Poll

busyLoading Poll...
busyLoading Poll...

Berlangganan Artikel Baru

Name:
Email:

Login Box

Login

Don't You have account?

Sign Up

Facebook Like Button

Update Berita

Perkebunan Karet Hak Guna Usaha PT.SIR Terindikasi Telah Ditelantarkan, Perlu Segera DiCabut / dihapus Sesuai PP No 11 Thn 2010 Tentang Penertiban & Pendayagunaan Tanah Terlantar, Perlu Segera Tindakan Dari Kakanwil BPN Provinsi Aceh untuk Ditertipkan oleh PANITIA C sebagai tim indetifikasi tanah terlantar merujuk pada Perkbn no 4 thn 2010 tata cara penertiban tanah terlantar
Filosofi Peringatan Tsunami

WAKTU berjalan begitu cepat, tanpa kita sadari 26 Desember 2010 ini, kita sudah berada di tahun ke-6 sejak peristiwa gempa dan tsunami berkekuatan 8,9 skala richter melanda Aceh. Setiap tahun, Aceh terus memperingati peristiwa dahysat itu sebagai bentuk renungan tragedi kemanusiaan yang pernah menimpa bumi Serambi Mekkah.

Filosofi Peringatan Tsunami

Oleh Rahmadhani - Opini  Thu, Dec 23rd 2010, 09:42

WAKTU berjalan begitu cepat, tanpa kita sadari 26 Desember 2010 ini, kita sudah berada di tahun ke-6 sejak peristiwa gempa dan tsunami berkekuatan 8,9 skala richter melanda Aceh. Setiap tahun, Aceh terus memperingati peristiwa dahysat itu sebagai bentuk renungan tragedi kemanusiaan yang pernah menimpa bumi Serambi Mekkah.

Puncak peringatan tsunami yang ke-6 dengan tema “Renungan Bencana Gempa dan Tsunami Aceh Menjadi Momentum Kebangkitan kembali Masyarakat Aceh Menuju Kehidupan yang Lebih Baik dan Bermartabat” direncanakan mengambil tempat di Komplek Pelabuhan Ulee Lheu, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh dengan agenda utama meliputi renungan dan zikir, salawat badar, tausyiah tsunami dan pembacaan doa bersama serta berbagai kegiatan religius lainnya.

Peringatan tsunami tersebut diharapkan menjadi momentum penting untuk selalu mengingat kembali bencana besar yang pernah menimpa Aceh, mengenang orang-orang yang dicintai yang menjadi korban bencana, introspeksi diri dan semangat untuk bangkit serta mendukung pembangunan Aceh kembali, mengevaluasi pembangunan Aceh pasca-rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh menuju kehidupan masyarakat Aceh yang lebih baik, makmur, sejahtera dan bermartabat dan menjadikan Aceh melalui peringatan tsunami setiap tahunnya sebagai daerah tujuan wisata spiritual melalui promosi objek wisata tsunami “Tsunami Heritage”, wisata alam, budaya, dan wisata unggulan lainnya.

Peristiwa yang sangat menyedihkan dalam peradaban manusia modern ini telah menghancurkan berbagai sarana dan prasarana masyarakat dengan kerugian yang tidak terhitung jumlahnya, sekaligus merenggut ratusan ribu korban jiwa dengan meninggalkan trauma psikologis yang mendalam. Tragedi besar ini sudah seharusnya menyadarkan masyarkat Aceh, betapa kecil dan tidak berdayanya kita sebagai makhluk di hadapan ke-Mahakuasa-an Allah swt.

Tragedi kemanusiaan yang telah menggetarkan dunia ini tidak hanya menyebabkan kehancuran pada berbagai sendi kehidupan masyarakat Aceh, namun yang lebih menyedihkan dan memilukan hati kita semua adalah ratusan ribu nyawa yang telah menjadi korban tsunami merupakan saudara-saudara dan anggota keluarga kita yang terlebih menghadap Khaliknya.

Konflik dan bencana tsunami yang telah menghancurkan hampir seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat Aceh tidak seharusnya dirasakan sebagai “malapetaka”, sehingga masyarakat Aceh larut dalam kesedihan, kehilangan, dan keterpurukan. Sebaliknya, malapetaka yang telah terjadi enam tahun lalu itu dapat diubah menjadi peluang dalam rangka mencapai kemajuan masa depan “Aneuk Nanggroe” untuk hidup lebih sejahtera, damai, dan bermartabat.

 Filosofis
Masyarakat Aceh perlu membangun keikhlasan dan komitmen bersama bahwa filosofis peringatan tsunami ini tidak dipandang semata-mata hanya untuk berkumpul, mengenang, dan berakhir dengan “kenduri” makan siang bersama. Namun, lebih daripada itu selayaknya menjadi momentum penting dan strategis untuk terus melahirkan perilaku yang positif dan dinamis, sekaligus menciptakan berbagai perubahan  untuk lebih creative, innovative dan responsive terhadap upaya pembangunan Aceh ke arah yang lebih baik dan bermartabat.

Berbagai bencana alam yang terjadi silih berganti di berbagai wilayah Indonesia, maupun di berbagai belahan dunia lainnya pada akhir-akhir ini, seperti gempa dan tsunami di Mentawai Sumatera Barat, Banjir Wasior di Papua Barat, letusan Gunung berapi di Jogja, gempa di Haiti, banjir di Cina, telah menggugah kita untuk terus membangun kewaspadaan dan solidaritas kemanusiaan untuk saling membantu meringankan beban saudara-saudara kita, sebagaimana masyarakat dunia pernah lakukan kepada Aceh di saat negeri berada dalam keprihatinan dan keterpurukan.

Peringatan enam tahun tsunami dapat menjadi media yang efektif untuk mengenang kembali bencana besar yang pernah menimpa Aceh dengan berbagai dampak yang ditimbulkan, sekaligus membangun kesadaran dan motivasi masyarakat terhadap upaya kesiap-siagaan dalam rangka mengurangi risiko bencana “Disaster Risk Reduction”.

Sebagai masyarakat Aceh yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman dan adat istiadat, rakyat Aceh perlu menyampaikan apreasiasi dan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mensukseskan peringatan tsunami Aceh setiap tahunnya, sekaligus ucapan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah, masyarakat internasional melalui NGO, lembaga-lembaga negara donor dan masyarakat umumnya yang telah mendukung “Pembangunan Aceh Kembali” melalui Proses Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh pasca bencana dan konflik.

Mengenang enam tahun tsunami, jajaran Pemerintah Daerah dan juga kalangan dunia usaha pariwisata kiranya dapat mengambil peluang yang sebesar-besarnya atas peristiwa ini dengan menjadikan Aceh sebagai daerah tujuan wisata spiritual dengan segala keindahan alam dan budaya serta objek wisata unggulan lainnya, seperti kemegahan Museum Tsunami Aceh, kapal PLTD Apung, kuburan massal, dan objek wisata lainnya.

Wisata spiritual tsunami diharapkan akan menjadi salah satu icon pariwisata Aceh dalam upaya mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat dan penciptaaan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat melalui pengembangan sektor pariwisata daerah sesuai dengan nilai-nilai adat-istiadat dan budaya Aceh, sekaligus perlu mengurangi berbagai “daya tolak” yang secara terus-menerus menguras energi kita bersama yang pada akhirnya juga secara terus menerus menjadi hambatan bagi kemajuan pariwisata Aceh.

Mari mengambil hikmah atas bencana yang telah menimpa kita semua. Mari semua berserahdiri kepada Allah swt dengan melakukan doa bersama yang ditujukan kepada para Syuhada yang terlebih dahulu meninggalkan kita. Amin.

* Penulis adalah Plt. Kabid Pemasaran Disbudpar Aceh. Alumnus Postgraduate Manajemen Pariwisata Victoria University of Technology, Melbourne.
http://aceh.tribunnews.com/news/view/45302/filosofi-peringatan-tsunami

 


Translate Web Ke Bahasa :

Kunjungan

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday571
mod_vvisit_counterYesterday1045
mod_vvisit_counterThis week3419
mod_vvisit_counterLast week7008
mod_vvisit_counterThis month27615
mod_vvisit_counterLast month38113
mod_vvisit_counterAll days586829

Online (20 minutes ago): 18
Your IP: 38.107.179.228
,
Today: Mei 24, 2012