Poll

busyLoading Poll...
busyLoading Poll...

Berlangganan Artikel Baru

Name:
Email:

Login Box

Login

Don't You have account?

Sign Up

Facebook Like Button

Update Berita

Perkebunan Karet Hak Guna Usaha PT.SIR Terindikasi Telah Ditelantarkan, Perlu Segera DiCabut / dihapus Sesuai PP No 11 Thn 2010 Tentang Penertiban & Pendayagunaan Tanah Terlantar, Perlu Segera Tindakan Dari Kakanwil BPN Provinsi Aceh untuk Ditertipkan oleh PANITIA C sebagai tim indetifikasi tanah terlantar merujuk pada Perkbn no 4 thn 2010 tata cara penertiban tanah terlantar
Gelombang Pasang Hantam Pesisir Aceh Teriakan Tsunami Renggut Dua Nyawa

BANDA ACEH - Fenomena alam gelombang besar yang terjadi sejak Kamis malam hingga Jumat kemarin memunculkan kepanikan luar biasa di pesisir Aceh. Di beberapa kawasan, sempat terdengar teriakan tsunami sehingga masyarakat lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Dua orang meninggal; seorang di Samalanga karena jantungan dan seorang lainnya di Kembang Tanjong, Pidie disebabkan darah tinggi.

Gelombang Pasang Hantam Pesisir Aceh Teriakan Tsunami Renggut Dua Nyawa
* Panik Massal Terjadi Sepanjang Malam
Utama
Sat, Mar 19th 2011, 11:39
Masyarakat Pusong Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe menggunakan becak dan sepeda motor berusaha menyelamatkan diri setelah mendengar kabar terjadinya  tsunami, Jumat (18/3) dini hari.ANTARA/RAHMAD
BANDA ACEH - Fenomena alam gelombang besar yang terjadi sejak Kamis malam hingga Jumat kemarin memunculkan kepanikan luar biasa di pesisir Aceh. Di beberapa kawasan, sempat terdengar teriakan tsunami sehingga masyarakat lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Dua orang meninggal; seorang di Samalanga karena jantungan dan seorang lainnya di Kembang Tanjong, Pidie disebabkan darah tinggi. Fenomena gelombang pasang kali ini memunculkan kepanikan luar biasa karena munculnya teriakan dan kabar akan terjadi tsunami. Akibatnya, dua orang dilaporkan meninggal karena kaget dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka karena terjatuh saat melarikan diri. Korban meninggal itu tercatat masing-masing bernama Manaip (58), penduduk Gampong Meraksa, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie dan seorang lainnya bernama Nurhayati (48), warga Desa Sangso, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen.

Gelombang besar di pesisir Bireuen melanda kawasan Samalanga, Simpang Mamplam, Pandrah, Jeunieb, dan Plimbang sekitar pukul 09.50 WIB, Jumat (18/3). Saat gelombang bergemuruh terdengar teriakan tsunami menyebabkan ribuan warga, termasuk anak-anak yang sedang mengikuti proses belajar mengajar di berbagai jenjang pendidikan berhamburan dan lari tunggang langgang menyelamatkan diri. “Banyak siswa kami berlarian dan saling tabrakan,” kata Kepala MAN Jeunieb, M Gade. Pemegang Nota Dinas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bireuen, Saifuddin kepada Serambi, Jumat kemarin mengatakan, selain ada yang meninggal, sejumlah warga lainnya luka-luka akibat terjatuh saat melarikan diri. Korban luka-luka yaitu Nurmasyitah (13) siswa kelas I SMPN Tanjongan Samalanga, Ansar (17) siswa SMA 1 Samalanga bersama ibunya, Sri Mada (45) guru SMA Samalanga, Muyasir (15) siswa SMPN 2 Jeunieb/warga Tanjong Bungong, dan Muhammad Ali Arbi (55) warga Desa Tanjong Bungong, Jeunieb. Korban dirawat di Puskesmas Samalanga dan Puskesmas Jeunieb.

Seorang tokoh muda Samalanga, Muzakkir didampingi ibu-ibu dari Desa Pante Rheung mengatakan, akibat isu tsunami itu memunculkan kepanikan luar biasa. Masyarakat menjadi tak terkendali sehingga jatuh korban, bahkan ada yang meninggal akibat jantungan. Kapolres Bireuen, AKBP HR Dadik J melalui Kapolsek Samalanga, Iptu Syamsul SH mengatakan, hasil pantauan lapangan, sebelum warga berlarian, ada dua pemuda yang mengendarai sepeda motor jenis RX King melaju dari arah Jangka Buya (Pidie Jaya) melewati Keude Samalanga. Kedua pemuda tersebut meneriaki air laut sedang naik dan tsunami segera terjadi. “Kedua pemuda itu tancap gas ke arah timur Kota Samalanga dan menyebarkan informasi serupa sehingga memunculkan panik massal,” kata Iptu Syamsul.

Panglima Laot Kabupaten Bireuen, Badruddin kepada yang ditemui Serambi di Puskesmas Jeunieb mengatakan, gelombang laut tinggi sekitar empat meter akhir-akhir ini dengan suara gemuruh adalah pasang purnama, bukan tsunami. “Kondisi ini akan terjadi selama beberapa hari ke depan. Gelombang seperti ini biasanya muncul lima tahun sekali, masyarakat tak perlu panik,” kata Badruddin.

 Pidie
Di pesisir Kabupaten Pidie, pasang purnama mulai terjadi Kamis (18/3) sekira pukul 20.00 hingga Jumat (18/3) pukul 09.00 WIB. Air laut menggenangi ratusan rumah di sejumlah kawasan yang disusul aksi pengungsian masyarakat. Camat Kembang Tanjong, Yufridal SSos membenarkan seorang warganya bernama Manaip (58), penduduk Gampong Meraksa meninggal yang diduga terkejut saat mendengar kabar air laut naik.

Dokter piket di Puskesmas Kembang Tanong, dr Iskandar mengatakan, pasien bernama Manaip mengalami kasus darah tinggi. “Kemungkinan saat mendengar isu air laut naik tekanan darahnya naik dan dia sempat pingsan. Meski sempat dibawa ke puskesmas, namun nyawanya tak tertolong,” kata dr Iskandar. Masih di Kecamatan Kembang Tanjong, seorang ibu rumah tangga bernama Asnidar binti Hamid (28) warga Desa Tanjong Krueng, patah kaki saat meloncat dari tangga rumah panggungnya. Hingga tadi malam ibu dua anak ini dirawat intensif di Unit Gawat Darurat RSU Sigli.

“Malam itu warga sangat panik dan berlarian menyelamatkan diri ke Pasar Keude Kembang Tanjong,” kata Keuchik Gampong Jeumeurang, Kecamatan Kembang Tanjong, Tgk M Husen.  Gelombang pasang juga melanda Pasi Rawa, Kecamatan Kota Sigli. Menurut Keuchik Pasi Rawa, M Tahir Yasin didampingi tokoh masyarakat setempat, Eris Abdullah, masyarakat semakin panik karena gelombang pasang itu dihubung-hubungkan dengan tsunami Jepang.

Camat Kota Sigli, Drs Nadhar Putra mengatakan, wilayahnya yang dihantam gelombang pasang antara lain Pasi Rawa, Kuala Pidie, Benteng, Kramat Luar, dan Blang Paseh.  Menurut anggota DPRK Pidie, Lukmanul Hakim, pihaknya langsung turun ke lokasi yang diterjang pasang purnama sambil berharap masyarakat meningkatkan kewaspadaan.

 8 rumah ambruk
Sekretaris Fraksi Partai Aceh DPRK Pidie, Saidi Sulaiman alias Adi Laweung kepada Serambi, Jumat (18/3) sore mengatakan, musibah gelombang pasang kali ini juga merobohkan delapan rumah permanen di Desa Genting Barat, Kecamatan Batee, Pidie. Selain itu, 12 rumah lainnya di permukiman nelayan tersebut terendam air laut.  Menurut Adi Laweung, delapan rumah nelayan di Desa Genting Barat yang roboh akibat gelombang pasang paa Kamis malam masing-masing milik Asmadi Ilyas, Raja Kuala, M Amin Ali basyah, Helmi Nasir, Abubakar Arsya, Muhammad Ulee Kareng, M Amin Laweung, dan Dian Angkat.  

Menurut Adi Laweung, pihaknya telah berkunjung ke Genting Barat bersama Ketua Fraksi Partai Aceh Usman M Yusuf, Asisten II Setdakab Pidie Drs Syukri MSi, Kepala Kesbanglinmaspol Pidie Drs Yusri M Ali, pejabat Dinas Sosial, dan anggota Tagana Pidie. “Solusi penanganan bencana gelombang pasang di Genting Barat dan Genting Timur, menurut kami harus direlokasi jauh dari bibir pantai. Pembangunan break water atau pemecah ombak tidak akan menyelesaikan masalah, karena pada waktu pasang purnama besar, ketinggian ombak mencapai antara 3-4 meter, sedangkan break water atau jetty yang dapat dibangun ketinggiannya maksimal 2 meter,” kata Adi Laweung.

Wakil Ketua II Bidang Infrastruktur DPRA, Drs H Sulaiman Abda mengatakan, saran anggota DPRK Pidie itu sangat logis dan perlu segera disikapi Pemerintah Aceh, terutama intansi teknis, yaitu Bappeda, Dinas Pengairan, Bapedal, dan BMCK Aceh untuk membuat program relokasi secara terpadu.

 Pesisir utara
Di pesisir utara, gelombang besar disertai isu tsunami terjadi Jumat dini hari, sekitar pukul 02.00 WIB menyebabkan kepanikan warga Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara. Di Desa Kuala Keureuto, Kecamatan Lapang, Aceh Utara banyak warga yang jatuh ke alur sungai saat berlarian di jembatan rusak Kuala Keureuto. “Masyarakat sangat panik,” kata Keuchik Kuala Keureuto, Asnawi.

Kepanikan juga melanda warga Syamtalira Bayu, dan Seunuddon, Kemukiman Lapang. Menurut Imum Mukim Lapang, Zulkifli Kaoy, kabar akan terjadi tsunami langsung menimbulkan kepanikan, apalagi gemuruh ombak sangat keras. “Warga berlarian menuju daratan yang lebih tinggi, mencapai enam kilometer dari bibir pantai Lapang,” sebut Zulkifli. Kondisi serupa juga terjadi di Desa Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, Desa Ulee Rubek Barat, dan Desa Ulee Rubek Timu, Kecamatan Seunuddon. “Waktu itu air laut berwarna hitam pekat,” kata M Yasin (30), seorang warga Desa Ulee Rubek Barat.

 Lhokseumawe  
Pada saat hampir bersamaan, ribuan warga pesisir Lhokseumawe berhamburan ke luar rumah dan lari mencari tempat yang lebih tinggi ketika mendengar gemuruh samudera serta isu tsunami.  Tanpa pikir panjang, warga langsung menyelamatkan diri bersama anggota keluarga masing-masing. Mereka menggunakan kendaraan apa saja, bahkan ada satu sepeda motor dikendarai enam orang. Tak sedikit pula yang berlarian sambil menangis. Sebagian besar warga Lhokseumawe lari ke arah lebih tinggi seperti Cot Sabong, Cunda, termasuk ke masjid-masjid seperti Masjid Pusong, Masjid Islamic Center serta Masjid Cunda. Aparat kepolisian dibantu relawan RAPI Kota Lhokseumawe ikut berpatroli mengimbau warga kembali ke rumah masing-masing. Sekitar pukul 03.00 WIB secara berangsur-angsur warga kembali ke rumah setelah memastikan tak ada tsunami.

 Aceh Besar
Di Aceh Besar, masyarakat Kemukiman Krueng Raya, Kecamatan Mesjid Raya dilanda kepanikan akibat gelombang pasang disertai isu tsunami, Kamis (17/3) malam. Masyarakat sejumlah desa di kemukiman itu, seperti Beurandeh, Meunasah Mon, Meunasah Kulam, dan Meunasah Keudee dilaporkan banyak yang lari ke gunung. “Banyak yang panik karena ada isu tsunami,” lapor seorang warga Krueng Raya melalui layanan pesan singkat, pukul 23.30 WIB, Kamis (17/3). Seorang relawan RAPI Aceh, H Aswin Hasibuan (JZ01BH) yang memantau kondisi di Krueng Raya malam itu mengatakan, gelombang pasang menerobos jauh ke daratan karena bibir pantai semakin landai akibat hantaman gelombang musim timur. “Dalam catatan saya peristiwa kali ini termasuk salah satu yang terbesar setelah musibah tsunami 2004. Bahkan air laut sempat menggenangi areal dermaga (pelabuhan) Krueng Raya,” kata Aswin.

Wakil Sekjen Panglima Laot Aceh, Miftach menginformasikan, menurut laporan sementara yang diterimanya gelombang pasang kali ini melanda pesisir Aceh Besar (Krueng Raya, Lampanah Leungah, dan Lhoong), Pidie (Laweung, Kuala Tari, dan Pasi Lhok), kawasan pesisir Lhokseumawe, dan Bireuen. “Nelayan diminta berhati-hati melaut dalam kondisi seperti sekarang,” imbaunya.(yus/naz/c38/her/c43/c46/c37/bah/nas/sup)
http://aceh.tribunnews.com/news/view/51898/teriakan-tsunami-renggut-dua-nyawa

 


Translate Web Ke Bahasa :

Kunjungan

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday577
mod_vvisit_counterYesterday1045
mod_vvisit_counterThis week3425
mod_vvisit_counterLast week7008
mod_vvisit_counterThis month27621
mod_vvisit_counterLast month38113
mod_vvisit_counterAll days586835

Online (20 minutes ago): 22
Your IP: 38.107.179.226
,
Today: Mei 24, 2012