|
Merasa terhina dan difitnah, Sabtu (6/2) siang, puluhan para korban tsunami Kabupaten Aceh Barat, mendatangi Dedi Iskandar seorang wartawan harian
Harian Aceh Merasa Terhina, Puluhan Korban Tsunami Datangi Wartawan Meulaboh |Harian Aceh Merasa terhina dan difitnah, Sabtu (6/2) siang, puluhan para korban tsunami Kabupaten Aceh Barat, mendatangi Dedi Iskandar seorang wartawan harian terbitan local Aceh, guna mengklarifikasi tuduhan Muslem dan Sariati terkait aksi pengutipan koin di Aceh Barat penuh unsure paksaan. Puluhan Korban tsunami mendatangi Sebuah Biro Media Cetak di meulaboh, terdiri dari kaum lekaki dan Perempuan, para korban tsunami tersebut merasa kesal atas komentar sepasang suami istri, yakni Muslim dan Sariati, yang mengatakan para korban tsunami yang tergabung dalam Gerakan Pejuang Rumah Tsunami (GPRS) memaksa mereka mengumpulkan koin. “Sama sekali tidak ada paksaan dalam pengumpumpulan itu, itu merupakan solidaritas kami dalam menyelesaikan realisasi pembangunan rumah bagi kami korban bencana,” kata Samsul Rizal (42) korban tsunami yang aktif mengalang koin. Apa yang dikatakan oleh Muslem dan istrinya adalah fitnah, karena selama ini sama sekali tidak ada pemaksaan terhadap kami, buktinya ratusan para korban tsunami yang berada di Posko dengan kesadaran sendiri aktif melakukan pengalangan koin, sehingga kami merasa terhina dan difitnah dengan pemberitaan itu. Kata samsul. Tetapi, lanjut Samsul Rizal yang kerap di sapa Aby ini, karena semua orang eksis mengumpul koin, makanya saat rapat kami ada mengajak dia (Muslem) agar dapat berpartisipasi dalam penggalangan dana tersebut. “Tapi si Muslem menolak ikutan, dengan alasan jika saya kelihatan disana akan dibunuh dengan seseorang”. Mendengar ucapan tersebut, dengan spontan kami berusaha menanyakan siapa yang mengancam agar dapat kita selesaikan bersama. Namun, ia masih berkilah agar permasalahan ancaman itu jangan diperpanjang lagi, papar, Aby mengisahkan alasan Muslem tak ikutan mengalang dana. Makanya para korban tsunami menemui wartawan yang menulis berita tersebut agar dapat menulis sanggahan aksi pengalang koin. Seharusnya, masih argumen Aby, sang wartawan yang profesional dapat mengklarifikasi tuduhan tersebut kepada kami para pengalang koin dilapangan, agar tuduhan tersebut jelas adanya. “jika telah seperti ini mau bilang apalagi, terpaksa kita sanggah fitnah si Muslem itu lah, dari pada dapat terjadi hal yang tak diinginkan,” Jelasnya. Perhari, masih lanjut Aby, penggalangan dana berhasil mengumpulkan uang receh mencapai tiga ratus sampai dengan lima ratus ribu rupiah. Dan hingga kini, Sabtu (6/2) sekitar Rp. 10 juta lebih telah terkumpul. Sementara Wartawan bersangkutan saat tanyai Koran ini mengaku “Hana jok Komentar lon beh, ” Kata dedi Iskandar dengan dialek Aceh nya. (azh) |