Poll

busyLoading Poll...
busyLoading Poll...

Berlangganan Artikel Baru

Name:
Email:

Login Box

Login

Don't You have account?

Sign Up

Facebook Like Button

Update Berita

Perkebunan Karet Hak Guna Usaha PT.SIR Terindikasi Telah Ditelantarkan, Perlu Segera DiCabut / dihapus Sesuai PP No 11 Thn 2010 Tentang Penertiban & Pendayagunaan Tanah Terlantar, Perlu Segera Tindakan Dari Kakanwil BPN Provinsi Aceh untuk Ditertipkan oleh PANITIA C sebagai tim indetifikasi tanah terlantar merujuk pada Perkbn no 4 thn 2010 tata cara penertiban tanah terlantar
Hujan Mirip Darah Gegerkan Simeulue

SINABANG - Setelah satu bulan lebih dilanda kemarau, tiba-tiba pada Kamis (11/2) sekira pukul 11.00 WIB turun “hujan aneh”

Serambi Hujan Mirip Darah Gegerkan Simeulue

Utama 13 Februari 2010, 12:15

SINABANG - Setelah satu bulan lebih dilanda kemarau, tiba-tiba pada Kamis (11/2) sekira pukul 11.00 WIB turun “hujan aneh” di Desa Seuneubok, Kecamatan Teupah Selatan, Kabupaten Simeulue. Air hujan yang jatuh ke atap seng enam rumah penduduk desa itu, saat ditampung ternyata berwarna merah marun, nyaris mirip warna darah. Warga pun gempar karenanya. Hingga kemarin siang, ramai penduduk Simeulue yang masih membincangkan hal itu, karena mereka duga merupakan fenomena alam yang sangat langka. Apalagi ada di antara warga yang mengaitkan kejadian itu dengan takhayul, mistik, di samping ada pula yang menduga sebagai debu meteor atau sel hidup dari makhluk alien (ET) yang terlepas ke atmosfer lalu jatuh ke bumi bersama turunnya hujan. (Baca: Tetesan Darah dari Langit)

Sebelumnya, memang tidak terdengar melalui kisah-kisah para leluhur bahwa di Simeulue pernah terjadi hujan merah, seperti yang pernah terjadi di Kerala, India, tahun 2001. “Tapi tentang terjadinya tsunami yang kami sebut smong di Simeulue pada tahun 1907, itu memang sering dikisahkan dari generasi ke generasi, sehingga kami tahu begitu gempa besar terjadi, biasanya akan disusul oleh smong. Maka kami pun lari ke bukit,” ujar  Rahimuddin (29), warga Salur, Kecamatan Teupah Barat, Simeulue. Sepanjang usianya, kata Rahimuddin, baru kemarin untuk pertama kalinya dia dengar ada air hujan berwarna merah. Dan itu terjadi di Desa Seuneubok yang satu kecamatan dengan tempat tinggalnya.

Desa itu berjarak 18 kilometer ke arah selatan Sinabang, ibu kota  Kabupaten Simeulue. “Sebagian besar warga Teupah Selatan masih penasaran dengan kejadian hujan merah itu, karena tak pernah terjadi sebelumnya,” kata Rahim saat dihubungi Serambi per telepon dari Banda Aceh tadi malam. Ia tambahkan bahwa benar sudah lumayan lama tak turun hujan di Simeulue. Minggu lalu ada turun hujan di beberapa kecamatan, tapi hanya sebentar. “Itu pun putus-putus. Di desa yang sama ada lokasi yang diguyur hujan, tapi ada yang tidak. Padahal, jaraknya hanya beberapa meter. Ini jarang terjadi sebelumnya,” ungkap Rahim.

 Diduga seng luntur
Sementara itu, Abdul Karim, Kabag Humas Pemkab Simeulue yang dihubungi per telepon dari Banda Aceh tadi malam mengatakan, peristiwa hujan merah itu hanya menjadi misteri sekitar 24 jam. “Saat kejadian dan hingga pagi kemarin warga memang sempat gempar karena sebelumnya tak pernah terjadi hujan merah di sini. Malah dari ibu kota kabupaten sempat turun ke lokasi hujan merah itu Sekda Simeulue Drs Riswan R bersama Kabag Umum Irwan Basyir. Tapi, setelah seorang dokter meneliti sampel air itu kemarin siang, teka-teki tentang air merah itu pun mulai terjawab,” ujar Karim. Dokter yang dimaksud Karim adalah Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Simuelue, Armidin. Ia memeriksa di laboratorium dinkes setempat sebotol sampel air hujan berwarna merah yang kebetulan ditampung salah seorang warga Seuneubok, Teupah Selatan, saat hujan mengguyur atap rumahnya.

 


Hujan itu hanya berlangsung sekitar lima menit, sejak pukul 11.00 WIB, Kamis siang. Kebetulan di Seuneubok rumah penduduknya jarang-jarang, sehingga dari tujuh rumah yang diguyur hujan, hanya enam rumah yang air cucuran atapnya  merah. Rumah-rumah tersebut adalah rumah bantuan untuk korban gempa/tsunami yang dibangun UN Habitat pada 2008. Semua rumah itu beratap seng genteng warna merah marun. Dokter Armidin menduga, setelah sekian lama diterpa terik matahari, tiba-tiba terjadi hujan, lapisan terluar cat seng genteng dari enam rumah itu pun luntur dan menguap, lalu bercampur dengan air hujan, sehingga air yang ditampung dari cucuran atap itu semuanya berwarna merah.

Asumsi itu dibangun dr Armidin, setelah sampel air yang dia periksa ternyata tidak mengandung zat polutan berbahaya, tidak ada sel hidup, melainkan hanya mengandung zat besi campur partikel zat pewarna.  Itu terjadi, menurut Armidin kepada Kabag Humas Pemkab Simeulue, karena setelah kemarau sekian lama, terjadi penguapan warna dari atap seng genteng yang berwarna merah itu. Ketika hujan turun, maka partikel zat besi dan zat pewarna itu tercampur (mixing), sehingga hujannya berwarna merah.

Sebelum diperiksa di laboratorium, kata Abdul Karim, sampel air yang ditampung pemilik rumah bantuan itu agak bau, seperti aroma belerang (sulfur). “Tapi, setelah diperiksa Dokter Armidin,  ternyata penyebab air hujan itu jadi merah justru karena bercampur dengan partikel uap seng genteng yang memang berwarna merah marun,” kata Karim. Secara kasat mata, lanjut Karim, warna air hujan yang turun dari cucuran atap enam rumah warga itu memang merah. Tapi ia kurang sependapat bila disebut merahnya dominan, sehingga mirip darah. “Merah iya, tapi merahnya lebih muda. Karena warnanya merah, lalu cerita yang berkembang dari mulut ke mulut pun menyebutkan warnanya mirip darah, padahal nggak begitu mirip,” tegas Karim.

Begitupun, Karim menerima jalan pikiran dan kesimpulan dr Armidin yang menguji sampel hujan merah itu di labkes setempat. Sebab, dari tujuh rumah yang diguyur hujan siang itu di Desa Seuneubok, hanya enam yang air dari cucuran atapnya berwarna merah. “Atap rumah yang satu itu juga beratap seng genteng merah, tapi saat hujan lokal menerpanya, warna hujannya tidak berubah jadi merah,” demikian Karim. Seorang warga Teupah Selatan lainnya yang menghubungi  Serambi tadi malam menambahkan bahwa sebelum kejadian “hujan merah”, di kecamatan itu terjadi kemarau panjang dan ditemukan sebutir telur ayam yang pada kulitnya ada bercak yang bila diamati bertuliskan “Allah”. Warga Teupah Selatan pun pernah heboh dua pekan lalu, karena pada satu sore menjelang matahari tenggelam, mereka dapati awan berbentuk lafaz Allah. (dik)

http://www.serambinews.com/news/view/24089/hujan-mirip-darah-gegerkan-simeulue

SerambiTetesan Darah dari Langit

Utama 13 Februari 2010, 12:12

 

TAHUN 2001, penduduk negara bagian Kerala, India, dikejutkan oleh peristiwa aneh. Hujan bewarna merah darah turun dari langit, menumpahkan ratusan kubik air mulai dari tanggal 25 Juli hingga 23 September. Menurut laporan BBC, ketika hujan terjadi, penduduk di negara bagian sempat mengira hujan merah adalah pertanda datangnya kiamat. Namun, pemerintah setempat mengklarifikasinya dengan mengatakan, hujan merah itu hanyalah debu padang pasir dari kawasan Arab.

Hujan tersebut turun hanya pada wilayah yang terbatas dan biasanya hanya berlangsung sekitar 20 menit per hujan. Para penduduk lokal menemukan baju-baju yang dijemur berubah warna menjadi merah seperti darah. Penduduk lokal juga melaporkan adanya bunyi ledakan dan cahaya terang yang mendahului turunnya hujan yang dipercaya sebagai ledakan meteor di angkasa. Hujan bewarna merah itu sampai sekarang masih menyisakan misteri. Dalam sebuah artikel disebutkan, fenomena hujan aneh ini telah terjadi sejak ratusan tahun lalu, sejak zaman Ancient Roman.

Hujan merah juga digolongkan ke dalam sepuluh cuaca paling aneh di dunia. Dalam bahasa Inggris, hujan ini disebut ‘the sky is bleeding’ yang artinya ‘darah menetes dari langit’. Sebuah sebutan yang akan langsung mengingatkan kita akan judul film horor Hollywood. Awalnya, hujan merah diduga terjadi karena debu atau pasir yang tertiup ke atmosfer dan terbawa oleh angin dengan jarak yang sangat jauh, sehingga akhirnya bercampur dengan awan hujan. Teori lain menyebutkan, hujan merah terjadi akibat jatuhan radio aktif ledakan meteor saat menubruk atmosfer bumi.

Baru pada awal tahun 2006, fenomena hujan berwarna ini menjadi perhatian dunia setelah media memberitakan dugaan bahwa partikel-partikel berwarna tersebut berasal dari sel-sel dari luar angkasa. Temuan itu berawal dari peristiwa hujan merah di Kerala tahun 2001. Contoh air hujan dibawa untuk diteliti oleh Pemerintah India dan ilmuwan mancanegara. Di antara ilmuwan independen yang meneliti fenomena itu adalah Godfrey Louis dan Santosh Kumara dari Universitas Mahatma Gandhi. Mereka mengumpulkan lebih dari 120 laporan dari penduduk setempat dan mengumpulkan sampel air hujan merah dari wilayah sepanjang 100 kilometer.

 Sel-sel hidup
Mereka sempat mengira bahwa partikel merah di dalam air itu adalah partikel pasir yang terbawa dari gurun Arab. Hal ini pernah terjadi pada Juli 1968 di mana pasir dari Gurun Sahara terbawa angin hingga menyebabkan hujan merah di Inggris. Namun, mereka menemukan bahwa unsur merah di dalam air tersebut bukanlah butiran pasir, melainkan sel-sel yang hidup. Komposisi sel tersebut terdiri atas 50 persen karbon, 45 persen oksigen dan 5 persen unsur lain seperti besi dan sodium, konsisten dengan komponen sel biologi lainnya, dan sel itu juga membelah diri. Sel itu memiliki diameter antara 3-10 mikrometer dengan dinding sel yang tebal dan memiliki variasi nanostruktur di dalam membrannya. Namun, tidak ada nukleus (inti sel) yang dapat diidentifikasi.

Di Universitas Sheffield, Inggris, seorang ahli mikrobiologi bernama Milton Wainwright mengonfirmasi bahwa bahwa unsur merah tersebut adalah sel hidup. Hal ini dinyatakan karena Wainwright berhasil menemukan adanya DNA dari unsur sel tersebut walaupun ia belum berhasil mengekstraknya.  Karena partikel merah tersebut adalah sel hidup, maka para ilmuwan mengajukan teori bahwa partikel merah itu adalah darah. Menurut mereka, kemungkinan batu meteor yang meledak di udara telah membantai sekelompok kelelawar di udara. Namun, teori ini ditolak karena tidak adanya bukti-bukti yang mendukung, umpama sayap kelelawar yang jatuh ke bumi.

Dengan menghubungkan antara suara ledakan dan cahaya yang mendahului hujan tersebut, Louis mengemukakan teori bahwa sel-sel merah tersebut adalah makhluk ekstraterestrial (ET). Louis menyimpulkan bahwa materi merah tersebut datang dari sebuah komet yang memasuki atmosfer bumi dan meledak di atas langit India.  Sebuah studi yang dilakukan mahasiswa doktoral dari Universitas Queen, Irlandia, bernama Patrick McCafferty, menemukan catatan sejarah yang menghubungkan hujan berwarna dengan ledakan meteor.

McCafferty menganalisis 80 laporan mengenai hujan berwarna, 20 laporan air berubah menjadi darah dan 68 contoh fenomena mirip seperti hujan hitam, hujan susu, atau madu yang turun dari langit. 36 Persen dari contoh tersebut ternyata terhubung dengan aktivitas meteor atau komet.  Peristiwa-peristiwa itu terjadi mulai dari Romawi kuno, Irlandia, dan Inggris abad pertengahan, hingga ke Kalifornia pada abad 19. Jadi, apakah hujan merah di Kerala berasal dari luar bumi? Sebagian ilmuwan yang skeptis serta merta menolak teori ini.

Namun, sebagian ilmuwan lain yang belum menemukan jawabannya segera melirik kembali ke sebuah teori usang yang diajukan ahli fisika Sir Fred Hoyle dan Dr Chandra Wickramasinghe. Teori mereka disebut Panspermia, yang menyatakan bahwa kehidupan di bumi berasal dari luar angkasa. Sampai kini belum ada jawaban pasti mengenai penyebab hujan merah ini. Jawaban yang ada masih sebatas teori. Dan ‘The sky is bleeding’ sepertinya bakal terus menjadi sebuah misteri. Mungkin juga, kali ini di Simeulue yang warganya memiliki kewaspadaan yang amat tinggi terhadap bahaya smong alias tsunami. (yocerizal/dari berbagai sumber)

 

http://www.serambinews.com/news/view/24088/tetesan-darah-dari-langit

 
























Translate Web Ke Bahasa :

Kunjungan

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday156
mod_vvisit_counterYesterday1287
mod_vvisit_counterThis week4088
mod_vvisit_counterLast week9238
mod_vvisit_counterThis month9317
mod_vvisit_counterLast month44088
mod_vvisit_counterAll days440603

Online (20 minutes ago): 28
Your IP: 38.107.179.229
,
Today: Feb 08, 2012