Poll

busyLoading Poll...
busyLoading Poll...

Berlangganan Artikel Baru

Name:
Email:

Login Box

Login

Don't You have account?

Sign Up

Facebook Like Button

Update Berita

Perkebunan Karet Hak Guna Usaha PT.SIR Terindikasi Telah Ditelantarkan, Perlu Segera DiCabut / dihapus Sesuai PP No 11 Thn 2010 Tentang Penertiban & Pendayagunaan Tanah Terlantar, Perlu Segera Tindakan Dari Kakanwil BPN Provinsi Aceh untuk Ditertipkan oleh PANITIA C sebagai tim indetifikasi tanah terlantar merujuk pada Perkbn no 4 thn 2010 tata cara penertiban tanah terlantar
Mahasiswa Sebagai Agen of change

Sejarah Indonesia penuh dengan tinta emas para pemuda dan mahasiswa seperti peristiwa, Tritura 1966, Malari 1974, Reformasi 1998

                                                                        Mahasiswa Sebagai Agen of change
                                                                                    Oleh : Abdul Jalil

Sejarah Indonesia penuh dengan tinta emas para pemuda dan mahasiswa seperti peristiwa, Tritura 1966, Malari 1974, Reformasi 1998 dan sebagainya menjadi sejarah emas pergerakan mahasiswa, peran serta dalam sejarah kemerdekaan Indonesia akan terlihat bagaimana peran mahasiswa jelas-jelas menjadi segolongan agen perubahan. Namun kemudian sejarah ini tercoreng beberapa tahun ini. Sejak reformasi bergulir, banyak mahasiswa terlibat bentrokan antar sesama mereka, mahasiswa setelah selesai kuliah jadi penjabat jadi tukang koruptor, Golongan yang sering disebut-sebut sebagai pembela rakyat kini malah menyusahkan rakyat.

Pendidikan kemasyarakatan adalah suatu proses transfer keilmuan yang berkaitan dengan kehidupan kemasyarakatan agar tercipta suasana baik & harmonis dalam masyarakat,  model ini biasanya dilakukan oleh lembaga-lembaga kemasyarakatan, baik yang bergerak pada ranah advokasi sosial, seperti LSM ataupun bergerak pada sosial-religius, seperti pondok pesantren, jamaah pengajian dan jamaah yasinan, mahasiswa sebagai rujukan pengetahuan dalam masyarakat, kampus bukanlah kumpulan orang-orang terasing dari masyarakat, masyarakat kampus adalah bagian dari masyarakat yang lebih luas dan kompleks, karena aktivitas mahasiswa harus memperhatikan permasalahan sosial disekitarnya, khususnya lewat berbagai organisasi mahasiswa yang ada dalam kampus.
 
     Dalam masyarakat kita, orang-orang berpendidikan tinggi masih menjadi rujukan, potensi dan peran ini harus ditangani secara serius oleh kiprah dan aktivitas mahasiswa, yang lazim dinamakan sebagai mahasiswa aktivis, berbagai aktivitas sosial-intelektual mahasiswa harus berdaya menampilkan pribadi-pribadi yang dapat membimbing dan mengarahkan masyarakat, untuk kemajuan moral dan material, mahasiswa dituntut tidak hanya sebagai agen perubahan (agent of change) tapi juga pengarah perubahan (director of change), dalam konteks menjadi pemimpin di masyarakat, mahasiswa harus terbiasa melatih diri dalam unit-unit maupun institusi-institusi  yang ada di kampus, seperti lembaga mahasiswa jurusan (LMJ), senat mahasiswa (sema), dewan eksekutif mahasiswa (dema), Mahasiswa Siaga Bencana (MSB) dan unit kegiatan mahasiswa (UKM).
 
     Mahasiswa adalah teladan bagi masyarakat, hal ini penting untuk diperhatikan karena seorang pemimpin yang dalam hal ini adalah mahasiswa adalah figur bagi lingkungan kepemimpinannya, terlebih dalam lingkup masyarakat. Terkait perannya sebagai “filter” dalam perubahan masyarakat, sekarang ini dunia telah menuju pada konsep global village, yaitu sebuah proses peleburan nilai-nilai budaya lokal dan semuanya terukur dengan satu peradaban global, jadi sangat memungkinkan jika khasanah-khasanah lokal yang baik mengalami proses distorsi lalu akhirnya akan menghilang. Di sinilah peran mahasiswa sebagai alat gerak dalam masyarakat untuk menyaring kebudayaan global yang merusak, tetapi juga melakukan adaptasi, agar masyarakat tidak tergilas dengan kemajuan zaman. Mahasiswa dibekali dengan pengetahuan-pengetahuan intelektual serta pemikirannya yang kritis progesif memegang peran kunci dalam proses-proses transfer keilmuan dalam kemasyarakatan.

     Pengalaman mahasiswa yang telah berlatih dalam organisasi kemahasiswaan kampus juga pernah terjun langsung pada pengabdian masyarakat melalui kuliah kerja nyata.  Mereka dapat menghidupkan kembali lembaga pendidikan kemasyarakatan yang telah lama semakin hilang, yaitu surau dan masjid. Lobi Andal Mahasiswa sudah terlatih dalam proses-proses membangun relasi dan jaringan dengan baik, apalagi mereka yang pernah aktif dalam organisasi kemahasiswaan kampus, sudah pasti memiliki kemampuan lobi yang andal. Hal tersebut dimaksudkan untuk menyatukan persepsi bersama akan pentingnya pendidikan kemasyarakatan dalam upaya besarnya untuk membangun stabilitas sosial dan control terhadap perubahan-perubahan dalam masyarakat. Mahasiswa juga dianggap sebagai lapisan masyarakat yang memiliki kapasitas intelektual dan kapabilitas hidup yang bisa lebih diharapkan untuk menjadi agen perubahan dalam masyarakat.  Kehadiranya diakui oleh masyarakat, walau mungkin masih ada yang berupa asumsi saja, tetapi penulis melihat ada  harapan yang diberikan kepada kalangan ini untuk melakukan perubahan-perubahan mendasar dalam masyarakat, terutama dalam pendidikan kemasyarakatan.  Mahasiswa dapat belajar banyak dari realitas sosial masyarakat, tentang karakteristik, metode sampai pada strategi pembelajaran kemasyarakatan yang cocok dalam masyarakat kita ini. Di sana mahasiswa bisa memanfaatkan momentum untuk mengisi dan menyelipkan suatu pemahaman sosial kemasyarakan yang dapat membangun keharmonisan dan kemajuan komunitas tersebut, misal tentang sikap hidup apa adanya dan sederhana, atau bahkan tentang rencana pembangunan desa dan selalu bermusyawarah dalam mengambil keputusan.

     Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) TGK CHIK DIRUNDENG kini sudah berubah menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) YAPENTU JOPAH seiring perubahan yayasan mahasiswa ikut juga berubah bangkit dari lumpur , sebagaimana Perguruan Tinggi (PT) lainnya merupakan ‘pakbrik’ bagi para pemuda dan remaja (Mahasiswa) untuk melahirkan pemimpin-pemimpin bangsa. Terlebih lagi Kampus Islam seperti STAI yang kedepannya akan melahirkan pemimpin-pemnimpin Islam yang bukan hanya memperjuangkan perubahan bangsa tapi lebih luas lagi yaitu memperjuangkan perubahan dunia Islam. Mahasiswa Islam yang diharapkan sebagai agen perubahan (agen of change) harus memiliki karakter yang mencerminkan akhlak Islam yang Kaffah (menyeluruh).

     Karakter semacam inilah yang tidak dimiliki oleh kelompok lain selain para pemuda atau mahasiswa, yaitu perpaduan antara watak sebagai perubah pergerakan dan penjagaan nilai-nilai moralitas ditengah-tengah masyarakat yang semakin hedonis dan materialistis. Dipundak mahasiswa perubahan akan dipikul, dan sejarah telah membuktikan bahwa ditangan mahasiswa pula segala prubahan terjadi baik dalam skala kecil maupun dalam skala besar. Mahasiswa atau pemuda adalah aset yang tak ternilai bagi bangsa ini, karena dengan keberadaan dan kontribusinya sebuah bangsa masih memiliki harapan di masa yang akan datang. Mahasiswa/pemuda memiliki idealisme yang kental dan kuat, sehingga ia dapat menjaga nilai-nilai moral perjuangan dan pergerakan murni atas dasar kebenaran dan pemahaman yang dimiliki. Dengan prinsip yang dimilki, maka kampus sebagai cikal bakal perjuanagan mahasiswa harus dapat memberikan pendidikan yang dapat membuka cakrawala mahasiswa bukan hanya dari sisi akademis tapi juga dari sisi hubungan kemasyarakatan.

     Berbicara Pendidikan, maka berbicara ”masaalah” yang di karenakan selama 35 Tahun Pendidikan di Indonesia adalah ”Pendidikan Bayangan”  dikondisikan oleh penguasa untuk melanggengkan pimpinan (tampuk kekuasaan) dengan strategi bodohkan rakyatmu jika kamu ingin lebih lama berkuasa, untuk tercapai strategi tersebut lahirlah pendidikan bayangan pendidikan Tidak bermoral sebagai berikut: Masa Orde Baru Cekgu di seluruh pelosok Indonesia memerankan bayangan pada sekolah masing-masing seperti: Ini Budi, Ini Wati, Ini Pak Amir, Ini pak Madi, setelah mendengar nama-nama yang selalu ada di buku paket dan disampaikan Bu Guru/Pak guru sepulang ke rumah si Anak bertanya pada Ibu Bapaknya dengan pertanyaan Siapa nama Orang tua dari Sibudi ,Wati, Amir, Madi dan dimana Lahirnya,..?

      Ibu/Bapak berkata : itu juga di berikan pada sekolah dulu tetapi  Ibu/bapak sudah keliling Indonesia yang namanya tersebut tidak pernah di jumpai selain yang tertulis dalam buku, yang pada hakekatnya sianak sampai dia sekolah telah mendapat gelar profesor pun tidak pernah ketemu dengan namanya Budi, Wati, Amir, Madi dan ini puluhan tahun di tanam disekolah sehinga tidak pernah ada kenyataan (Belajar bayangan). Maka lahirlah Generasi bayangan, Kurikulum bayangan, Petani bayangan, Pedagang Bayangan, Pengusaha / kontraktor  bayangan, Dinas bayangan, Polisi bayangan, Tentara Bayangan, Pegawai Negeri Sipil Bayangan, Pekerja Sosial bayangan, Petugas Sosial bayangan, Pejuang bayangan, Perampok bayangan, Teroris bayangan, Wakil Rakyat bayangan, Kechik bayangan,Mukim bayangan, Camat Bayangan, Bupati bayangan, Gubernur bayangan, Menteri bayangan, Presiden Bayangan, UU bayangan, PP Bayangan,Kepmen bayangan, Qanun Bayangan,AKU bayangan, Rentra bayangn, Hukum/ Peraturan bayangan, Guru Bayangan, Kepala Sekolah Bayangan, Murid bayangan, Pogram / Proyek bayangan, LSM/NGO bayangan dan TERAKHIR LAHIR LAH MAHASISWA-MAHASISWI BAYANGAN yang berkesimpulan Negara dan Se isi Negara Bayangan penyebab utama adalah Pendidikan Bayangan.

     Guru membentuk watak Si Anak pada sekolah masing seperti : Ini kerbau , Kerbau Pak Madi Tiga Ekor, Kerbau, Kerbau, Kerbau, Kerbau, Kerbau, Kerbau, kata-kata ini pada si anak dibebankan wajib hafal yang berimbas pada moral, tanpa disadari oleh si guru yaitu Lahirlah manusia yang berbadan manusia tapi berwatak kerbau, koruptor dan sebagainya padahal di dalam kurikulum sekolah seluruh pelosok Indonesia tidak ada kurikulum Korupsi maupun penghapusan memori, yang ada hanya Pelajaran bayangan dan pembentukan watak dalam tanda kutip ”Hewan”, Sehingga jika  manusia memiliki watak/moral tidak baik pengakibat utama adalah pelajaran pada sekolah tingkat SD/MI yaitu pembentukan pondasi dasar si Anak, untuk merubah hal hal tersebut di atas mari kita ubah pada tingkat dasar yaitu Hilangkan pendidikan Bayangan ,dan Pembentukan watak dalam tanda Kutip ”Hewan”.

Kedepan Masukan kurikulum pendidikan nyata dan Berwatak islami melalui : Kontek lokal menurut Daerah,  Agama dan adat budaya masing masing, yang nyata seperti : Ini Sultan Iskandar Muda, Ini Teuku Umar, Ini Cut Nyak Dhien, Ini Hamzah Fansuri, Ini Syamsuddin As Sumatrani, Ini Nurdin Arraniry, Ini Tgk Syech Abddul Rauf, Ini Dayan Dawood , Ini Safuan Idris , Ini Ali Hasyimi dan berbagai nama nama tokoh Aceh lainnya dan begitu juga dengan Nama Nama tokoh lain nya menjadi panutan masyarakat sehingga guru mengajar di sekolah, Orang tua si anak memperdalam di rumah dan ini mampu di jelaskan sosok nama nama seperti tersebut di atas yang bersifat kenyataan oleh Ibu/bapak Anak dirumah.

     Sudah waktunya hadir Model ke sekolah sekolah seperti : Guru bahasa mengajar Teori baca Puisi maka wajib hadirkan model  Asli yaitu Ahli Puisi,Guru Ekonomi mengajar Teori berdagang maka Anak anak wajib di bawa ke pasar & toko-toko untuk melakukan wawancara dengan pedagang, Guru Agama mengajar tata cara kuthbah Seorang  Khatib, Imam & Qori maka wajib hadirkan contoh model asli Khatib Imam & Qori. Kenyataan sebagai model nyata dan begitu juga dengan pelajaran lainnya  maka hadirkan  modelnya  masing–masing (Belajar dalam Kenyataan).

     Perpaduan kerja yaitu Pendidikan yang cepat maju bukan hanya dipikirkan oleh Dinas Pendidikan tetapi perlu juga kerja sama pogram dengan instansi lain seperti Dinas Pertanian dan Peternakan yaitu Melalui Kebun Sekolah pada setiap sekolah memiliki aset, Dinas Perikanan dan kelautan Melalui Kolam/Tambak Sekolah, dan Dinas Kesehatan/Pukesmas melalui Pogram UKS , lahirnya dokter –dokter Kecil di sekolah sekolah, anak anak dapat melakukan praktek di kebun, pemeliharaan dan hasilnya dapat di gunakan untuk oprasinal sekolah .

     Instansi Pendidikan Harus Memiliki Data Base bagi Alumni Sekolah di Seluruh sekolah yang memiliki Jabatan, Prestasi Tinggi dan yang sekolah di Luar Daerah serta Luar Negeri untuk dapat dijadikan model bagi pembelajaran di sekolah jika sosok Aminullah putra woyla dapat jadi dirut BPD Aceh kenapa tidak putra di kota meulaboh melalui data Base ini dapat merangsang cita cita Anak – Anak .

     Dalam penentuan Pimpinan Sekolah/Kepala sekolah jangan melalui pendekatan KNPI ( Keponakan, Nenek, Paman, Istri) tetapi di lakukan melalui Uji Kompetensi dengan melibatkan tim Independen dan rekrutmen secara terbuka dengan sebelumnya di berikan pengumuman sehingga siapapun dia yang memenuhi syarat dapat mencalonkan diri menjadi calon Kepala Sekolah jadi setiap orang dapat mengembang bakatnya masing-masing jika di berikan kesempatan.

     Paska Repormasi dan paska Tsunami lahirnya program pendidikan gratis yang dicanangkan dari pemerintah pusat sampai pemerintah daerah untuk sukses dalam pemilihan dan meraih jabatan tampuk kekuasaan, PADAHAL KITA SADARI PENDIDIKAN ITU MAHAL, namum pemerintah mengratiskan untuk melahirkan generasi ayam potong (manok potong) sebuah strategi melemahkan perubahan, kritikan.

Dimana kita ketahui pendidikan gratis adalah pendidikan ayam potong yang lupa kita berikan makan mati, lupa diberi minum mati, petir mati, lupa dihidupkan lampu mati, kelebihan makan mati dan  lupa tutup kandang dimakan musang yang hanya hidup untuk makan tampa harus berpikir. Seharusnya yang dilahirkan dizaman sekarang adalah pendidikan ayam kampung jika pemiliknya lupa beri makan dia cari sendiri, lupa kasih minum cari minum sendiri, malam tidak perlu lampu, lupa pemiliknya tutup kandang  terbang tidur diatap. Pendidikan gratis melahirkan generasi ayam potong dengan “rumpun metafora” yang paling populer, menyangkut “ayam”. Tulisan yang jelek, disebut seperti “cakar ayam”. Kamar kos yang berantakan, disebut seperti “kandang ayam”. Tidur di kelas waktu kuliah, disebut “tidur-tidur ayam”. Orang yang semangatnya cepat kendor, disebut “panas-panas tahi ayam”. Mahasiswi yang mencari tambahan pendapatan dengan menjual jasa seks, disebut “ayam kampus”. Kalau di luar kampus, disebut “ayam kampung”. Bahkan keberanian, juga dikaitkan dengan ayam, khususnya ayam jantan, alias “jago”.

     Sistem telah merusak moral generasi bangsa se Indonesia dilanda krisis moral maka saat ini dituntut pada Mahasiswa(i) hari ini harus segera keluar dari sistem yang telah diramu sedemikian apik, hijrah untuk berubah dan merubah sistem ditanganmu tergantung negara ini. Maka berbenahlah diri carilah ilmu tambahan jangan cukup yang diberi oleh dosen saja, beli buku jangan asik beli bedak , jika anda jadi guru jangan jadi guru yang merusak generasi bangsa, jika anda jadi penjabat jangan jadi penjabat koruptor.

     Anda mahasiswa yang saat ini bukan dituntut kuliah semata tetapi anda dituntut untuk mengabdi pada masyarakat, selama anda kuliah masyarakat mana yang telah anda bantú, selama anda kuliah kebijakan apa yang ada anda advokasi, kini masyarakat membutuhkan Tri dharma Perguruan Tinggi yang salah satunya adalah pengabdian dari mahasiswa, rakyat hari ini sangat menderita butuh uluran tangan mahasiswa, Masih banyak masyarakat korban tsunami belum mendapat rumah, masih banyak korban tsunami tinggal dibarak, masih banyak korban tsunami tinggal di rumah asbes/gibsun yang beberapa tahun lagi akan kena penyakit kanker, masih banyak korban konplik belum dapat rumah, masih banyak korban konplik belum dapat dana diat, masih banyak korupsi di dinas-dinas kabupaten Aceh barat, masih ada pelayanan rumah sakit yang mengambil keuntungan pada rakyat, masih banyak produksi akua galon yang belum bersertifikat sehingga air kedepan menjadi penyakit, masih banyak desa belum ada listrik, masih banyak desa belum ada jalan/ jembatan, Masih banyak gampong yang tidak ada lagi orang yang memandikan mayat, masih ada gampong yang tidak memiliki tengku,  masih ada desa yang edemis malaria maupun cikungunya dan ini semua butuh uluran tangan mahsiswa, butuh saran, butuh dukungan, butuh pemikiran, butuh advokasi dari segenap mahasiswa calon sarjana, dengan ini masyarakat mengajak mahasiswa berubah, bangkit, bangun dari tidur, sadar dari melamun….Allah hu Akbar….! Mahasiswa adalah agen dari perubahan.

     Rakyat butuh Kontribusi dan tangan mahasiswa, petani butuh tangan mahasiswa, pedagang butuh tangan mahasiswa, nelayan butuh tangan mahasiswa, buruh butuh tangan mahasiswa, penjabat butuh teguran mahasiswa, koruptor butuh tindakan mahasiswa.. bersatulah mahasiswa supaya Aceh berubah menjadi Aceh baru, Aceh yang bermarwah, Aceh yang bermartabat, Aceh yang berbudaya, Aceh yang beretika, Aceh yang bersahaja…rubahlah diri mahasiswa dulu baru lakukan perubahan pada orang lain. Penulis adalah Direktur Eksekutif  Grassroots Society forum  (GSF) Abdul JaliL Pemerhati Pendidikan berdomisili di Meulaboh Kabupaten Aceh Barat, tulisan ini disampaikan pada latihan kepemimpinan mahasiswa (LKM) BEM STAI Yapentu Jopah priode 2009-2010 digedung KNPI pukul 14.00 wib-15.30 wib
tanggal  29  Januari S/d 31 februari 2010

 
























Translate Web Ke Bahasa :

Kunjungan

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday69
mod_vvisit_counterYesterday1287
mod_vvisit_counterThis week4001
mod_vvisit_counterLast week9238
mod_vvisit_counterThis month9230
mod_vvisit_counterLast month44088
mod_vvisit_counterAll days440516

Online (20 minutes ago): 25
Your IP: 38.107.179.227
,
Today: Feb 08, 2012