Poll

busyLoading Poll...
busyLoading Poll...

Berlangganan Artikel Baru

Name:
Email:

Login Box

Login

Don't You have account?

Sign Up

Facebook Like Button

Update Berita

Perkebunan Karet Hak Guna Usaha PT.SIR Terindikasi Telah Ditelantarkan, Perlu Segera DiCabut / dihapus Sesuai PP No 11 Thn 2010 Tentang Penertiban & Pendayagunaan Tanah Terlantar, Perlu Segera Tindakan Dari Kakanwil BPN Provinsi Aceh untuk Ditertipkan oleh PANITIA C sebagai tim indetifikasi tanah terlantar merujuk pada Perkbn no 4 thn 2010 tata cara penertiban tanah terlantar
Dampak Banjir Tangse 10 Irigasi Hancur, Banyak Sawah tak Bisa Ditanami

SIGLI – Pada hari ketujuh sejak banjir bandang melanda Kecamatan Tangse, Pidie, Kamis (10/3) malam, makin terdata lengkap jumlah korban dan kerugian fisik. Misalnya, mulai terungkap bahwa sepuluh irigasi porak-poranda akibat banjir tersebut dan ratusan hektare sawah kini tak bisa lagi ditanami.

Dampak Banjir Tangse 10 Irigasi Hancur, Banyak Sawah tak Bisa Ditanami
* Korban Minta Rumah pada Gubernur
Utama. Fri, Mar 18th 2011, 10:35

Fatimah (60), warga Desa Peunalom I, Kecamatan Tangse, Pidie, Kamis (17/3) berdoa seusai melaksanakan shalat di samping rumahnya yang hancur akibat banjir bandang. Dia bersama keluarganya selamat dari bencana yang terjadi 10 Maret 2011 lalu, namun rumah dan harta bendanya tak dapat diselamatkan. SERAMBI/BEDU SAINI
SIGLI – Pada hari ketujuh sejak banjir bandang melanda Kecamatan Tangse, Pidie, Kamis (10/3) malam, makin terdata lengkap jumlah korban dan kerugian fisik. Misalnya, mulai terungkap bahwa sepuluh irigasi porak-poranda akibat banjir tersebut dan ratusan hektare sawah kini tak bisa lagi ditanami.

Sementara itu, ratusan korban banjir yang berdialog dengan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, Kamis (17/3) kemarin di Desa Peunalon I dan II, Tangse, meminta segera dibangunkan rumah, karena itu yang paling mereka butuhkan saat ini.

“Kalau untuk stok makanan dan obat-obatan serta pakaian sudah sangat mencukupi. Tapi, yang sangat kami butuhkan saat ini adalah rumah,” ujar Nur dan Aisyah, keduanya korban banjir, kepada Gubernur Irwandi di Desa Peunalon I dalam kunjungan keduanya ke desa itu, kemarin. Sebelumnya, Irwandi berkunjung ke Tangse pada Jumat (11/3) sore, sehari setelah banjir bandang melanda.

Permohonan agar segera dibangunkan rumah juga dilontarkan Habibah dan Nyak Neh, korban banjir di Desa Peunalom II. Menyikapi permintaan korban banjir tersebut, Irwandi mengatakan, rumah bagi korban banjir tetap akan dibangun. Tapi, tidak bisa dilakukan segera, karena anggarannya perlu disediakan lebih dulu.

Menurut Irwandi, kunjungannya ke desa-desa yang dilanda banjir bandang di Kecamatan Tangse untuk kedua kalinya bersama sejumlah kepala SKPA itu adalah untuk mengevaluasi penanganan tanggap darurat yang dilakukan Tim Pemerintah Aceh bersama Pemkab Pidie dan instansi lainnya. Apakah sudah memenuhi standar operasi dan telah memuaskan korban banjir atau belum.

“Hasil evaluasi kami dan dari hasil kunjungan ke desa yang dilanda banjir bandang, seperti Peulanom I dan II, Layan, Blang Dalam, Blang Pandak, dan lainnya, korban banjir melaporkan penanganan tanggap darurat yang dilakukan Tim Pemerintah Aceh, Pemkab Pidie, TNI, Polri, KPA, parpol, lembaga serta organisasi sosial lainnya, sangat baik.”

Untuk itu, Gubernur Irwandi secara pribadi maupun atas nama Pemerintah Aceh mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atau tim, termasuk PLN, yang telah memberikan bantuan kemanusiaannya untuk pengungsi korban banjir Tangse selama seminggu terakhir.

10 Irigasi rusak
Kadis Pengairan Aceh, Eko Slamet Poerwadi yang ikut dalam rombongan Gubernur Aceh kemarin mengatakan, akibat banjir bandang di Tangse, sepuluh bendungan dan 6,5 jaringan irigasi rusak. Selain itu, 15 km tebing Krueng Pucuk dan Baleu rusak. Imbasnya, rusak pula bendungan irigasi desa di aliran sungai itu. Alhasil, ratusan hektare sawah irigasi semiteknis kini tak bisa lagi ditanami padi dua kali dalam setahun. “Maka harus dialihkan ke tanaman palawija,” ujarnya.

Sementara itu, Dinkes Aceh bersama tim dokter Yayasan Sambinoe setiap harinya melayani pengobatan sekitar 200 korban banjir di posko induk kesehatan maupun di pos-pos kesehatan yang dibuka di tempat pengungsian. Dilakukan pula penyemprotan lingkungan untuk pembasmian nyamuk malaria, aedes aegyptie, dan lalat.

Wakil Bupati Pidie, Nazir Adam melaporkan, sampai Kamis kemarin, jumlah rumah yang rusak berat akibat banjir itu 311 unit, rusak ringan 163. Dengan begitu, data yang diekspose sebelumnya otomatis terkoreksi dengan data terbaru dan akurat ini. “Rumah masyarakat yang hancur dan rusak akan menjadi prioritas kita bersama Pemerintah Aceh untuk membangunnya kembali,” ujar Nazir.

Menurutnya, jalur transportasi dari jalan kabupaten ke desa-desa yang terkena banjir, seperti ke Desa Peunalom I dan II, sudah tembus dan bisa dilewati kendaraan roda empat. Namun, ke Desa Blang Pandak belum tembus, karena harus dibuat jalan baru.

Terisolirnya Gampong Blang Pandak karena ruas jalan sepanjang 7 km masih tertimbun material longsor di sejumlah titik. Diperkirakan, dalam tiga pekan mendatang ruas jalan Blang Dhot-Blang Pandak baru bisa ditembus melalui darat.

Lintas Tangse-Geumpang–Meulaboh dilaporkan masih belum bisa dilalui mobil, meski sudah 20 alat berat dikerahkan untuk membuat badan jalan baru. “Jumlah titik longsornya juga terus bertambah, dari lima titik lokasi, kini menjadi 13 titik lokasi,” ungkap Nazir.  

Tertimbun longsor
Sementara itu, sebuah ekscavator (beko) yang sedang bekerja membersihkan ruas jalan tersebut, Kamis kemarin pukul 10.30 WIB, tertimbun longsoran tanah gunung Rantau Panyang Dua.

Nazir Adam menyebut butuh dana sedikitnya Rp 20 miliar untuk  membersihkan jalan dan sungai serta untuk perbaikan tebing yang longsor dan membangun sejumlah jembatan darurat. “Kebutuhan dana ini hendaknya bisa dibantu Pemerintah Aceh,” ujarnya.

Nazir yang juga Wabup Pidie itu menyebutkan, jumlah pengungsi yang tercatat hingga kemarin, mencapai 6.3650 orang (1.660 KK), sedangkan korban meninggal 11 orang. Yang masih hilang satu orang, luka berat dua orang.

Mayat ditemukan
Sementara itu dari Calang dilaporkan, penyisiran Krueng Teunom yang dilakukan tim gabungan dari TNI/Polri, RAPI, SAR, PMI, Tagana, Muspika Teunom, dan Aceh Jaya Rescue membuahkan hasil dengan ditemukan lagi sesosok mayat yang diduga korban banjir bandang Tangse. Potongan mayat berkelamin laki-laki berusia sekitar enam tahun itu ditemukan terjepit di tumpukan kayu gelondongan.

Relawan RAPI yang juga Koordinator Tagana Aceh Jaya, Rizal Dinata (JZ01QQ) kepada Serambi menginformasikan, pihaknya curiga karena di sekitar tumpukan kayu gelondongan itu banyak biawak dan juga bau menyengat. Anggota timnya memeriksa dan menemukan bagian tubuh manusia terjepit di antara kayu gelondongan seukuran drum.

Hingga pukul 20.20 tadi malam, Rizal dan timnya masih berada di sebuah pulau kecil (Pasi Teungoh) di tengah aliran Krueng Teunom untuk mencari sisa-sisa potongan mayat yang belum ditemukan. Sedangkan yang sudah ditemukan, antara lain, kepala dan wajah yang sudah rusak, tangan kanan, kaki kanan, dan tulang rusuk.

Tadi malam potongan-potongan jenazah yang telah dikumpulkan itu dibawa ke RSUD Calang dan selanjutnya menunggu petunjuk harus dibawa ke mana. “Tapi sudah ada arahan dari Asisten I Setdakab Pidie agar potongan-potongan jenazah itu dibawa ke Tangse,” kata Rizal.

Jika benar potongan mayat bocah yang ditemukan kemarin adalah korban banjir Tangse, maka sesuai data korban hilang, kemungkinan mayat tersebut Syibran Mustafa (6) dari Desa Peunalom I. Jika memang benar, maka hingga hari ketujuh pascabanjir, sudah 12 korban tewas, dan tiga di antaranya ditemukan di Krueng Teunom.

Sementara itu, Kamis kemarin, Komisi VII DPR RI dan anggota DPD RI asal Aceh, Bachrum Manyak dan Abdurrahman BTM juga berkunjung ke ruas jalan Tangse–Geumpang yang putus di Desa Krueng Meriam, Tangse. Akibat longsornya 13 titik badan jalan pada ruas jalan tersebut, arus transportasi Meulaboh–Geumpang-Tangse terputus sampai kemarin.

“Upaya penanganan telah dilakukan Dinas PU Pidie dan Bina Marga dan Cipta Karya Aceh tiga hari lalu, tapi sampai kemarin belum berhasil,” ujar Wabup Pidie, Nazir Adam.

Di tempat terpisah, Korlap Yayasan Sambinoe, dr Rais Husni Mubarak, mengatakan, saat ini tenaga medis masih sangat kurang untuk melayani korban banjir di Kecamatan Tangse. “Idealnya satu posko memiliki dua dokter dan dua perawat. Tapi, sekarang hanya satu dokter plus satu perawat,” ujarnya. (her/nas/naz/c43/c45)  
http://aceh.tribunnews.com/news/view/51836/10-irigasi-hancur-banyak-sawah-tak-bisa-ditanami

 


Translate Web Ke Bahasa :

Kunjungan

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday559
mod_vvisit_counterYesterday1045
mod_vvisit_counterThis week3407
mod_vvisit_counterLast week7008
mod_vvisit_counterThis month27603
mod_vvisit_counterLast month38113
mod_vvisit_counterAll days586817

Online (20 minutes ago): 16
Your IP: 38.107.179.227
,
Today: Mei 24, 2012