|
BANDA ACEH - Ruas jalan Tangse-Geumpang, sejak Jumat (25/3) sudah bisa dilalui truk colt maupun minibus L-300. Begitupun, untuk penanganan lanjutan jalan tersebut dibutuhkan anggaran sedikitnya Rp 55 miliar.
Jalur Geumpang-Tangse Sudah Bisa Dilalui Truk
* Penanganan Lanjutan Butuh Rp 55 M Utama Tue, Mar 29th 2011, 10:17
Ruas badan jalan Tangse-Gempang yang amblas ke sungai Krueng Meria, Tangse Pidie, mulai Jumat (25/3) lalu sudah bisa dilalui kendaraan roda empat. FOTO/IST BANDA ACEH - Ruas jalan Tangse-Geumpang, sejak Jumat (25/3) sudah bisa dilalui truk colt maupun minibus L-300. Begitupun, untuk penanganan lanjutan jalan tersebut dibutuhkan anggaran sedikitnya Rp 55 miliar.
Hal itu dikatakan Kepala Dinas Bina Marga dan Cipta Karta (Kadis BMCK) Aceh, Dr Muhyan Yunan kepada Serambi, Senin (28/3) di Kantor Bappeda Aceh di sela-sela acara Pramusrenbang Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA) untuk penyusunan program RAPBA/APBN 2012.
Kebutuhan anggaran sebanyak itu, sebut Muhyan, pertama akan digunakan untuk pembangunan beronjong di pinggir dasar Sungai Meriam sebagai penanganan tanggap darurat sebesar Rp 25 miliar. Kedua, untuk penanganan ruas badan jalan yang sudah kritis atau untuk pelebaran badan jalan yang sudah sempit Rp 20 miliar. Ketiga, untuk pengaspalan atau membuat badan jalan agar kembali seperti kondisi semula, butuh dana Rp 10 miliar.
“Kebutuhan anggaran ini telah diusul Gubernur Aceh kepada Kementerian Pekerjaan Umum. Sementara, pemerintah pusat telah menyatakan akan bantu menalangi dana untuk pekerjaan tanggap daruratnya lebih dulu sebesar Rp 29 miliar,” ujar Muhyan didampingi Kasatker Jalan Nasional Wilayah II Aceh, Ir Hilal MT.
Dari 12 titik badan jalan yang longsor dan amblas ke dasar sungai itu, ungkap Muhyan, ada lima sampai enam titik lokasi yang badan jalannya putus total lantaran amblas ke dasar Krueng Meriam. Badan jalan itu amblas, akibat gerusan air bah yang turun dari hulu Krueng Meriam pada saat terjadi banjir bandang di Tangse, Pidie, Kamis (10/3) malam.
Sedangkan di tujuh titik lokasi lagi, ada yang sudah separuh amblas ke dasar sungai, di samping ada juga yang cuma tertimbun tanah saja badan jalannya. Lima titik lokasi badan jalan yang amblas ke dasar sungai itu meliputi badan jalan di Km 53, Km 53,7, Km 56,3, Km 57,2 dan Km 60,5.
Lima sampai enam titik badan jalan yang putus total itu, ungkap Hilal, sejak Jumat (25/3) pekan kemarin, sudah dibuat kembali badan jalannya yang baru, sehingga sejak itu ruas jalan Tangse-Geumpang sudah bisa dilalui truk barang ukuran sedang dan minibus L-300. Suplai barang dari Beureunun ke Geumpang sudah kembali lancar.
Kendati ruas jalan itu sudah bisa dilintasi truk barang, tapi kata Hilal, bukan untuk truk barang yang berbobot di atas 20 ton, melainkan 10 ton. Alasannya, kondisi badan jalan yang baru dibuat masih labil dan belum mampu menahan beban di atas 20 ton.
Untuk memasukkan dan melewatkan alat berat ke lokasi badan jalan yang baru dibuat, truk yang mengangkut alat berat harusnya berjalan ekstrahati-hati.
Setelah badan jalan yang putus dibuat kembali dengan cara mengeruk tebing bukit dan batu gunung, penanganan selanjutnya agar badan jalan yang baru dibuka itu tidak amblas lagi ke dasar Krueng Meriam, maka pada pinggir dasar tebing sungai harus dibangun beronjong. Tujuannya, untuk menahan badan jalan jangan sampai longsor dan amblas kembali ke dasar sungai.
Ketinggian jurang antara badan jalan dengan dasar sungai, sebut Hilal, 50-100 m, dan ini harus dilakukan dengan cara yang benar, agar badan jalan yang baru dibuka bisa bertahan lama.
Masalah yang dihadapi Dinas BMCK Aceh saat ini, menurutnya, untuk pemasangan batu beronjong di pinggir dasar Krueng Meriam, sedang dicari kontraktor yang mau mengerjakan proyek itu dengan uangnya lebih dulu. Dan ini bukan perkara gampang. Kontraktor di Aceh memang banyak, tapi yang bonafide atau yang punya deposit uang di bank cukup besar, sangat sedikit.
Apalagi, pembayaran penanganan paket proyek tanggap darurat itu tidak seperti paket proyek fisik normal. Paket proyek tanggap darurat, dikerjakan dulu, kemudian dihitung pekerjaannya apa sudah sesuai spek dan volumenya atau belum, barulah setelah itu diusulkan pembayarannya. Pengusulannya juga butuh waktu tiga sampai enam bulan. “Kondisi ini yang membuat banyak rekanan mundur dari pekerjaan tanggap darurat,” ujarnya.
Untuk kelanjutan penanganan paket proyek tanggap darurat perbaikan ruas badan jalan Tangse-Geumpang mulai dari Km 43-Km 61, Dinas BMCK akan mencari kontraktor yang bonafide dan yang mampu menangani badan jalan itu dengan benar sesuai dengan teknis penanganan pekerjaan badan jalan yang benar.
Tujuannya, kata Hilal, supaya anggaran yang telah teralokasikan dalam jumlah besar, hasil kerjanya bisa bertahan lama dan tidak menjadi temuan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan pihak penyidik di kemudian hari lantaran dikerjakan sembarangan dan tidak sesuai dengan spesifikasi teknisnya.
“Oleh karena itu, untuk mendesain badan jalannya kita butuh konsultan yang ahli dalam pembuatan perencanaan penanganan badan jalan di daerah perbukitan dan pegunungan yang curam dan sangat rawan longsor,” ujar Hilal. (her) http://aceh.tribunnews.com/news/view/52671/jalur-geumpang-tangse-sudah-bisa-dilalui-truk |