|
GENAP sudah enam tahun, gempa dan stunami dasyat itu terjadi, peringatan dibuat setiap tahun dengan intensitas yang semakin lama semakin kecil kuantitas maupun kualitasnya.
Tsunami Materialistik Oleh Teuku Ahmad Dadek - Opini Tue, Dec 28th 2010, 09:29
GENAP sudah enam tahun, gempa dan stunami dasyat itu terjadi, peringatan dibuat setiap tahun dengan intensitas yang semakin lama semakin kecil kuantitas maupun kualitasnya. Bentuknya pun semakin tak jelas, monumen tsunami yang ada di Banda Aceh, tak lebih dari sebuah monumen modern yang tak memberikan rasa getar realita.
Kalau anda mau mengenang tsunami di Aceh tak layak datang ke monumen itu, sebab dalam monumen itu hanya ada sebuah rekayasa filosofis dan hanya foto dan cinema kecil yang bercerita sedikit tentang stunami, selebihnya ada sebuah ketidakpahaman budaya dan peristiwa. Lebih layaknya kita pergi ke bekas puing rumah sakit di Meuraxa atau ke Kapal Apung, namun kedua tempat itu tidak secara sistematis disiapkan menjadi sebuah memorial, dan terlalu realita.
Sebuah peringatan ibarat sebuah “baterai” guna memompa kembali kenangan masa lalu untuk menjadi “pengalaman” di masa yang akan datang. Demikian juga dengan peringatan tsunami, kilas balik yang membawa kita kembali mengenang hiruk-pikuk, langkah, strategi dan nilai kemanusiaan yang harus diambil dan yang harus kita tinggalkan untuk melanjutkan hidup ini. Ajang belajar betapa konyolnya kebijakan yang diambil dalam menyelesaikan tsunami, betapa terbatasnya kebijakan tersebut diambil, pernahkah anda membayangkan jika Banda Aceh, Meulaboh, dan Calang umpamanya diterjang kembali oleh tsunami 10, 100 atau 1000 tahun yang akan datang, adakah kita mampu bertahan lebih baik dari tahun 2004 ataukah kita akan kembali seperti kondisi tahun 2004, akankah kita dibantu seperti enam tahun yang lalu, dengan rumah gratis dan hal-hal gratis lainnya.
Ada hal menarik yang perlu kita amati bahwa gempa dan tsunami bagi orang Aceh dan bagi manusia pada umumnya adalah sebuah cakrawala humanis yang sangat indah untuk dikenang. Seorang anggota LSM dari Amerika mengatakan kepada saya, LSM-nya pada hari pertama telah dipercayakan dana senilai Rp 1,5 triliun dari recehan para penyumbang disebabkan bencana gempa dan tsunami tersebut, jumlah dana yang fantatis. Gempa dan tsunami 2004 telah menggetarkan nilai humanisme kemanusiaan dalam rentang sejarah sampai hari ini, peristiwa yang telah menggejolakan humanisme bangsa di dunia ini dengan melintasi teologi bahkan permusuhan.
Masih segar dalam ingatan kita bagaimana proses damai Aceh dan Indonesia yang sebelum tsunami sudah dirancang namun belum ketemu, dapat dibantu pertemuannya oleh gempa dan tsunami tersebut.
Tsunami juga telah mem-blinded pikiran orang Aceh untuk lebih toleran? Lihat sekarang banyak lembaga-lembaga pendidikan non muslim telah dijadikan pilihan untuk pendidikan anak, bahkan masih usia dini, dulu orang tua Muhammadiyah melarang anaknya untuk pergi ke tempat ilmu dan masjid yang dikelola NU, demikian juga sebaliknya, tetapi sekarang lebih toleran dengan memanfaatkan lembaga pendidikan yang tidak berbasis Islam bahkan jelas-jelas non muslim, anak-anak yang masih putih itu dengan sadar dan dengan pilihan dibentuk. Kasus “murtad” dan kasus status agama di Aceh Barat, sebuah indikasi bahwa Aceh semakin longgar dengan nilai-nilai yang tidak populer.
Humanisme Harun Yahya seorang cendekiawan muslim mendefinisikan “Humanisme” sebagai sebuah gagasan positif oleh kebanyakan orang. Humanis mengingatkan kita akan gagasan-gagasan seperti kecintaan akan peri kemanusiaan, perdamaian, dan persaudaraan. Tetapi, makna filosofis dari humanisme jauh lebih signifikan: humanisme adalah cara berpikir bahwa mengemukakan konsep peri kemanusiaan sebagai fokus dan satu-satunya tujuan.
Dengan kata lain, humanisme mengajak manusia berpaling dari Tuhan yang menciptakan mereka, dan hanya mementingkan keberadaan dan identitas mereka sendiri. Kamus umum mendefinisikan humanisme sebagai “sebuah sistem pemikiran yang berdasarkan pada berbagai nilai, karakteristik, dan tindak tanduk yang dipercaya terbaik bagi manusia, bukannya pada otoritas supranatural mana pun”
Adakah terjadi pergeseran semangat teologi orang Aceh oleh humanisme yang ada? Sebuah pertanyaan yang menarik untuk dikaji. Masih segar dalam ingatan kita bahwa Teologi Islam di Aceh pada saat gempa dan tsunami telah memainkan peran sangat signifikan. Semangat teologi telah dapat meminimalkan keguncangan jiwa-nasib para korban tsunami. Kendatipun ada yang sangat terguncang, karena teologi gagal berperan bermain kepada seorang hamba, namun secara umum Teologi Islam telah berhasil menentramkan keliaran prsepsi orang Aceh akan peran Tuhan dalam kehidupannya. Kata “ambil hikmahnya”, “mereka mati syahid”, “ada sesuatu kebaikan yang diinginkan Tuhan”, adalah sebuah kenyataan bahwa Teologi Islam telah berkontribusi besar dalam menentramkan hati dan presepsi akan bencana kehilangan jiwa dan materi yang dialami orang Aceh.
Namun, kemudian, teologi tersebut, diwarnai humanisme dari berbagai negara dengan “umpan” uang yang jumlahnya sangat fantatis, akibatnya uang yang beredar di Aceh luar biasa. Dalam sejarahnya, hanya di Aceh kegiatan kemanusiaan yang digaji gila-gilaan, sebuah humanisme yang berujung kepada materialisme yang tak terkendali dan terukur. Berbagai proyek dan kegiatan dibuat salah satunya adalah cash for work, semacam padat karya, namun ia lebih merupakan gotong royong yang dibayar. Cash untuk bekerja ini telah memberikan pengaruh yang besar sampai dengan hari ini di Aceh wilayah tsunami, tak mudah sekarang mengajak orang untuk bergotong royong di Aceh, sebab mereka sudah terbiasa dibayar waktu bekerja saat LSM internasional bekerja disini.
Dengan demikian, teologi, digeser oleh humanisme dan humanisme digeser oleh materialisme. Ketiga tahapan ini, telah berperan di Aceh pascatsunami sesuai dengan kondisi batin dan situasi riil dan pemberlakuannya bukan bersifat dikotomi, tetapi lebih kepada dominasi. Pertanyaannya, apa yang lebih dominan sekarang setelah enam tahun peristiwa tersebut? Teologikah, humanismekah atau materialismekah?
Pemberlakuan Syariat Islam adalah salah satu upaya dari realitas dominasi teologi itu, namun dalam perjalanannya, penentangan dan ketidaksukaan yang ditunjukan dengan penghujatan telah menunjukan kepada kita bahwa humanisme mencoba menghajar teologi tersebut.
Semangat teologi dan humanisme pascastunami itu, dalam waktu yang sangat cepat digantikan dengan semangat materialisme. Ingatkah saudara bagaimana kejadian korban tsunami yang menumpang di rumah besar, dan mereka harus segera angkat kaki, karena si empunya rumah tergiur dengan harga sewa yang melambung, bantuan keuangan yang digunakan untuk konsumtif adalah serangkaian peristiwa materialistik yang mewarnai Aceh.
Orang Aceh sangat invidu, tak bisa berkelompok, walaupun Aceh memiliki Aceh Kongsi, namun proses pemberdayaan ekonomi di Aceh membuktikan mengalami kegagalan ketika mereka harus berkongsi. Lihatlah usaha nelayan yang mengharuskan satu boat diterima empat orang, setelah boat diterima pengalihan terjadi.
Setelah enam tahun berlalu, adakah kita duduk dalam posisi yang lebih teologis, humanis, atau materialis? Adakah kita telah menjadi lebih ikhlas, ria atau hubbuddunya?
* Penulis adalah Kasatpol PP dan WH Aceh Barat. http://aceh.tribunnews.com/news/view/45597/tsunami-materialistik |