Poll

busyLoading Poll...
busyLoading Poll...

Berlangganan Artikel Baru

Name:
Email:

Login Box

Login

Don't You have account?

Sign Up

Facebook Like Button

Update Berita

Perkebunan Karet Hak Guna Usaha PT.SIR Terindikasi Telah Ditelantarkan, Perlu Segera DiCabut / dihapus Sesuai PP No 11 Thn 2010 Tentang Penertiban & Pendayagunaan Tanah Terlantar, Perlu Segera Tindakan Dari Kakanwil BPN Provinsi Aceh untuk Ditertipkan oleh PANITIA C sebagai tim indetifikasi tanah terlantar merujuk pada Perkbn no 4 thn 2010 tata cara penertiban tanah terlantar
Posko Induk Umumkan Semua Identitas Korban Tewas

BANDA ACEH - Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf mengatakan, musibah banjir bandang Tangse memungkinkan ditingkatkan statusnya menjadi bencana provinsi mengingat dampaknya bukan hanya terhadap Kabupaten Pidie tetapi juga berimplikasi terhadap Aceh Barat, Aceh Jaya, Nagan Raya, dan beberapa wilayah lainnya.

Musibah Tangse Memungkinkan Berstatus Bencana Provinsi

* Posko Induk Umumkan Semua Identitas Korban Tewas
Utama. Thu, Mar 17th 2011, 10:13

BANDA ACEH - Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf mengatakan, musibah banjir bandang Tangse memungkinkan ditingkatkan statusnya menjadi bencana provinsi mengingat dampaknya bukan hanya terhadap Kabupaten Pidie tetapi juga berimplikasi terhadap Aceh Barat, Aceh Jaya, Nagan Raya, dan beberapa wilayah lainnya.

“Sangat memungkinkan ditingkatkan statusnya menjadi bencana provinsi. Namun perlu terlebih dahulu dilakukan penghitungan cermat mengenai dampak sosial bencana serta tingkat kemampuan Pemkab Pidie menanganinya. Silakan saja Pemkab Pidie mengusul peningkatan status bencana banjir bandang itu ke provinsi, kita akan pertimbangkan sesuai ketentuan yang berlaku,” kata Irwandi.

Penegasan itu disampaikan Gubernur Irwandi dalam rapat evaluasi penanganan ekses banjir Tangse, di Ruang Rapat Gubernur Aceh, Rabu (16/3) setelah mendengarkan laporan tingkat kerusakan dan kemajuan penanganan pascabencana dari SKPA.

Menurut Irwandi, terkait laporan masih ada kawasan terisolir (seperti Gampong Blang Pandak), karena belum bisa ditembus melalui jalur darat, Irwandi meminta agar Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) bersama instansi terkait lainnya segera membuka akses ke lokasi terisolir itu. BPBA dan Dinas Sosial diminta terus memantau dan memastikan tidak ada kekurangan logistik, baik di titik terisolir maupun titik-titik lainnya di zona bencana. Gubernur juga meminta seluruh instansi terkait terus meningkatkan koordinasi dalam penanganan musibah tersebut. “Pastikan tidak ada tugas-tugas yang terbengkalai. SKPA terkait segera mencari jalan keluar agar para pengungsi tidak terlalu lama di tenda,” tandas Irwandi.

Terkait dengan pembangunan rumah warga yang rusak akibat banjir bandang, karena keterbatasan APBK Pidie dan APBA, Gubernur Irwandi meminta Dinas Sosial Aceh berkoordinasi dengan pemerintah pusat, baik melalui Departemen Sosial maupun Menko Kesra.

Gubernur juga menanggapi laporan dari Dinas Pertambangan dan Energi Aceh mengenai beberapa titik di Tangse yang karena faktor geologi sangat memungkinkan terjadi longsor di masa-masa yang akan datang. Terhadap ini Gubernur menyatakan bisa saja rumah masyarakat di titik rawan longsor itu direlokasi tetapi semua harus dilakukan dengan penuh pertimbangan.

Kadis Sosial Aceh, Nasir Gurumud melaporkan, data sementara korban meninggal akibat bencana banjir bandang Tangse sebanyak 11 orang, 311 rumah rusak berat, 163 rusak ringan, pengungsi 1.847 jiwa, dan dampak bencana dirasakan 11.176 jiwa.

Sedangkan pembersihan jalan dan daerah aliran sungai (DAS), menurut Kadis BMCK dan Kadis Pengairan Aceh, terus dikerjakan. Gubernur juga memerintahkan kedua dinas tersebut agar setelah jalan dan DAS bersih seluruh alat berat dialihkan untuk membersihkan sawah dan kebun rakyat.

Kabag Humas Pemerintah Aceh, Usamah el-Madny melaporkan, untuk memastikan efektifitas penanganan ekses banjir bandang Tangse, Gubernur Aceh beserta segenap jajaran SKPA terkait akan kembali ke kawasan itu, hari ini, Kamis (17/3). “Kami juga mendapat informasi anggota DPR RI dari Komisi VIII juga akan berkunjung ke Tangse,” kata Usamah.

Korban tewas
Setelah sempat terjadi kesimpangsiuran informasi tentang jumlah korban yang meninggal akibat banjir bandang di Tangse, akhirnya Posko Induk Kabupaten Pidie, Rabu (16/3) memastikan bahwa yang meninggal hanya sebelas orang. Begitupun, masih ada satu korban lagi, yakni Syibran Mustafa (6), warga Desa Peunalom I, yang dilaporkan hilang

Ketua Penanggulangan Bencana Alam Pidie, Nazir Adam SE MM didampingi Koordinator Posko Induk, M Iriawan SE kepada Serambi, Rabu (16/3) mengatakan, di luar sebelas korban yang meninggal dan satu masih hilang, tercatat dua korban mengalami luka berat. Mereka adalah Nurul Husna (5), warga Ranto Panyang dan Maulina S (14), warga Desa Rantau Panyang. “Keduanya saat ini dirawat di RSU Sigli,” kata Nazir yang juga Wakil Bupati Pidie.

Jasad Hendra
Dari 11 korban tewas tersebut, jasad Hendra Mandala Saputra merupakan yang terakhir ditemukan. Mayat Hendra ditemukan  Selasa (15/3) siang di Krueng Gampong Geupee, Geumpang setelah terseret arus sepajang 19 kilometer. Hendra tercatat sebagai mahasiswa semester V Fakultas Teknik Komputer pada Universitas Jabal Ghafur (Unigha) Sigli.

Selama kuliah d Unigha, Hendra tinggal di rumah pakciknya, Armiya, di Gampong Krueng, Kecamatan Kota Sigli, Pidie. “Saat kejadian, Hendra pulang kampung menghadiri perayaan maulid sekaligus untuk menghabiskan masa liburan kuliah,” sebut ibu kandungnya, Hasni (44), didampingi sang suami, Marbawi (45), kepada Serambi, Selasa malam.

Pada saat banjir menerjang, Kamis (10/3) malam, Hendra sedang menemani neneknya, Hj Rukiah (64) di warung kelontong, persis di pinggir Sungai Tangse. Saat itu, cucu dan nenek sedang membereskan sejumlah barang untuk dinaikkan ke tempat yang lebih tinggi agar tak digenangi air. Soalnya, banjir mulai mencapai perkarangan rumah dan jalan di desa itu.

Namun, tanpa diduga gemuruh air makin dahsyat dan mulai bergelombang. “Kami langsung menyelamatkan diri ke bukit. Tapi Hendra terseret arus,” kenang sang ibu.

Darmawan, Koordinator Evakuasi dari Tim Gabungan PMI, Tagana, dan SAR mengatakan, evakuasi jasad korban Hendra Saputra butuh waktu 28 jam, karena kondisi medan sangat terjal dengan kemiringan 70 derajat. “Empat bukit terjal yang harus kami lintasi sejauh 50 kilometer dengan posisi memutar, barulah kami tiba di rumah duka pada Selasa malam sekira pukul 21.00 WIB,” jelas Darmawan.

Belum tembus
Laporan lain yang diperoleh Serambi menyebutkan, hingga Rabu (16/3) atau hari keenam pascamusibah Tangse, upaya membebaskan Blang Pandak dari isolasi dengan cara membuka jalur jalan baru belum berhasil.

Seorang relawan komunikasi dari organisasi Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Aceh, Riza Iskandar (JZ01BZZ) dari lokasi bencana menginformasikan, hingga Rabu sore kemarin alat berat terus bekerja untuk menembus Blang Pandak dengan membuka badan jalan baru. Namun pekerjaan itu tidak mudah karena bakal jalan yang dikeruk dengan membelah bukit sering longsor, seperti yang terjadi pada Rabu (16/3) sore. (naz/c43/nas)
http://aceh.tribunnews.com/news/view/51756/musibah-tangse-memungkinkan-berstatus-bencana-provinsi

 


Translate Web Ke Bahasa :

Kunjungan

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday564
mod_vvisit_counterYesterday1045
mod_vvisit_counterThis week3412
mod_vvisit_counterLast week7008
mod_vvisit_counterThis month27608
mod_vvisit_counterLast month38113
mod_vvisit_counterAll days586822

Online (20 minutes ago): 20
Your IP: 38.107.179.230
,
Today: Mei 24, 2012