|
MEULABOH - Sebanyak 19 siswa di Kemukiman Darul Ihsan, Kecamatan Sungaimas, Aceh Barat, Senin (29/3) kemarin gagal ikut Ujian Nasional (UN) tingkat SMP.
Jembatan Putus, Siswa Sungaimas Gagal Ikut UN * 50 Murid di Aceh Selatan tak Hadir Utama 30 Maret 2010, 14:26 Ali Akbar (15), seorang peserta Ujian Nasional (UN) dari SMP Perisai Kutacane, Aceh Tenggara terpaksa mengikuti Ujian Nasional (UN) di rumah karena mengalami patah kaki akibat kecelakaan lalu lintas dua pekan lalu. Foto direkam, Senin (29/3). SERAMBI/ASNAWI ABDULLAH LUWI MEULABOH - Sebanyak 19 siswa di Kemukiman Darul Ihsan, Kecamatan Sungaimas, Aceh Barat, Senin (29/3) kemarin gagal ikut Ujian Nasional (UN) tingkat SMP. Penyebabnya, dua jembatan di Krueng Sekoy-Blang Dalam yang biasa mereka lewati, putus diterjang banjir tiga hari lalu. Para pelajar tersebut sedianya akan ikut UN di SMP Kajeung, Kecamatan Sungaimas.
Ketua Penyelenggara UN SMP/MTs di Aceh Barat, Bismi menjawab Serambi mengatakan, UN hari pertama di Aceh Barat kemarin secara keseluruhan berjalan lancar. Hanya 19 siswa dari Kemukiman Darul Ihsan gagal ikut UN di SMP Kajeung, sebab mereka tak bisa menyeberang akibat dua jembatan di kecamatan itu putus diterjang banjir.
“Sebagai solusinya, semua mereka akan kita ikutkan ujian susulan,” ujar Bismi. Namun, belum disebutkan dengan pasti kapan ujian susulan itu dilaksanakan dan di mana tempatnya. Apakah para siswa tersebut dijemput khusus naik speedboat atau justru tim pengawas yang datang ke desa-desa yang terisolasi pascabanjir itu.
Menurut Bismi, bukan saja 19 siswa tak dapat ikut UN, putusnya dua jembatan di wilayah itu juga menyebabkan warga setempat terkurung. Bila kondisi ini berlangsung lama, anak-anak di wilayah jembatan putus itu pun bakal tak bisa bersekolah kelak. Bismi yang juga Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Kabid Dikdas) Dinas Pendidikan Aceh Barat itu menambahkan, UN tingkat SMP/MTs yang pesertanya 3.067 orang itu diselenggarakan di 53 lokasi. Pelaksanaan UN itu berjalan lancar dan baik, di bawah pantauan berbagai elemen independen.
Korban laka lantas Dari Kutacane, ibu kota Kabupaten Aceh Tenggara (Agara) dilaporkan, seorang siswa SMP Perisai Kutacane, Ali Akbar (15), terpaksa ikut UN di rumahnya kemarin, karena kaki kiri warga Desa Kumbang, Kecamatan Badar itu patah setelah sepeda motor (sepmor) yang dikendarainya tabrakan dengan mobil jenis labi-labi dua pekan lalu.
Ayah korban, Kamzani, kepada Serambi mengatakan, pada saat tabrakan itu anaknya baru pulang dari latihan tenis meja untuk persiapan menghadapi Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) di Aceh Tamiang. Akibat tabrakan itu, kaki kiri anaknya patah, termasuk jari kakinya, sehingga Ali Akbar tak sanggup datang ke sekolah saat UN kemarin hingga Kamis mendatang.
Berdasarkan pengakuan Kamzani, saat UN kemarin anaknya yang sakit itu terlihat lancar-lancar saja menjawab soal, di bawah pantauan pengawas dan aparat kepolisian. Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga (Disdikpora) Agara, Ali Basrah mengatakan, pelaksaaan UN di daerahnya berjalan aman, tertib, dan lancar. Hingga siang kemarin, tak ada laporan kekurangan soal ujian dan lembar jawaban komputer bagi peserta UN di kabupaten itu. Juga tidak ada laporan kecurangan selama UN berlangsung.
Jumlah peserta yang ikut UN SMP di Agara tahun ini, menurutnya, 4.055 orang yang berasal dari 58 sekolah. Sekretaris Daerah (Sekda) Agara Hasanuddin Darjo MM ikut memantau jalannya UN di sejumlah sekolah kemarin, didampingi Kadisdikpora Ali Basrah Spd MM dan Kakandepag Agara Drs Jauharuddin. Sekolah yang mereka datangi adalah SMPN 1 Kutacane, MTsN Kutacane, dan SMP Perisai Kutacane.
50 Siswa tak ikut Dari Tapaktuan dilaporkan, pelaksanaan UN tingkat SMP/MTs di Aceh Selatan kemarin ditandai dengan kurangnya lembar jawaban komputer (LJK). Tapi kekurangan itu akhirnya berhasil diatasi, menggunakan LJK cadanangan. Namun, 50 siswa di kabupaten ini dilaporkan tidak ikut UN karena berbagai alasan, di antaranya sakit. “Jumlah pesertanya mencapai 3.981 orang. Dari jumlah itu, 50 di antaranya absen,” ungkap Ketua Panitia UN Aceh Selatan, Suhartono.Hingga UN berakhir siang kemarin, menurut Suhartono, belum ditemukan pelanggaran ataupun kecurangan yang dilakukan siswa maupun pengawas. UN di daerah terpencil, Buluseuma, Kecamatan Trumon, juga berjalan lancar.
Di Abdya Sementara itu, dari Aceh Barat Daya (Abdya) dilaporkan, Syamsuar (51), Pengawas TK/SD Wilayah Kecamatan Babahrot yang merupakan korban laka lantas di jalan raya Desa Alue Jerjak, Kamis lalu, saat hendak mengawas UN 2010, meninggal dunia pada Minggu (28/3) subuh saat dirawat di RSUZA Banda Aceh.
Jenazah Syamsuar telah diberangkatkan naik ambulans dari Banda Aceh pukul 9.00 WIB kemarin menuju rumah duka di Desa Gunung Samarinda, Babahrot, Abdya. Jenazah tiba di rumah duka di Desa Gunung Samarinda, Babahrot, Minggu (29/3) sore. Sedangkan pemakaman dilaksanakan Senin (29/3) pukul 9.00 WIB.
Tak ada kecurangan Dari Banda Aceh dilaporkan, 4.082 siswa SMP/MTs ikut UN hari pertama. Mata pelajaran yang diujikan adalah bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Untuk mengetahui jalannya UN di ibu kota Provinsi Aceh ini, Sekda Kota Banda Aceh, Drs T Saifuddin TA MSi memantau di tiga sekolah, yakni SMPN 19 Percontohan Lamlagang, SMP Fatih Bilingual School Lamlagang, dan MTsN 2 Banda Aceh.
Melalui Serambi, T Saifuddin berharap para kepala SMP/MTs di Kota Banda Aceh serius memonitor hingga UN berakhir, sehingga tidak terjadi kecurangan atau persekongkolan dalam menjawab soal. “Alhamdulillah, pada pelaksanaan UN SMA/MA di Banda Aceh yang sudah lewat tidak ditemukan kecurangan. Kita harap UN tingkat tingkat SMP/MTS ini pun demikian,” ujar Sekretaris Kota Banda Aceh.
Dari hasil kunjungannya ke tiga sekolah tersebut, T Saifuddin menyimpulkan UN 2010 tingkat SMP/MTs di Banda Aceh berlangsung tepat waktu. Peserta dan pengawas tak ada yang datang telat. Ia juga mengingatkan agar pengawas benar-benar memeriksa dan tak mengizinkan seorang siswa pun membawa handphone dan kalkulator ke dalam ke ruang ujian. “Jangan lupa juga memperhatikan tingkah laku saat ujian berlangsung, siapa tahu ada yang saling contek,” kata T Saifuddin yang akrab dengan sapaan Ampon Din.
Saat peninjauan yang dilakukan sejak pukul 8.00 WIB itu. Sekda beserta rombongan, Kadis Pendidikan Kota Banda Aceh, Drs Sofyan Sulaiman, Kandepag Kota Banda Aceh, Drs Aiyub Ahmad, dan Kabag Humas Drs Mahdi, tak menemukan kendala yang berarti dalam pelaksanaan UN SMP/MTs kali ini, sebab semua fasilitas yang dibutuhkan siswa dalam UN 2010 ini telah tersedia, sehingga para siswa dapat mengerjakan soal-soal UN dengan tenang.
UN 2010 tingkat SMP/MTs di Banda Aceh diikuti 4.082 siswa. Terdiri atas murid SMP 3.113 peserta, MTs sebanyak 955 peserta. Di akhir penyataannya, T Saifuddin berharap seluruh siswa yang ikut UN dapat lulus dengan nilai tinggi, sehingga lulusan SMP/MTs Banda Aceh bisa diterima di SMA atau SMK favorit yang mereka inginkan.
Tak ada kecurangan Dari Banda Aceh dilaporkan, 4.082 siswa SMP/MTs ikut UN hari pertama. Mata pelajaran yang diujikan adalah bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Untuk mengetahui jalannya UN di ibu kota Provinsi Aceh ini, Sekda Kota Banda Aceh, Drs T Saifuddin TA MSi memantau di tiga sekolah, yakni SMPN 19 Percontohan Lamlagang, SMP Fatih Bilingual School Lamlagang, dan MTsN 2 Banda Aceh.
Melalui Serambi, T Saifuddin berharap para kepala SMP/MTs di Kota Banda Aceh serius memonitor hingga UN berakhir, sehingga tidak terjadi kecurangan atau persekongkolan dalam menjawab soal. Dari hasil kunjungannya ke tiga sekolah tersebut, T Saifuddin menyimpulkan UN 2010 tingkat SMP/MTs di Banda Aceh berlangsung tepat waktu. Peserta dan pengawas tak ada yang datang telat.
Saat peninjauan yang dilakukan sejak pukul 8.00 WIB itu. Sekda beserta rombongan, Kadis Pendidikan Kota Banda Aceh, Drs Sofyan Sulaiman, Kandepag Kota Banda Aceh, Drs Aiyub Ahmad, dan Kabag Humas Drs Mahdi, tak menemukan kendala yang berarti dalam pelaksanaan UN SMP/MTs kali ini, sebab semua fasilitas yang dibutuhkan siswa dalam UN 2010 ini telah tersedia, sehingga para siswa dapat mengerjakan soal-soal UN dengan tenang. UN 2010 tingkat SMP/MTs di Banda Aceh diikuti 4.082 siswa. Terdiri atas murid SMP 3.113 peserta, MTs sebanyak 955 peserta.
Dibayangi bocor kunci Hari pertama UN tingkat SMP/MTs kemarin tetap saja dibayangi isu ‘kebocoran kunci jawaban’ yang disebut-sebut beredar dari hp ke hp di kalangan siswa. Namun, isu itu dibantah Ketua Panitia UN Provinsi Aceh, Drs As’ari MPd dan Sekretaris Dinas Pendidikan Aceh, Zulkifli Saidi SPd, seusai memantau pelaksanaan UN di SMP 2, SMP 6, dan MTsN Model Banda Aceh. Ikut dalam tim itu Kepala Balai Tekkom Boestamam Aly MPd.
“Sampai saat ini tidak pernah ada kebocoran kunci jawaban untuk UN di Aceh,” tegas As’ari. Sebab, tambahnya, kalaupun ada kebocoran kunci jawaban yang terjadi di luar Aceh, tidak bisa masuk ke Aceh. Sebab, tegas As’ari, nomor urut soal antara satu provinsi dengan provinsi lain tetap berbeda. Karenanya, meski di provinsi tetangga kunci jawaban atau soalnya bocor, tapi soal dan kunci tersebut tidak akan bisa digunakan di Aceh. Karenanya, tambah As’ari yang juga Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Aceh, ia sangat mengharapkan siswa SMP dan MTs tidak terpengaruh oleh isu-isu yang menyesatkan itu.
Tak ada LJK Disebutkan juga bahwa di beberapa titik tetap ditemukan kelemahan UN yang sangat mengganggu. Di SMP Negeri 1 Darul Imarah, Aceh Besar, misalnya, satu amplop soal ujian bahasa Indonesia ternyata tidak ada LJK di dalamnya. Panitia ujian tingkat sekolah kalang kabut mengatasi kekurangan LJK tersebut, kata Kepala Dinas Pendidikan Aceh Besar, Drs Bakhtiar Yunus. Namun, setelah berkonsultasi dengan tim pemantau independen dan aparat keamanan, pihak sekolah mengambil kebijakan dengan memanfaatkan semua LJK yang tersedia di sekolah, termasuk LJK cadangan.
Dukun patah Dari Aceh Utara dilaporkan, dari 9.828 peserta yang tersebar di 128 sekolah, ada seorang siswi yang harus ikut UN di klinik spesialis dukun patah di Seunuddon. Siswi kelas IX SMP Negeri 1 Lhoksukon itu tak bisa hadir ke sekolah karena kedua kakinya patah akibat laka lantas sebulan lalu. Sekretaris Panitia UN Aceh Utara Abdul Jaban MPd kemarin, mengaku secara umum pelaksanaan UN di Aceh Utara berjalan normal. Tapi dari sekian peserta, ada dua yang dalam kondisi sakit akibat laka lantas, tetap ikut UN. Mereka adalah Ansari Rizky Murdani, siswa
SMP Negeri 1 Lhoksukon. Satu lagi Ramazayani, pelajar SMP Negeri 1 Baktiya. Karena kedua kakinya patah, Rama terpaksa ikut UN di klinik dukun patah di kawasan Seunuddon. “Kami mengirim soal serta petugas ke sana agar siswi ini tetap bisa mengikuti UN,” jelas Abdul Jaban. (riz/as/az/nun/sir/bah/ib/c37/c45/c47) http://www.serambinews.com/news/view/27430/jembatan-putus-siswa-sungaimas-gagal-ikut-un |