat berduri dan merambah masuk belantara kebun Karet dan Kelapa Sawit. Hutan Lenggeng menjadi medan perang, kejar-kejaran berlangsung dalam gelap gulita. Masing-masing unit pasukan bebas menentukan arah, mengadakan kontak ke luar dan memberi tahu posisi, agar tim penyelamat dari Payajeras, Shah Alam, Gombak dan Kajang tepat pada titik tujuan. Kebanyakan selamat. Yang tidak selamat, tak ada lagi kabar berita.
Di kamp Semenyeh: rasa was-was, marah, pasrah, emosi, pilihan untuk mati atau hidup, bergolak dalam benak masing-masing. Tidak ada komandan yang memberi aba-aba. “Kiamat” sudah tiba. Ribuan pasukan bersenjata Malaysia tampak di depan mata, tinggal menghitung detak-detak jarum jam: hidup atau mati! Suara tangis, tahmid, tahlil dan takbir yang bergema, tidak mempan lagi mengurung tercetusnya “perang”. Sulaiman Ismail di Blok C memberi tahu saya bahwa persis pada pukul 05.09, Blok A, B dan D terbakar. Hal ini tidak diperkirakan sebelumnya oleh aparat keamanan. Pada pukul 05.17, saya melaporkan situasi terakhir kepada Tengku Hasan di Tiro. Pesan beliau: “Jika mampu dielakkan dari hal yang negatif, lakukan! Jika tidak, pertahankan marwah”. Pesan ini saya sampaikan kepada Sulaiman Ismail. Saat jarum jam menuju angka 05.22, giliran Blok C terbakar. Pada detik terakhir ini, Sulaiman Ismail berpesan: “... Bang, sebelum saya campakkan HP ini ke kobaran api, maafkan kami, salam kepada Paduka W.N dan kawan-kawan. Jika kami mati, jangan lupa doakan.”
Tidak lama kemudian berlangsung tragedi berdarah yang dipimpin langsung oleh Ketua Polis Negara, Rahim Noor. Mereka dipaksa naik lorry militer, terjadi perebutan senjata, bacok-membacok, pukul-memukul, mengikat, menggari. Inilah pertarungan yang tidak ada pihak yang memberi ampun dan yang diberi ampun. Akibatnya, 14 pelarian Aceh ditembak mati, ratusan luka parah, belasan Polisi Malaysia mengalami luka ringan dan berat. Suasana yang sesungguhnya tidak bisa digambarkan di sini.
Pada 28 Maret, saya bersama Puan Siti Hajar (isteri Tengku Razak di Tiro) memberanikan diri pergi ke Hospital Kajang untuk melihat dan memastikan 4 sosok mayat asal tragedi Semenyeh yang disimpan dalam kulkas mayat sebelum dikubur.
Pemulangan secara paksa pelarian Aceh, mutlak kebijakan politik Soeharto-Mahathir Muhammad. Sebelumnya, dilakukan “Operasi bujuk” dengan melibatkan intel TNI, segelintir ulama Aceh dan “Aceh Sepakat Malaysia.” Tujuannya, agar tapol Aceh mau pulang ke Indonesia. Hal ini terungkap dalam dokumen rahasia setebal 20 hlm. milik Atase militer Kedutaan RI, Kuala Lumpur, yang ditandatangani oleh Kolonel Art, Erman Hidayat, Nrp. 23662, April 1997. Pada hlm. 6 tertera: “Operasi Bujuk” yaitu dengan mengirim beberapa tokoh masyarakat dan ulama Aceh ke Malaysia dengan maksud membujuk mereka agar mau kembali ke Indonesia”. Selain itu pada hlm. 17 disebut: “Bilamana keberadaan organisasi ini telah mantap kembali, diharap dapat menahan pengaruh sisa-sisa GPK Aceh dan bahkan mampu membantu mempengaruhi sisa-sisa GPK tersebut untuk kembali ke pangkuan RI. “Diantara hasilnya ialah: 11 aktivis GAM jebolan Libya berhasil dibujuk pulang ke Indonesia yang diantar lewat pintu Konsulat RI, pulau Pinang. Sementara itu, yang diantar pulang secara paksa diinterogasi dalam kamp tahanan di Aceh didampingi seorang ulama Aceh. Sebagiannya gila, stres, dan cacat seumur hidup. Sebagian lagi kembali segar, tetapi rapuh rasa kesetiakawanan dan ditindih oleh bayang-bayang masa depan Aceh yang tidak menentu. Sekarang mulai berhitung: berharga atau ditimbang sekadar “boh Timon tjeukok peupeunoh raga”. Betapa pun pahitnya, tragedi Semenyeh adalah fakta yang tidak boleh disembunyikan, sebab ianya bagian dari sejarah Aceh. Sejarah adalah mahkamah yang paling adil mengadili perilaku manusia.
Tabloid KONTRAS Nomor: 483 Edisi 2 April 2009. http://serambinews.com/news/view/1600/catatan-yang-tercecer-dari-semenyeh |