From: Subject: Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 Date: Sat, 28 Feb 2009 23:31:44 +0700 MIME-Version: 1.0 Content-Type: multipart/related; type="text/html"; boundary="----=_NextPart_000_0024_01C999FC.B79AE5C0" X-MimeOLE: Produced By Microsoft MimeOLE V6.00.2900.3350 This is a multi-part message in MIME format. ------=_NextPart_000_0024_01C999FC.B79AE5C0 Content-Type: text/html; charset="Windows-1252" Content-Transfer-Encoding: quoted-printable Content-Location: http://www.legalitas.org/incl-php/buka.php?d=2000+9&f=uu11-2009.htm Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009
Gedung DitJend. Peraturan Perundang-undangan
Jln. Rasuna Said Kav. 6-7, Kuningan, Jakarta=20 Selatan
Email: = admin@legalitas.org

Go Back | Tentang Kami | Forum Diskusi | FAQ | Web=20 Mail

.




UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 11 TAHUN=20 2009
TENTANG
KESEJAHTERAAN SOSIAL

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG = MAHA=20 ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang: a. bahwa Pancasila dan Undang-Undang = Dasar Negara=20 Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan negara mempunyai tanggung = jawab=20 untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan memajukan kesejahteraan = umum dalam=20 rangka mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia;
b. bahwa untuk mewujudkan kehidupan yang layak dan = bermartabat,=20 serta untuk memenuhi hak atas kebutuhan dasar warga negara demi = tercapainya=20 kesejahteraan sosial, negara menyelenggarakan pelayanan dan pengembangan = kesejahteraan sosial secara terencana, terarah, dan berkelanjutan;
c. bahwa Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1974 tentang=20 Ketentuan-Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial sudah tidak sesuai dengan = perkembangan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sehingga = perlu=20 diganti;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud = pada huruf=20 a, huruf b, dan huruf c perlu membentuk Undang-Undang tentang = Kesejahteraan=20 Sosial;

Mengingat:    Pasal 18A, Pasal 20, Pasal 21, = Pasal 23=20 ayat (1), Pasal 27 ayat (2), Pasal 28C ayat (1), Pasal 28H ayat (1), = ayat (2),=20 dan ayat (3), dan Pasal 34 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia = Tahun=20 1945;

Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK=20 INDONESIA
dan
PRESIDEN REPUBLIK=20 INDONESIA

MEMUTUSKAN:

Menetapkan:  UNDANG-UN= DANG=20 TENTANG KESEJAHTERAAN SOSIAL.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam = Undang-Undang ini=20 yang dimaksudkan dengan:
1. Kesejahteraan Sosial adalah kondisi terpenuhinya = kebutuhan=20 material, spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan = mampu=20 mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya.
2. Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial adalah upaya = yang=20 terarah, terpadu, dan berkelanjutan yang dilakukan Pemerintah, = pemerintah=20 daerah, dan masyarakat dalam bentuk pelayanan sosial guna memenuhi = kebutuhan=20 dasar setiap warga negara, yang meliputi rehabilitasi sosial, jaminan = sosial,=20 pemberdayaan sosial, dan perlindungan sosial.
3. Tenaga Kesejahteraan Sosial adalah seseorang yang = dididik dan=20 dilatih secara profesional untuk melaksanakan tugas-tugas pelayanan dan=20 penanganan masalah sosial dan/atau seseorang yang bekerja, baik di = lembaga=20 pemerintah maupun swasta yang ruang lingkup kegiatannya di bidang = kesejahteraan=20 sosial.
4. Pekerja Sosial Profesional adalah seseorang yang = bekerja, baik=20 di lembaga pemerintah maupun swasta yang memiliki kompetensi dan profesi = pekerjaan sosial, dan kepedulian dalam pekerjaan sosial yang diperoleh = melalui=20 pendidikan, pelatihan, dan/atau pengalaman praktek pekerjaan sosial = untuk=20 melaksanakan tugas-tugas pelayanan dan penanganan masalah sosial.
5. Relawan Sosial adalah seseorang dan/atau kelompok = masyarakat,=20 baik yang berlatar belakang pekerjaan sosial maupun bukan berlatar = belakang=20 pekerjaan sosial, tetapi melaksanakan kegiatan penyelenggaraan di bidang = sosial=20 bukan di instansi sosial pemerintah atas kehendak sendiri dengan atau = tanpa=20 imbalan.
6. Pelaku Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial adalah = individu,=20 kelompok, lembaga kesejahteraan sosial, dan masyarakat yang terlibat = dalam=20 penyelenggaraan kesejahteraan sosial.
7. Lembaga Kesejahteraan Sosial adalah organisasi = sosial atau=20 perkumpulan sosial yang melaksanakan penyelenggaraan kesejahteraan = sosial yang=20 dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak = berbadan=20 hukum.
8. Rehabilitasi Sosial adalah proses refungsionalisasi = dan=20 pengembangan untuk memungkinkan seseorang mampu melaksanakan fungsi = sosialnya=20 secara wajar dalam kehidupan masyarakat.
9. Perlindungan Sosial adalah semua upaya yang = diarahkan untuk=20 mencegah dan menangani risiko dari guncangan dan kerentanan = sosial.
10. Pemberdayaan Sosial adalah semua upaya yang = diarahkan untuk=20 menjadikan warga negara yang mengalami masalah sosial mempunyai daya, = sehingga=20 mampu memenuhi kebutuhan dasarnya.
11. Jaminan Sosial adalah skema yang melembaga untuk = menjamin=20 seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya yang = layak.
12. Warga Negara adalah warga negara Republik Indonesia = yang=20 ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan.
13. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, = adalah=20 Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara = Republik=20 Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik = Indonesia Tahun 1945.
14. Pemerintah Daerah adalah gubernur, bupati, atau = walikota, dan=20 perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan = daerah.
15.=20 Menteri adalah menteri yang membidangi urusan sosial.

BAB II
ASAS DAN TUJUAN

Pasal 2
Penyelenggaraan = kesejahteraan sosial dilakukan berdasarkan asas:
a. = kesetiakawanan;
b.=20 keadilan;
c. kemanfaatan;
d. keterpaduan;
e. kemitraan;
f.=20 keterbukaan;
g. akuntabilitas;
h. partisipasi;
i. = profesionalitas;=20 dan
j. keberlanjutan.

Pasal 3
Penyelenggaraan kesejahteraan sosial = bertujuan:
a.=20 meningkatkan taraf kesejahteraan, kualitas, dan kelangsungan = hidup;
b.=20 memulihkan fungsi sosial dalam rangka mencapai kemandirian;
c. meningkatkan ketahanan sosial masyarakat dalam = mencegah dan=20 menangani masalah kesejahteraan sosial;
d. meningkatkan kemampuan, kepedulian dan tanggungjawab = sosial=20 dunia usaha dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial secara melembaga = dan=20 berkelanjutan;
e. meningkatkan kemampuan dan kepedulian masyarakat = dalam=20 penyelenggaraan kesejahteraan sosial secara melembaga dan berkelanjutan; = dan
f. meningkatkan kualitas manajemen penyelenggaraan = kesejahteraan=20 sosial.

BAB III
PENYELENGGARAAN KESEJAHTERAAN SOSIAL

Bagian=20 Kesatu
Umum

Pasal 4
Negara bertanggung jawab atas=20 penyelenggaraan kesejahteraan sosial.

Pasal 5
(1) Penyelenggaraan kesejahteraan sosial = ditujukan=20 kepada:
a. perseorangan;
b. keluarga;
c. kelompok; = dan/atau
d.=20 masyarakat.
(2) Penyelenggaraan kesejahteraan sosial sebagaimana = dimaksud=20 pada ayat (1) diprioritaskan kepada mereka yang memiliki kehidupan yang = tidak=20 layak secara kemanusiaan dan memiliki kriteria masalah sosial:
a. kemiskinan;
b. ketelantaran;
c. = kecacatan;
d.=20 keterpencilan;
e. ketunaan sosial dan penyimpangan perilaku;
f. = korban=20 bencana; dan/atau
g. korban tindak kekerasan, eksploitasi dan=20 diskriminasi.

Pasal 6
Penyelenggaraan kesejahteraan sosial = meliputi:
a.=20 rehabilitasi sosial;
b. jaminan sosial;
c. pemberdayaan sosial; = dan
d.=20 perlindungan sosial.

Bagian Kedua
Rehabilitasi Sosial

Pasal 7
(1) Rehabilitasi sosial dimaksudkan untuk memulihkan = dan=20 mengembangkan kemampuan seseorang yang mengalami disfungsi sosial agar = dapat=20 melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar.
(2) Rehabilitasi sosial sebagaimana dimaksud pada ayat = (1) dapat=20 dilaksanakan secara persuasif, motivatif, koersif, baik dalam keluarga,=20 masyarakat maupun panti sosial.
(3) Rehabilitasi sosial sebagaimana dimaksud pada ayat = (2)=20 diberikan dalam bentuk:
a. motivasi dan diagnosis psikososial;
b. perawatan = dan=20 pengasuhan;
c. pelatihan vokasional dan pembinaan = kewirausahaan;
d.=20 bimbingan mental spiritual;
e. bimbingan fisik;
f. bimbingan = sosial dan=20 konseling psikososial;
g. pelayanan aksesibilitas;
h. bantuan dan=20 asistensi sosial;
i. bimbingan resosialisasi;
j. bimbingan lanjut; = dan/atau
k. rujukan.

Pasal 8
Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan = rehabilitasi=20 sosial diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Bagian Ketiga
Jaminan Sosial

Pasal 9
(1) = Jaminan=20 sosial dimaksudkan untuk:
a. menjamin fakir miskin, anak yatim piatu terlantar, = lanjut usia=20 terlantar, penyandang cacat fisik, cacat mental, cacat fisik dan mental, = eks=20 penderita penyakit kronis yang mengalami masalah ketidakmampuan = sosial-ekonomi=20 agar kebutuhan dasarnya terpenuhi.
b. menghargai pejuang, perintis kemerdekaan, dan = keluarga=20 pahlawan atas jasa-jasanya.
(2) Jaminan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) = huruf a=20 diberikan dalam bentuk asuransi kesejahteraan sosial dan bantuan = langsung=20 berkelanjutan.
(3) Jaminan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) = huruf b=20 diberikan dalam bentuk tunjangan berkelanjutan.

Pasal 10
(1) Asuransi kesejahteraan sosial diselenggarakan untuk = melindungi warga negara yang tidak mampu membayar premi agar mampu = memelihara=20 dan mempertahankan taraf kesejahteraan sosialnya.
(2) Asuransi kesejahteraan sosial sebagaimana dimaksud = pada ayat=20 (1) diberikan dalam bentuk bantuan iuran oleh Pemerintah.

Pasal 11
Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan = jaminan=20 sosial diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Bagian Keempat
Pemberdayaan Sosial

Pasal = 12
(1)=20 Pemberdayaan sosial dimaksudkan untuk:
a. memberdayakan seseorang, keluarga, kelompok, dan = masyarakat=20 yang mengalami masalah kesejahteraan sosial agar mampu memenuhi = kebutuhannya=20 secara mandiri.
b. meningkatkan peran serta lembaga dan/atau = perseorangan sebagai=20 potensi dan sumber daya dalam penyelenggaraan kesejahteraan=20 sosial.
(2) Pemberdayaan sosial sebagaimana dimaksud pada = ayat (1)=20 dilakukan melalui:
a. peningkatan kemauan dan kemampuan;
b. penggalian = potensi=20 dan sumber daya;
c. penggalian nilai-nilai dasar;
d. pemberian = akses;=20 dan/atau
e. pemberian bantuan usaha.
(3) Pemberdayaan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat = (1) huruf=20 a dilakukan dalam bentuk:
a. diagnosis dan pemberian motivasi;
b. pelatihan=20 keterampilan;
c. pendampingan;
d. pemberian stimulan modal, = peralatan=20 usaha, dan tempat usaha;
e. peningkatan akses pemasaran hasil = usaha;
f.=20 supervisi dan advokasi sosial;
g. penguatan keserasian sosial;
h. = penataan=20 lingkungan; dan/atau
i. bimbingan lanjut.
(4) Pemberdayaan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat = (1) huruf=20 b dilakukan dalam bentuk:
a. diagnosis dan pemberian motivasi;
b. penguatan = kelembagaan=20 masyarakat;
c. kemitraan dan penggalangan dana; dan/atau
d. = pemberian=20 stimulan.

Pasal 13
Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan=20 pemberdayaan sosial diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Bagian Kelima
Perlindungan Sosial

Pasal 14
(1) Perlindungan sosial dimaksudkan untuk mencegah dan = menangani=20 risiko dari guncangan dan kerentanan sosial seseorang, keluarga, = kelompok,=20 dan/atau masyarakat agar kelangsungan hidupnya dapat dipenuhi sesuai = dengan=20 kebutuhan dasar minimal.
(2) Perlindungan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat = (1)=20 dilaksanakan melalui:
a. bantuan sosial;
b. advokasi sosial; = dan/atau
c. bantuan=20 hukum.

Pasal 15
(1) Bantuan sosial dimaksudkan agar seseorang, = keluarga,=20 kelompok, dan/atau masyarakat yang mengalami guncangan dan kerentanan = sosial=20 dapat tetap hidup secara wajar.
(2) Bantuan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) = bersifat=20 sementara dan/atau berkelanjutan dalam bentuk:
a. bantuan langsung;
b. penyediaan aksesibilitas;=20 dan/atau
c. penguatan kelembagaan.

Pasal 16
(1) Advokasi sosial dimaksudkan untuk melindungi dan = membela=20 seseorang, keluarga, kelompok, dan/atau masyarakat yang dilanggar = haknya.
(2) Advokasi sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) = diberikan=20 dalam bentuk penyadaran hak dan kewajiban, pembelaan, dan pemenuhan=20 hak.

Pasal 17
(1) Bantuan hukum diselenggarakan untuk mewakili = kepentingan=20 warga negara yang menghadapi masalah hukum dalam pembelaan atas hak, = baik di=20 dalam maupun di luar pengadilan.
(2) Bantuan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) = diberikan=20 dalam bentuk pembelaan dan konsultasi hukum.

Pasal 18
Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan=20 perlindungan sosial diatur dalam Peraturan Pemerintah.

BAB IV
PENANGGULANGAN KEMISKINAN

Pasal=20 19
Penanggulangan kemiskinan merupakan kebijakan, program, dan = kegiatan=20 yang dilakukan terhadap orang, keluarga, kelompok dan/atau masyarakat = yang tidak=20 mempunyai atau mempunyai sumber mata pencaharian dan tidak dapat = memenuhi=20 kebutuhan yang layak bagi kemanusiaan.

Pasal 20
Penanggulangan kemiskinan ditujukan untuk:
a. meningkatkan kapasitas dan mengembangkan kemampuan = dasar serta=20 kemampuan berusaha masyarakat miskin;
b. memperkuat peran masyarakat miskin dalam pengambilan = keputusan=20 kebijakan publik yang menjamin penghargaan, perlindungan, dan pemenuhan = hak-hak=20 dasar;
c. mewujudkan kondisi dan lingkungan ekonomi, politik, = dan sosial=20 yang memungkinkan masyarakat miskin dapat memperoleh kesempatan = seluas-luasnya=20 dalam pemenuhan hak-hak dasar dan peningkatan taraf hidup secara = berkelanjutan;=20 dan
d. memberikan rasa aman bagi kelompok masyarakat miskin dan=20 rentan.

Pasal 21
Penanggulangan kemiskinan dilaksanakan dalam=20 bentuk:
a. penyuluhan dan bimbingan sosial;
b. pelayanan = sosial;
c.=20 penyediaan akses kesempatan kerja dan berusaha;
d. penyediaan akses = pelayanan=20 kesehatan dasar;
e. penyediaan akses pelayanan pendidikan = dasar;
f.=20 penyediaan akses pelayanan perumahan dan permukiman; dan/atau
g. = penyediaan=20 akses pelatihan, modal usaha, dan pemasaran hasil usaha.

Pasal 22
Pelaksanaan penanggulangan kemiskinan = sebagaimana=20 dimaksud dalam Pasal 19 menjadi tanggung jawab Menteri.

Pasal 23
Ketentuan lebih lanjut mengenai penanggulangan=20 kemiskinan diatur dengan Peraturan Pemerintah.

BAB V
TANGGUNG JAWAB DAN WEWENANG

Bagian=20 Kesatu
Umum

Pasal 24
(1) Penyelenggaraan kesejahteraan = sosial=20 menjadi tanggung jawab:
a. Pemerintah; dan
b. Pemerintah daerah.
(2) Tanggung jawab penyelenggaraan kesejahteraan sosial = sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilaksanakan oleh = Menteri.
(3) Tanggung jawab penyelenggaraan kesejahteraan sosial = sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilaksanakan:
a. untuk tingkat provinsi oleh gubernur;
b. untuk = tingkat=20 kabupaten/kota oleh bupati/walikota.

Bagian Kedua
Pemerintah

Pasal 25
Tanggung = jawab=20 Pemerintah dalam menyelenggarakan kesejahteraan sosial meliputi:
a.=20 merumuskan kebijakan dan program penyelenggaraan kesejahteraan = sosial;
b.=20 menyediakan akses penyelenggaraan kesejahteraan sosial;
c. melaksanakan rehabilitasi sosial, jaminan sosial, = pemberdayaan=20 sosial, dan perlindungan sosial sesuai dengan ketentuan peraturan=20 perundang-undangan;
d. memberikan bantuan sosial sebagai stimulan kepada = masyarakat=20 yang menyelenggarakan kesejahteraan sosial;
e. mendorong dan memfasilitasi masyarakat serta dunia = usaha dalam=20 melaksanakan tanggung jawab sosialnya;
f. meningkatkan kapasitas kelembagaan dan sumber daya = manusia di=20 bidang kesejahteraan sosial;
g. menetapkan standar pelayanan, registrasi, = akreditasi, dan=20 sertifikasi pelayanan kesejahteraan sosial;
h. melaksanakan analisis dan audit dampak sosial = terhadap=20 kebijakan dan aktivitas pembangunan;
i. menyelenggarakan pendidikan = dan=20 penelitian kesejahteraan sosial;
j. melakukan pembinaan dan pengawasan serta pemantauan = dan=20 evaluasi terhadap penyelenggaraan kesejahteraan sosial;
k. mengembangkan jaringan kerja dan koordinasi lintas = pelaku=20 penyelenggaraan kesejahteraan sosial tingkat nasional dan internasional = dalam=20 penyelenggaraan kesejahteraan sosial;
l. memelihara taman makam = pahlawan=20 dan makam pahlawan nasional;
m. melestarikan nilai kepahlawanan, keperintisan, dan=20 kesetiakawanan sosial; dan
n. mengalokasikan anggaran untuk penyelenggaraan = kesejahteraan=20 sosial dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Pasal 26
Wewenang Pemerintah dalam penyelenggaraan = kesejahteraan=20 sosial meliputi:
a. penetapan kebijakan dan program penyelenggaraan = kesejahteraan=20 sosial selaras dengan kebijakan pembangunan nasional;
b. penetapan standar pelayanan minimum, registrasi, = akreditasi,=20 dan sertifikasi pelayanan kesejahteraan sosial;
c. koordinasi = pelaksanaan=20 program penyelenggaraan kesejahteraan sosial;
d. pelaksanaan kerja sama dalam penyelenggaraan = kesejahteraan=20 sosial dengan negara lain, dan lembaga kesejahteraan sosial, baik = nasional=20 maupun internasional;
e. pemberian izin dan pengawasan pengumpulan sumbangan = dan=20 penyaluran bantuan sosial;
f. pendayagunaan dana yang berasal dari = dunia=20 usaha dan masyarakat;
g. pemeliharaan taman makam pahlawan dan makam = pahlawan=20 nasional; dan
h. pelestarian nilai kepahlawanan, keperintisan, dan=20 kesetiakawanan sosial.

Bagian Ketiga
Pemerintah Daerah

Pasal = 27
Tanggung=20 jawab pemerintah provinsi dalam menyelenggarakan kesejahteraan sosial=20 meliputi:
a. mengalokasikan anggaran untuk penyelenggaraan = kesejahteraan=20 sosial dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah;
b. melaksanakan penyelenggaraan kesejahteraan sosial = lintas=20 kabupaten/kota, termasuk dekonsentrasi dan tugas pembantuan;
c. memberikan bantuan sosial sebagai stimulan kepada = masyarakat=20 yang menyelenggarakan kesejahteraan sosial;
d. memelihara taman = makam=20 pahlawan; dan
e. melestarikan nilai kepahlawanan, keperintisan, dan=20 kesetiakawanan sosial.

Pasal 28
Wewenang pemerintah provinsi dalam = penyelenggaraan=20 kesejahteraan sosial meliputi:
a. penetapan kebijakan penyelenggaraan kesejahteraan = sosial yang=20 bersifat lintas kabupaten/kota selaras dengan kebijakan pembangunan = nasional di=20 bidang kesejahteraan sosial;
b. penetapan kebijakan kerja sama dalam penyelenggaraan = kesejahteraan sosial dengan lembaga kesejahteraan sosial nasional;
c. pemberian izin dan pengawasan pengumpulan sumbangan = dan=20 penyaluran bantuan sosial sesuai dengan kewenangannya;
d. = koordinasi=20 pelaksanaan program penyelenggaraan kesejahteraan sosial;
e. = pemeliharaan=20 taman makam pahlawan; dan
f. pelestarian nilai kepahlawanan, = keperintisan,=20 dan kesetiakawanan sosial.

Pasal 29
Tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota dalam=20 menyelenggarakan kesejahteraan sosial meliputi:
a. mengalokasikan anggaran untuk penyelenggaraan = kesejahteraan=20 sosial dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah;
b. melaksanakan penyelenggaraan kesejahteraan sosial di = wilayahnya/bersifat lokal, termasuk tugas pembantuan;
c. memberikan bantuan sosial sebagai stimulan kepada = masyarakat=20 yang menyelenggarakan kesejahteraan sosial;
d. memelihara taman = makam=20 pahlawan; dan
e. melestarikan nilai kepahlawanan, keperintisan, dan=20 kesetiakawanan sosial.

Pasal 30
Wewenang pemerintah kabupaten/kota dalam=20 penyelenggaraan kesejahteraan sosial meliputi:
a. penetapan kebijakan penyelenggaraan kesejahteraan = sosial yang=20 bersifat lokal selaras dengan kebijakan pembangunan nasional dan = provinsi di=20 bidang kesejahteraan sosial;
b. koordinasi pelaksanaan program penyelenggaraan = kesejahteraan=20 sosial di wilayahnya;
c. pemberian izin dan pengawasan pengumpulan sumbangan = dan=20 penyaluran bantuan sosial sesuai dengan kewenangannya;
d. = pemeliharaan=20 taman makam pahlawan; dan
e. pelestarian nilai kepahlawanan, = keperintisan,=20 dan kesetiakawanan sosial.

Pasal 31
Pemerintah dan pemerintah daerah melakukan = koordinasi=20 dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian penyelenggaraan = kesejahteraan=20 sosial.

BAB VI
SUMBER DAYA PENYELENGGARAAN KESEJAHTERAAN = SOSIAL

Bagian=20 Kesatu
Umum

Pasal 32
Sumber daya penyelenggaraan = kesejahteraan=20 sosial meliputi:
a. sumber daya manusia;
b. sarana dan prasarana;=20 serta
c. sumber pendanaan.

Bagian Kedua
Sumber Daya Manusia

Pasal 33
(1) Sumber daya manusia sebagaimana dimaksud dalam = Pasal 32 huruf=20 a terdiri atas:
a. tenaga kesejahteraan sosial;
b. pekerja sosial=20 profesional;
c. relawan sosial; dan
d. penyuluh sosial.
(2) Tenaga kesejahteraan sosial, pekerja sosial = profesional, dan=20 penyuluh sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, huruf b, dan = huruf d=20 sekurang-kurangnya memiliki kualifikasi:
a. pendidikan di bidang kesejahteraan sosial;
b. = pelatihan=20 dan keterampilan pelayanan sosial; dan/atau
c. pengalaman = melaksanakan=20 pelayanan sosial.

Pasal 34
(1) Tenaga kesejahteraan sosial, pekerja sosial = profesional, dan=20 penyuluh sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (1) huruf a, = huruf b,=20 dan huruf d dapat memperoleh:
a. pendidikan;
b. pelatihan;
c. promosi;
d. = tunjangan;=20 dan/atau
e. penghargaan.
(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) = dilaksanakan=20 sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Bagian Ketiga
Sarana dan Prasarana

Pasal = 35
(1) Sarana=20 dan prasarana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 huruf b meliputi:
a. panti sosial;
b. pusat rehabilitasi = sosial;
c. pusat=20 pendidikan dan pelatihan;
d. pusat kesejahteraan sosial;
e. rumah=20 singgah;
f. rumah perlindungan sosial.
(2) Sarana dan prasarana sebagaimana dimaksud pada ayat = (1)=20 memiliki standar minimum yang ditetapkan oleh Pemerintah.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai standar sarana dan = prasarana=20 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan = Pemerintah.

Bagian Keempat
Sumber Pendanaan

Pasal 36
(1) = Sumber=20 pendanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 huruf c meliputi:
a. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;
b. = anggaran=20 pendapatan dan belanja daerah;
c. sumbangan masyarakat;
d. dana yang disisihkan dari badan usaha sebagai = kewajiban dan=20 tanggung jawab sosial dan lingkungan;
e. bantuan asing sesuai dengan kebijakan Pemerintah dan = peraturan=20 perundang-undangan; serta
f. sumber pendanaan yang sah berdasarkan ketentuan = peraturan=20 perundang-undangan.
(2) Pengalokasian sumber pendanaan sebagaimana dimaksud = pada ayat=20 (1) huruf a dan huruf b dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan=20 perundang-undangan.
(3) Pengumpulan dan penggunaan sumber pendanaan = sebagaimana=20 dimaksud pada ayat (1) huruf c, huruf d, huruf e, dan huruf f = dilaksanakan=20 sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 37
Usaha pengumpulan dan penggunaan sumber = pendanaan yang=20 berasal dari masyarakat bagi kepentingan kesejahteraan sosial selain = sebagaimana=20 ditetapkan dalam Pasal 36 ayat (3) dilaksanakan oleh Menteri, gubernur,=20 bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.

BAB VII
PERAN MASYARAKAT

Pasal 38
(1) Masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya = untuk=20 berperan dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial.
(2) Peran = sebagaimana=20 dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan oleh:
a. perseorangan;
b. keluarga;
c. organisasi=20 keagamaan;
d. organisasi sosial kemasyarakatan;
e. lembaga swadaya = masyarakat;
f. organisasi profesi;
g. badan usaha;
h. lembaga=20 kesejahteraan sosial; dan
i. lembaga kesejahteraan sosial = asing.
(3) Peran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan = untuk=20 mendukung keberhasilan penyelenggaraan kesejahteraan sosial.

Pasal 39
(1) Organisasi profesi sebagaimana dimaksud dalam Pasal = 38 ayat=20 (2) huruf f, terdiri atas:
a. ikatan pekerja sosial profesional;
b. lembaga = pendidikan=20 pekerjaan sosial; dan
c. lembaga kesejahteraan sosial.
(2) Untuk menjaga dan menegakkan profesionalisme, = organisasi=20 profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menetapkan kode = etik.

Pasal 40
Peran badan usaha sebagaimana dimaksud dalam = Pasal 38=20 huruf g dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial dilakukan sebagai = tanggung=20 jawab sosial dan lingkungan sesuai dengan ketentuan peraturan=20 perundang-undangan.

Pasal 41
Pemerintah memberikan penghargaan dan dukungan = kepada=20 masyarakat yang berperan dalam penyelenggaraan kesejahteraan = sosial.

Pasal 42
(1) Untuk melaksanakan peran masyarakat dalam = penyelenggaraan=20 kesejahteraan sosial dapat dilakukan koordinasi antar lembaga/organisasi = sosial.
(2) Pelaksanaan koordinasi peyelenggaraan kesejahteraan = sosial=20 oleh masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwujudkan dengan = membentuk=20 suatu lembaga koordinasi kesejahteraan sosial nonpemerintah dan bersifat = terbuka, independen, serta mandiri.
(3) Lembaga koordinasi kesejahteraan sosial = nonpemerintah,=20 sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dibentuk pada tingkat nasional, = provinsi,=20 dan kabupaten/kota.
(4) Lembaga koordinasi kesejahteraan sosial baik pada = tingkat=20 nasional, provinsi, maupun kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat = (3)=20 bersifat otonom, dan bukan merupakan lembaga yang mempunyai hubungan=20 hierarki.

Pasal 43
Lembaga koordinasi kesejahteraan sosial = mempunyai=20 tugas:
a. mengkoordinasikan organisasi/lembaga sosial;
b. membina=20 organisasi/lembaga sosial;
c. mengembangkan model pelayanan = kesejahteraan=20 sosial;
d. menyelenggarakan forum komunikasi dan konsultasi=20 penyelenggaraan kesejahteraan sosial; dan
e. melakukan advokasi sosial dan advokasi anggaran = terhadap=20 lembaga/organisasi sosial.

Pasal 44
Pembentukan lembaga koordinasi sebagaimana = dimaksud=20 dalam Pasal 42 ayat (4) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan=20 perundang-undangan.

Pasal 45
Ketentuan lebih lanjut mengenai peran = masyarakat diatur=20 dengan Peraturan Pemerintah.

BAB VIII
PENDAFTARAN DAN PERIZINAN LEMBAGA KESEJAHTERAAN=20 SOSIAL

Pasal 46
(1) Setiap lembaga yang menyelenggarakan kesejahteraan = sosial=20 wajib mendaftar kepada kementerian atau instansi di bidang sosial sesuai = dengan=20 wilayah kewenangannya.
(2) Pendaftaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) = dilaksanakan=20 dengan cepat, mudah, dan tanpa biaya.

Pasal 47
Pemerintah dan pemerintah daerah wajib mendata = lembaga=20 yang menyelenggarakan kesejahteraan sosial.

Pasal 48
Lembaga kesejahteraan sosial asing dalam = melakukan=20 penyelenggaraan kesejahteraan sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 = ayat=20 (2) huruf i wajib memperoleh izin dan melaporkan kegiatannya kepada = Menteri,=20 gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 49
Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana = dimaksud=20 dalam Pasal 46 ayat (1) dan Pasal 48 dikenai sanksi administratif = berupa:
a.=20 peringatan tertulis;
b. penghentian sementara dari kegiatan;
c. = pencabutan=20 izin; dan/atau
d. denda administratif.

Pasal 50
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara = pendaftaran=20 bagi lembaga yang menyelenggarakan kesejahteraan sosial sebagaimana = dimaksud=20 dalam Pasal 46, dan pemberian izin penyelenggaraan kesejahteraan sosial = bagi=20 lembaga kesejahteraan sosial asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48, = serta=20 mekanisme pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam = Pasal 49=20 diatur dengan Peraturan Pemerintah.

BAB IX
AKREDITASI DAN SERTIFIKASI

Pasal 51
(1) = Akreditasi dilakukan terhadap lembaga di bidang kesejahteraan = sosial.
(2) Akreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) = dilaksanakan=20 untuk menentukan tingkat kelayakan dan standardisasi penyelenggaraan=20 kesejahteraan sosial.

Pasal 52
(1) Sertifikasi dilakukan untuk menentukan kualifikasi = dan=20 kompetensi yang sesuai di bidang penyelenggaraan kesejahteraan = sosial.
(2)=20 Sertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk sertifikat.
(3) Sertifikat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) = diberikan=20 kepada pekerja sosial profesional dan tenaga kesejahteraan sosial yang = telah=20 menyelesaikan suatu pendidikan dan/atau pelatihan.
(4) Sertifikat kompetensi sebagaimana dimaksud pada = ayat (2)=20 diberikan kepada pekerja sosial profesional dan tenaga kesejahteraan = sosial oleh=20 lembaga sertifikasi.
(5) Pemberian sertifikat sebagaimana dimaksud pada ayat = (4)=20 dilakukan atas rekomendasi organisasi profesi sesuai dengan = kewenangannya=20 sebagai pengakuan terhadap kompetensi melakukan praktek pekerjaan = sosial.
(6) Sertifikat sebagaimana dimaksud pada ayat (4) = diberikan=20 setelah lulus uji kompetensi sebagai pengakuan terhadap kompetensi dalam = melakukan penyelenggaraan kesejahteraan sosial tertentu.

Pasal 53
Ketentuan lebih lanjut mengenai akreditasi dan=20 sertifikasi diatur dalam Peraturan Menteri.

BAB X
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN SERTA PEMANTAUAN DAN=20 EVALUASI

Pasal 54
(1) Pemerintah dan pemerintah daerah melakukan = pembinaan dan=20 pengawasan terhadap aktivitas pelaku penyelenggaraan kesejahteraan = sosial sesuai=20 dengan kewenangannya masing-masing.
(2) Masyarakat dapat melakukan pembinaan dan pengawasan = terhadap=20 aktivitas pelaku penyelenggaraan kesejahteraan sosial.

Pasal 55
(1) Pemerintah dan pemerintah daerah melakukan = pemantauan dan=20 evaluasi terhadap penyelenggaraan kesejahteraan sosial sesuai dengan=20 kewenangannya.
(2) Pemantauan dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada = ayat (1)=20 dilakukan sebagai bentuk akuntabilitas dan pengendalian mutu = penyelenggaraan=20 kesejahteraan sosial.

Pasal 56
Pembinaan dan pengawasan, serta pemantauan dan = evaluasi=20 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 dan Pasal 55 dilaksanakan sesuai = dengan=20 ketentuan peraturan perundang-undangan.

BAB XI
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 57
Pada saat = mulai=20 berlakunya Undang-Undang ini, Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1974 tentang=20 Ketentuan-Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial (Lembaran Negara Republik = Indonesia Tahun 1974 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik = Indonesia Nomor=20 3039) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 58
Peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor = 6 Tahun=20 1974 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial (Lembaran = Negara=20 Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara = Republik=20 Indonesia Nomor 3039) yang ada pada saat diundangkannya Undang-Undang = ini, masih=20 tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan atau diganti berdasarkan=20 Undang-Undang ini.

Pasal 59
Peraturan pelaksanaan Undang-Undang ini harus = sudah=20 ditetapkan paling lambat 1 (satu) tahun sejak diundangkannya = Undang-Undang=20 ini.

Pasal 60
Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal=20 diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan = pengundangan=20 Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik=20 Indonesia.

Disahkan di Jakarta
pada tanggal 16 Januari = 2009
PRESIDEN=20 REPUBLIK INDONESIA,

DR. H. SUSILO BAMBANG = YUDHOYONO
Diundangkan di=20 Jakarta
pada tanggal 16 Januari 2009
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI=20 MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

ANDI=20 MATTALATTA




LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN = 2009=20 NOMOR 12.


PENJELASAN
A T A S
UNDANG-UNDANG REPUBLIK = INDONESIA
NOMOR 11=20 TAHUN 2009
TENTANG
KESEJAHTERAAN SOSIAL

I. = UMUM

Pembangunan kesejahteraan sosial merupakan = perwujudan dari=20 upaya mencapai tujuan bangsa yang diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar = Negara=20 Republik Indonesia Tahun 1945. Sila kelima Pancasila menyatakan bahwa = keadilan=20 sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dan Pembukaan Undang-Undang Dasar = Negara=20 Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan negara untuk melindungi = segenap=20 bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan = kesejahteraan=20 umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban = dunia=20 berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Permasalahan kesejahteraan sosial yang berkembang = dewasa ini=20 menunjukkan bahwa ada warga negara yang belum terpenuhi hak atas = kebutuhan=20 dasarnya secara layak karena belum memperoleh pelayanan sosial dari = negara.=20 Akibatnya, masih ada warga negara yang mengalami hambatan pelaksanaan = fungsi=20 sosial sehingga tidak dapat menjalani kehidupan secara layak dan=20 bermartabat.
Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara = Republik=20 Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan kewajiban negara untuk memelihara = fakir=20 miskin dan anak terlantar. Bagi fakir miskin dan anak terlantar seperti = yang=20 dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, = Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan rehabilitasi sosial, jaminan = sosial,=20 pemberdayaan sosial, dan perlindungan sosial sebagai perwujudan = pelaksanaan=20 kewajiban negara dalam menjamin terpenuhinya hak atas kebutuhan dasar = warga=20 negara yang miskin dan tidak mampu.
Huruf b.
Dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial, = diperlukan peran=20 masyarakat yang seluas-luasnya, baik perseorangan, keluarga, organisasi=20 keagamaan, organisasi sosial kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat, = organisasi profesi, badan usaha, lembaga kesejahteraan sosial, maupun = lembaga=20 kesejahteraan sosial asing demi terselenggaranya kesejahteraan sosial = yang=20 terarah, terpadu, dan berkelanjutan.
Untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar warga = negara,=20 serta untuk menghadapi tantangan dan perkembangan kesejahteraan sosial = di=20 tingkat lokal, nasional, dan global, perlu dilakukan penggantian = Undang-Undang=20 Nomor 6 Tahun 1974 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kesejahteraan = Sosial.=20 Materi pokok yang diatur dalam Undang-Undang ini, antara lain, pemenuhan = hak=20 atas kebutuhan dasar, penyelenggaraan kesejahteraan sosial secara = komprehensif=20 dan profesional, serta perlindungan masyarakat. Untuk menghindari = penyalahgunaan=20 kewenangan dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial, Undang-Undang ini = juga=20 mengatur pendaftaran dan perizinan serta sanksi administratif bagi = lembaga yang=20 menyelenggarakan kesejahteraan sosial. Dengan demikian, penyelenggaraan=20 kesejahteraan sosial dapat memberikan keadilan sosial bagi warga negara = untuk=20 dapat hidup secara layak dan bermartabat.

II. PASAL DEMI=20 PASAL

Pasal 1
Cukup jelas.

Pasal 2
Huruf a
Yang dimaksud dengan "asas kesetiakawanan" adalah = dalam=20 penyelenggaraan kesejahteraan sosial harus dilandasi oleh kepedulian = sosial=20 untuk membantu orang yang membutuhkan pertolongan dengan empati dan = kasih sayang=20 (Tat Twam Asi).
Huruf b
Yang dimaksud dengan "asas keadilan" adalah dalam=20 penyelenggaraan kesejahteraan sosial harus menekankan pada aspek = pemerataan,=20 tidak diskriminatif dan keseimbangan antara hak dan = kewajiban.
Huruf c
Yang dimaksud dengan "asas kemanfaatan" adalah dalam=20 penyelenggaraan kesejahteraan sosial harus memberi manfaat bagi = peningkatan=20 kualitas hidup warga negara.
Huruf d
Yang dimaksud dengan "asas keterpaduan" adalah dalam=20 penyelenggaraan kesejahteraan sosial harus mengintegrasikan berbagai = komponen=20 yang terkait sehingga dapat berjalan secara terkoordinir dan=20 sinergis.
Huruf e
Yang dimaksud dengan "asas kemitraan" adalah dalam = menangani=20 masalah kesejahteraan sosial diperlukan kemitraan antara Pemerintah dan=20 masyarakat, Pemerintah sebagai penanggung jawab dan masyarakat sebagai = mitra=20 Pemerintah dalam menangani permasalahan kesejahteraan sosial dan = peningkatan=20 kesejahteraan sosial.
Huruf f
Yang dimaksud dengan "asas keterbukaan" adalah = memberikan akses=20 yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mendapatkan informasi yang = terkait=20 dengan penyelenggaraan kesejahteraan sosial.
Huruf g
Yang dimaksud dengan "asas akuntabilitas" adalah dalam = setiap=20 penyelenggaraan kesejahteraan sosial harus dapat dipertanggungjawabkan = sesuai=20 dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Huruf h
Yang dimaksud dengan "asas partisipasi" adalah dalam = setiap=20 penyelenggaraan kesejahteraan sosial harus melibatkan seluruh komponen=20 masyarakat.
Huruf i
Yang dimaksud dengan "asas profesionalitas" adalah = dalam setiap=20 penyelenggaraan kesejahteraan sosial kepada masyarakat agar dilandasi = dengan=20 profesionalisme sesuai dengan lingkup tugasnya dan dilaksanakan = seoptimal=20 mungkin.
Huruf j
Yang dimaksud dengan "asas keberlanjutan" adalah dalam = menyelenggarakan kesejahteraan sosial dilaksanakan secara = berkesinambungan,=20 sehingga tercapai kemandirian.

Pasal 3
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Yang dimaksud dengan "memulihkan fungsi sosial" adalah = pengembangan dan peningkatan kualitas diri, baik secara psikologis, = fisik,=20 sosial, maupun potensi diri lainnya.
Huruf c
Cukup jelas
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.

Pasal 4
Cukup jelas.

Pasal 5
Cukup jelas.

Pasal 6
Cukup jelas.

Pasal 7
Ayat (1)
Seseorang yang mengalami disfungsi sosial antara lain = penyandang=20 cacat fisik, cacat mental, cacat fisik dan mental, tuna susila, = gelandangan,=20 pengemis, eks penderita penyakit kronis, eks narapidana, eks pecandu = narkotika,=20 pengguna psikotropika sindroma ketergantungan, orang dengan HIV/AIDS = (ODHA),=20 korban tindak kekerasan, korban bencana, korban perdagangan orang, anak=20 terlantar, dan anak dengan kebutuhan khusus.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "koersif" yaitu tindakan = pemaksaan dalam=20 proses rehabilitasi sosial.
Ayat (3)
Cukup jelas

Pasal 8
Cukup jelas.

Pasal 9
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "asuransi kesejahteraan sosial" = yaitu=20 asuransi yang secara khusus diberikan kepada warga negara tidak mampu = dan tidak=20 terakses oleh sistem asuransi sosial pada umumnya yang berbasis pada = kontribusi=20 peserta.
Yang dimaksud dengan "bantuan langsung berkelanjutan" yaitu = bantuan=20 yang diberikan secara terus menerus untuk mempertahankan taraf = kesejahteraan=20 sosial dan upaya untuk mengembangkan kemandirian.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan "tunjangan berkelanjutan" yaitu = bantuan=20 yang diberikan kepada perintis kemerdekaan dan putra-putri pahlawan = nasional=20 antara lain dalam bentuk tunjangan kesehatan dan tunjangan=20 pendidikan.

Pasal 10
Cukup jelas.

Pasal 11
Cukup jelas.

Pasal 12
Ayat (1)
Huruf a
Yang dimaksud dengan "yang mengalami masalah = kesejahteraan=20 sosial" yaitu mereka yang miskin, terpencil, rentan sosial = ekonomi.
Huruf=20 b
Yang dimaksud dengan "lembaga dan/atau perseorangan" = antara lain=20 organisasi sosial, lembaga konsultasi kesejahteraan keluarga, karang = taruna,=20 pekerja sosial masyarakat.
Yang dimaksud dengan "potensi dan sumber = daya=20 dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial", antara lain: nilai = kepahlawanan,=20 kejuangan, dan keperintisan, kesetiakawanan sosial dan kearifan lokal,=20 peranserta organisasi sosial/lembaga sosial swadaya masyarakat, = kerelawanan=20 sosial (tenaga kesejahteraan sosial masyarakat, karang taruna, pekerja = sosial=20 masyarakat), tanggung jawab sosial dunia usaha, penggalangan dana = sosial, dan=20 ketersediaan sarana dan prasarana pelayanan kesejahteraan=20 sosial.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.

Pasal 13
Cukup jelas

Pasal 14
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "guncangan dan kerentanan sosial" = yaitu=20 keadaan tidak stabil yang terjadi secara tiba-tiba sebagai akibat dari = situasi=20 krisis sosial, ekonomi, politik, bencana, dan fenomena alam.
Ayat = (2)
Cukup jelas.

Pasal 15
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Bentuk bantuan sosial antara lain makanan pokok, = pakaian, tempat=20 tinggal (rumah penampungan sementara), dana tunai, perawatan kesehatan = dan=20 obat-obatan, akses pelayanan dasar (kesehatan, pendidikan), bimbingan=20 teknis/supervisi, dan penyediaan pemakaman.

Pasal 16
Cukup jelas.

Pasal 17
Cukup jelas.

Pasal 18
Cukup jelas.

Pasal 19
Cukup jelas.

Pasal 20
Cukup jelas

Pasal 21
Cukup jelas.

Pasal 22
Cukup jelas.

Pasal 23
Cukup jelas.

Pasal 24
Cukup jelas.

Pasal 25
Cukup jelas.

Pasal 26
Cukup jelas.

Pasal 27
Cukup jelas.

Pasal 28
Cukup jelas.

Pasal 29
Cukup jelas.

Pasal 30
Cukup jelas.

Pasal 31
Cukup jelas.

Pasal 32
Cukup jelas.

Pasal 33
Cukup jelas

Pasal 34
Cukup jelas.

Pasal 35
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Yang termasuk pusat kesejahteraan sosial antara lain = pesantren=20 dan rumah adat.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 36
Cukup jelas.

Pasal 37
Cukup jelas

Pasal 38
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Yang termasuk "organisasi sosial kemasyarakatan" = antara lain=20 organisasi kepemudaan, dan paguyuban.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas

Pasal 39
Cukup jelas.

Pasal 40
Cukup jelas.

Pasal 41
Cukup jelas.

Pasal 42
Cukup jelas.

Pasal 43
Cukup jelas.

Pasal 44
Cukup jelas.

Pasal 45
Cukup jelas.

Pasal 46
Cukup jelas.

Pasal 47
Cukup jelas.

Pasal 48
Cukup jelas.

Pasal 49
Cukup jelas.

Pasal 50
Cukup jelas.

Pasal 51
Cukup jelas

Pasal 52
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Yang dimaksud dengan "lembaga sertifikasi" yaitu = lembaga=20 independen yang menjamin mutu kompetensi dan kualifikasi bagi pekerja = sosial dan=20 tenaga kesejahteraan sosial dalam pelayanan kesejahteraan = sosial.
Ayat=20 (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.

Pasal 53
Cukup jelas.

Pasal 54
Cukup jelas.

Pasal 55
Cukup jelas.

Pasal 56
Cukup jelas.

Pasal 57
Cukup jelas

Pasal 58
Cukup jelas.

Pasal 59
Cukup jelas.

Pasal 60
Cukup jelas

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA = REPUBLIK=20 INDONESIA NOMOR 4967.

 Go Back   | Tent= ang=20 Kami | Forum = Diskusi | Web Mail | Kontak Kami  =A9=20 Legalitas.Org  
------=_NextPart_000_0024_01C999FC.B79AE5C0 Content-Type: image/gif Content-Transfer-Encoding: base64 Content-Location: http://www.legalitas.org/image/logoleft.gif R0lGODlhRQE0ANU/AGmr2vn6+kyUz5DB5M3j8+rq6mqUzW5vcWWVsb+/v4CAgJOc0tjY2sfg8bbX 7Ye84sbGx2R7oqrH1qHK6KSkpDFqt1VVVUFBQTiOzpmZm5ep2LC4xzJ5nICPr5+13fDz9KzR6zd7 wliDxZWjs32f07HJ5oez3Vef1V9gYVhofqG/4t3r9Hm03jpPbcTH4L/S4KytrXelvZahw4iwxz9e g7/b70lKS8/Pz8G73bW1teDh4o2Njp60x09YagFZhP///yH5BAEAAD8ALAAAAABFATQAAAb/wJ9w SCwaj8ikcslsOp/QqHRKrVqv2Kx2y+16v+CweEwum8/otHpNfjwGcBZG6obb73j8A4CpJQkNE3mD A3sYK1ArEw8TH1B1cXNSDXcsJyBEH4Sbdg8nGI5GioyhUx8EgpyDhhNsawAskSEFHwEBTrCqg5Yh ArS2RKiCqZwPLAIhJL+3S4ETlicEwEy5A3KztcxNDixvvCoftT81unmGITPLQ87Q0tpNATUT8+WV n9jirmYAAMYYIRUgMCjwTgm/N/XOVZAhkKCQDyDmSVTl6V+FDQ0LGhFm7RMGBvkM9rsWcKDGJA5g WfoX44aOcPXsYahwMaMQjis/hlwSIOLE/4R8AHaA4HKnvjD8ACALEWIHDJC4kkqdOhUZzQoKnIIM 8EGiIGNUp1qswEFBhhxQk2iyoxQDBgNblyRd2vRpKSYg+N0LEYEChAIO4OwJS/UezQhmc7z8sRZO 27dxefoUxIJwWKs0s8K44fDomKT/mB7Y8TcqAI9uU6tODZBmDxQKKNwI53XPCQGrc7eu8FqBXSXk Cp1W/VtkUNGkCzzJe5ppiBS+GQg+lrv62AoWYCu+Fdw28bRKKH19bH31bhooDmSYfdIzF9DOLShI oLxJUo/O8+u/SuOCfLs+deSWfgSe558C26llR06pIZCADu0JAR9T8tH3RErNMUXDARSUIP+gc7rt R1MLF8D2IFcLouaWgxAqEUAnexVY4FUV+McheO6BMWEIFdZHjV5M0SjkkC3YgEJy8lBm2JBM0mSD Deqxl0R35KW2nlFE7NjjhXqFtiEFAwRFI1MD7jbkBVDK5giVuK12ZYQNvKFQk3RWUOSR9EWYYxZa zuejXPxgVid/B9oFo5mD0tSffAki0VhObboVQaNH9GmhExjuteEMS14VAmt0kmgihI96FCkGk7aI BAhuHINoolfZSAGOe3oxV3x+miZoonciKdgnsAr5ZJRYDsGmAMieemUSt1KYK6ZdanjArjR9KkCn Z6Y52ziCKZWsstsiUcicwV7Va55UoCL/Zw13iQJHMJ4Y8QElcDjQLhUs5EvXlk3k6ypTFwQs8MAD /wdSKq7yRyLBDAfMqKpHBECPJd9WzGJ7/u777Db5HvdlAjAoYMHAJwTqXMMlzgehxEpW/O3FSPh7 XAU2oGyzBTfe28QKD+B2bccNnKSIUuEEQIkAJBRtSw3eCpBLKp4QMIW/J+B6KRNUn/ykBVx37TXO Gfy1wq8GomnD12in92YSzoSJG5kuL3tE1s5ezQQ3lS214VkUKICC13SHYLbXsM3qSNttwV2x3EbI TNfgaEeO8w7oRtEAAAa8UIALBjh9wgmR3QTCAMgwoAMqx8xww0BjC2DCBzrM4DTFyGLw/9I0TlAt wu78Yp3vCSIge/YBChRv/PFmnViDN0tV0B+a6SEv/Q4ZnJgEy4tUDVAIwX+eLMyN/767CL0zUUPH Auy+dw4wZIC87rsPf/wOfhGEvSdBcn/tbciCX4TjyeoBzognvQKehVZNIMAxGMAACOSAAiW7TQwi oy6liIACORgd8DqAwRcM4AQk0MENQGaA04ggBB1gClFoAQX4kW9jS3BcyQbglRrW5gQrCEBg3Oac rY0GgwkIohCHSJTbsW1imOnF55Z4GzXNTXy8g+ESzpe33aVAPUSBwBAT4EIonUWIKzwcElujRCY2 MVz/u8+1+mHDNg5AAhtIQFH0dITWef/gBg/MQAYQcBpkoaUWTPPe7hQwgmekDzEUmAAAROACkFEg AzEwIWKKRz/O0JEIbvDE+MqnhExago0gCKUoRykIpaSjK47RWwpoOMpWunIRD7jeRIAXpBSYcYkd qBwm3QC8KNptim6woAiuKJsCGPOYBchkL1+IFmRmA3sfPCFAbHnLE+SyM0QIk15K9oYJuLKVxFCB EROhSBFAoH0UgEEORpA3AVBOBzU4gQRKIEkU7CF9wzwADz5ogPZlAIM8qGJ2iBe2PzEhk4v0pUGT 4MmnfTOU2dsdRqTjmPEVCZQPJWWYlIElRczjGNLsgQ2WuM0TGMBwRkDoJqUInFb1kpj/DNCIShVa R4mAlCkiJelpPndSBDInKbGYR0Yh+pV8uQMKDvDESamXA5e4QHw3YkENCiCBPeQTpLtLjyE7sIPk MeAG9xSBkTSDxibM9IW/ZGir+NENQthmd4g5C1vGd7YOOHSobjOATYagw1CGaXwRQFMEpoJLXQrh rJxsqTFeeiOZBnOlae3r6BIqgsDaYLBSKSw2hVAAqnQDIbowRr5CtwRFHKMDxStmAHSw2GGSZiA3 2OciU4AAa2bgABGwQAfK2QHi2aUA1jDACymQAJNAYa40bUInLCMV4e6uNzBArliPlBTQrgJzIkDA Ae+yAog+wLkiECnOCNPTdkk3sWyL/wNjZ6WR87K0uxH57vjEewDyojQTHthpyZg7FX91bAakTe8i I0C8BGlCk9BRjA4gwAOrpgAAEXDfAbIzgr8eYDR5GhsLDBCBUWXjuI4xgIjRe4TlYk7EKE4xeFNw oBwsCMVenAF/k4JiAjNOsuWEq412EEm2SuWa72ALikl8BHop1QAwbW+IRyxFHFM2sJPrMSx+bNgA MIAEJlWxlrVcso7xgwcBNkJPonmAI5WGMcIxQA8OgBYRVhVzETBAVhRwYQXIVgRq25ZpOWzmhSo3 DkNmqbgEI+LxGfrQ8fPiDV4sYtjAIAEz6JiW2bphEXd4B2hcgQMcMDrwivRIOciBf/8rw48Y3FcI jDYAkY1g5BMn2Qip5qSmOT0ATxtpB6EedVJMjaMAFGADKUa0sMdXQlIDIAaUQkJ35ZvnUCgiTEg+ wFMKoAMPAgABCEDMDqiHQRVAOz3s/QHqhtnnKdg00GlFwrmHjWgWPwxqSUFMUzdQGfASu9gksPSR whWPTT/DuVDm0OoC6t+kAHkI52ZyupGAOBG/uggJVzUM++2Af+sYZ7JhAMFlxo+DD+EDNxgBAgrN 7kOjOCn5Lqie1MVhnD2FGaPI95rtosNn8BE2ThGIDjyEufQkiBKLRIGZdcYEiXxX4X4+wrpLTldF f2CH1shXDBDEwBnkG9EiJgEL8s3/Z0w7e9OBuXp4b02fAtzABPkSrdRPbXR0J/0IHOH6w4nQdqQT YdZhd+6nKWfMs6fdv7y+i68TsAPc2rvkWc8XCRbvG4gV+d+5RZCq1JVvl7eo4sbocGwgcLvRbV07 9gtMy1HAOCgYffEkWDXd53F0A9isYJKPRydMYIIHdOApOtiA2O9NAjeg/tLbikcNON36gBvO1xt4 QO2VT3sTqFwIp1+86oMxscXPHeGsR33vhE/8GstqK79Wvhua7/y/vAN2OSi8BWr2+oD1AAFyQj2x lFBxEyC53KL7bm7Z3KKIbDgFoJYW8vAAJAAdFtJd9jdhjTUFojQA2idoR9CAqAc5/5HTbL52B5DA A5zBACEzMgPTAzQ0ASaweMDnCCtQA8M3AVynZmTnEB/AAJAwAM0XAy8nBBIofRAIdxA1ggW4gEVw g6m3MSeYgiu4d+jygjE4gzXIVy+YABL2N5LjNQrgV6iXAsmhBBFhfwDodevAKi0Xe0+ngqqGYZ1B AHBgAqhlIctjAB0gdLHHgFRIAiYwfTYYhyYgPwWUFdXTIqh0BxJRAg2wYLf1NQewaayyeG3odUaD gnnHYTZSHL4GAaL0FW7wfDc4hzm4ETtofT5IBEDIL4s4fA5oaY+YFpE4iePyAM/HhCKUAxnQVXlo PBTwAg0gDzyYYJtFBD0hgj3IOP81AAJauCWapoIdADZo9AEeUHsDMAKKYYYkIAN+EyVvtwSTaAI0 5AANkI3auI3amII9sYPXyI3iqI0Vl0MeBAcSEUqbVgPjSADu2ABhRwKJOBvzUovAiGIixQOAwI3u CAgVdwczUIPVGI7jyI2i6AgEsIk9GG4/GIdBeCn1+Iv2J2L5uI/b2I/wSAwDEJAxVQQrYJEFeZH9 KA+ot2bJpoucNoIwFQrxcI/ZQRomGHb7t4SMcQMzQHveNDoaAAEUUGcneSGGOA/Y2I9ESZT2+AAl UADq6BNDWZRFaY8D4AHGxADeho7e5AAo2ABOWZTxOI8FsI/kwHWBhQLvuJXuWHH/9AAHKgd2TKmV ZvmOv/gAKkALBGCIt9iJQwB2KoiDFhIAYDmKjkiWgPCWaEkMq8gYZfmWZhmPYwgDL7GPd/F0o7OQ HfkDJ0iMxoiQYZcCD6MNq5UDHdABtEcCOMAA6Uc8anJJSAB2nIaVbmmWGakBJJAAEMCaIOCaipmR I4gRqyMBKvCbKnCVuAmbv+gBGqAB8/iR/siDLKiPb2mPEgGcI/BytjmcsFlxsjlR8MhpxqkBF8aQ RKCXx6kBW3IKy7l4zZmbvxidvzmdlWmZivmc8iCbJLB/ivGR8AgCOXQLkqkCGnBFjglzDqACJKCA ASpuA0oCQneFfFUAEHBbI0AC/xkAA+2zbapVBSg4fOqYoRzKoSDgAQsgj2aRoZx2mx16oiDgnyLq FDfAYMAZnBt6oiQaEd05jxg5AfQ5lhgpoyU6icBZUDNqojKaoR8aoqh1Fi/AiP7pnXgpBEQ6nj3i l++IoyRYIjt6oj0KUT9qfj8gpYAwpEM6oPRJAgI0HxiZohJwOzqEnQR2oH7pAMjJNX5iC/AIoplZ BKuVAEnaW1lBP02Vi1EQpEMVERqwAIbqhoI6VBMAooYKgLGxOgnAAyrgAZT6m4MqSkuaiAwwkoy6 ACI1AiN5qUQ1AdMJT4woqjhqqAvghjCQpMO3pN/5nsaCgiAApX5ingRQA536qf+hiqrzUKq3oJy5 KqoQZZwhWp8lQhrkOKka8EdPV5y9daDzMgELIDL75ghG4wAeUIxNyhUf6QA8cGE5N05VkI01UAKU mq7quq6FugBQpgDmiq7rOq+U2q7vOm0c6AGT2p302q/H2YYZ0I9iaqgdYKX+uK/9qq6/WQIlsB7x mrDsaqjviha1KKZMCp7rUIslYKv0oZwDuwAFK5jwiLAQq68qwLBvgp8DWrLq2q4EOyzroaTHKQPv 9AGMWAISIG0xFQCahpx/o7P8WZfb2pmi4I7DNwK+YUmq2Qzn6rKq+rRQa6gwq7FOG7VWu3fm56AZ IAP1epxWa7UasK0osAGAgK7/T4sCNgCqDWC2X2u1HsCwPJADubqxbfu1MOsSI3ucHhCrGkG1elsh +Mm2h5q2Zdupdauqb1sCcasDH9m0h9u2xVgoDPCq7dpbhrOdmyYBdnGCHgCNC4ou3zq0grYC5oqC cQSoVLC2Vfu4E6u6jwu1BWswt5Cn2zaeq/u1xzkCB1CL/vm0Icu7t3u4GnCyFOC6r6uqE8u4NdC7 Ycu3rEa3CxC2FZKrvauqv7u8wVu3w1sCsiG02Xu4EVAzXvQXDCC4L8kZgMGw7EgAjesBG9CTjpYW pLuxfsOgRWCzGZqNL+B4ViC4x7sAd+u/x4u1DsEVOnCadPa9URuaAuypNrAD/w38v7kLvf8LwE63 AtUbvc5bBIJ7nPLxAg0sUhBsuBUcvRowAgyrwG2bAj0QMLemGB/wa4XaAXtHjy6wrwxbApN6ToX3 qAXsumVWeh+3tiUwlA2gOUu7BAWQACLTfgzzMDrAxB7oxAIju6zohGW2flTswrDxigfAfg7DIe3z xVtMMFCSFRNWxg4DhgzQk+yXJrLKWVJcxSpzA25cMGJ8W2Csxl4UajuAtmosMMODa+AHAX8svjnz ghTQAZU7nRQAi/XDDAFQAjgwAj8rxFxBAC6wAerbj0iMBQ6qflGYNsQSyhM2ymiDRZtlwDxZeFmM yl0zGl4MhVyjHqF2W7QMy/+EiMa5DMsWaGUhA4WOxr8/YMqx/FoP+sq1fBauqMy67DU/9Min/Mxd Ez3bxZ8c6Dfp8U62EMWHPFDGQz9cOgShzKqy+gEr8AIMRAEoTIueTMxR8IIwAIuxiDzUcyLyTM/1 fDx7qBG2UAAMADKvuM/zk04Dzc9N1coEHYvU84r6TND33CJ5etDiDKj5HM6bIUKPjDxn0aIbvdAF RD0UetAgHc4dPU6+dgPzzFRbwRUcWHhCV2cdnYtaWzzVg03o7AI6sGB9kwEu8AIjOc5U4GsNtEVG vUVFlA0ArUVH3dRJ3R5cQW0t2tRHTRQ3MNVg5BJSzdRU3dUQkEVc3dVZbUT/BozVTy1mSw1GA7HV RKTVIhTWYm3UX33VcB3XY20/ugjQLTpHQkDUrthVIl1cFm2aFMp5+ZDTX+VI7pMB7lwDL4ARqOsE thDDyFTZlm1MHzbZl73Zx/RhLhLVnH3Z4SDatTDaoX3aqB3ant2lpo3ZxaLZzjTZlO1MpT3bqX3b uN3ZuKOLo73arP3WtLk6vxAxAG06w83amnxOFABErggD7NsALjACp1Yr1E0ECMABL1Dd2h0F153d XwDb6oAEsr3bXPECCfDIB7TTPMm+mjwCfJfESMABPoAAMVDfiNAFMeADPhADTSDfEvAFMxAD910F EuADHKAFEhAD8s3fSbAC/whg4DOgBDPAAfQt4F3wAfrdLgE+4NvNGB/gAiGjFUr91eiMA4V3oFbg 39aN3T/Q3T8w4RzAARH+Ay8Q4xSuBBjuA6Fw3Tbu3Tyu3/8N4zJO4zZ+40Qe4wgwBEV+4DzO4kLQ 5Nkt5EN+BAV+4EVQ5EPQ5CwO5UOQ3wyeBFWu5FguBCqe5T3+4kM+4TNQ40We5Gxu5PJt4DHe4mf+ 5Gcu5TO+BuHAAIs9zkRd4nQ23VMg3xWOCIRe3wLu5T/g5WEe5o6S4WTuA//t3yru34rO6Ab+A1Xe 6Aae4/dS5kRg6fu96KNuBI7+EBnu6ZUu6aHO6qT+5Ujg6J7u6RM+3/a96v8JbuCILgGbzgGnHuae fuWujuuXXupqEA460JPTzRWwgwN3muI+MAO87gjyPQOlkN82vt8FLueZ/ug6HumTLunEPuqYfuCb rt8xnulVPudK7up0Hue5zt+KburdjurcruO4/u5ALgTzDubdPusZXuPRPu3jjgAD3utV/uaZHuyt /t8/MO7ybuxpUNo3IG2ON9kukAEYh0BRAOoP7+6vTgSnjuOQ/vHhLgEQ/+qc7uv1fr8lX+Yp3+8i 3/IMD+4mn+8hrwSynuqQDuopPwQIb+DqvvAl3+4OH/MSjwZKAzKyagsMsAEGGsdS4PEe7+A2HuEf MANynuRJEOdWjusKL+m5Vo/kK7DyWb/1ZJ7t/33d6I7dYR/vOV8E227jSb7uVv72bw/jcp7nRSDw 880YPP/toK7w1i7zVf4BL1DlWp/uVm73dN72L0D4H1DssI4GAP0LO82S3YwDGeCGhtXhoF8GHh/6 pF8FIKdztpD6XOECOBDMAkd0pR/7VtDk0Q77sn/74v3SGYADLmA6DOQCeOTK7437xF/8xm8GKS1h WcHcH72Htn/80B/90i/ZDto34bxt2E9c5MoEQQAAOw== ------=_NextPart_000_0024_01C999FC.B79AE5C0 Content-Type: image/gif Content-Transfer-Encoding: base64 Content-Location: http://www.legalitas.org/image/smalllogo.gif R0lGODlhpQAaALMPAGKg0xgTE5W/4oun1PLy83l7f7m7vsnLzTx+wrXU683i8Y6QlKWmqFhYWNvb 3P///yH5BAEAAA8ALAAAAAClABoAAAT/8MlJq7046827/2D4KcKAZImgriuAJBNBsuoAAFgqYCqw YySTZEbrvSY6jUJXFLgIoqgl4UIQrlBK7ca9IazYVrfqwFKCCMG14lWvK9TvteSjcxEALNptWTrH XggDWFlSInEIB2WFEk5fj5AMB4pGkI8Ak4sSBJUHbxJeA4qfEogHjpaQBooOnaScJqmqo4yGH4gL DGUVqLIFuZW+uZ5ZM1WYn14FDAa7FLiylr8MOsfESALRj78LzbW2HYi/nrxVDefo58uoBQXp6ONr nH+PuoXKy85IVdMMC3hf3q2j98XeBHbvBHqzwAnAABgxBMCgsomKGg5UXDQoYKAWqoTq/0p8cQdy o6Q1aL7c6ObMBoJ2Bp952bhgQYFA77qJVAmAZRZ6JEH+6lhLQR4CN9w0FGB0kFE1Nm5AvJDA5caO vKKqa9cOmDl4XKeNekAgxTEuJxu5gKmvlNVpC6Ii2NrNLM8baR9krJOgb98SNRdSQOrmjwM/Pm4M aHU0o4NF3+xe9VhigES/PRivveyXibOUN7n4fPCHbS3Jy1bRmTv0QIpYoVcuNMqlSQlvHgE8PmDg xqqGAwYYsOzQwSnftIr+mQynB40blGy4q/N8EBa77vCg3UXHdAUSN66WMSK+rKPsXQwSkAuoi6aI unkP79nsT824Dg0YsM/s/QTwADD3zP8f7anmhDsLtOfQKIjNdQ5x9I13YD7KhccRFGYFuIAnDaID oU8EOBBLKl3g9t9tzBw3jBM2/eLEAAwwwGJg/g1Bh4DYVHHJS8DcWIBL2tlA4xLSeVgDjBIC4N0Z PmL1moYcVqWkkZXZE6IBQb0TXISFBBGjAa8FBtg0lXnlTzek2OgEjqXcCNICLMBk0zk1sPUkOj0C 1tFrS5645oV63bihHzbgKWMNaF5xAANZGjlATdcE+uiGYW44Zl16BudPXt+9xuYDhAql0woxMnpO XwMgiNgC6jDzVwm6/GVTTP95CuhfAzQwqFmsmgSmDkhisWhNYS1AZDuCpbCpazBCClj/Lo+tIJwB m7ZVq18KZJttX9tyq2239ang7bdVsWoAkaky8O22KtSF7bopyGArVqHuGtwy6/ohQKL5klsCstli KMCyyuZSqTe8PapfjGP10Zm/anSWgL+iGLfCuEuU20C2gG1MLhMwZjzuX1GWwFy9HD/qsbavwlpG v92qXEDGCshbrQDDqpvAmURxnMuX1tZaQhHCufYaDZqusmgNRE+KLkctBxecCjpPzUJwSs8LRahV p/qrtFJTfYC+Tae6EarN+GXwJP6AOTCkV2xrQC4mXhCE1HinqlPeUttE99xx8R0cnGUW8JrgYSP+ 6FCVMXd4A4fbdLjibis+51WaMrNf/wKrOECtJJwvuzW3vNVYQYiminq5UJLw1mtJNAXFFey/NJpO anMCSsABvS7jD1i247lK6rB3M/c0gKdIbTPGVSuDAsZlS0sGqAdPkz/WU+j56gIRq473Jc0u6sJd kbM7o/30Dv6bzHDf/SrH032m5rQs2l/ADlCzhGAXXIl9WMgbFgC7cpIreO5/xfqZ92LUogHeh1gO ZB61oAWFK9VEc/cpVQMB+LMJusOB/XnM5xTBG/pBxnO/qVnzdFZADFwhAOdgFKMMsJH8LUM+1IIh lpZBgAXA8ADIOkc3zsEbmJzDOO6goa70ox8izm2JH8TSAghQgABY6QEOgCH69APDbujAZBm/ECKr ugHDdgSAI2Ns0QkfswjjPMYMBjyhfBiwOwpRLwBlPCOr8NgAGAaAKC/kSAB8mI4zGpKQfOwiFQNw hSr20YeAPAcBDODHKlYRiGc8wB/N8IAzWtKQhvxkGPHoyT+eMZCUJCQ6KkiIVnLSlbvTzyikSI4M DPIBPpRAFReQxW5QIIsF0CQi/fjIQfpxAbj04R5tkkgfHmACj1Tm3Px4TGX+Uo/G1OQzjxkACfSx j37UpK4ImcVvosMWWNBPGWy4oW+A4522cMAe4UlPdL4xjmeqZT33yc9++vN0+WPYCmklgQgAADs= ------=_NextPart_000_0024_01C999FC.B79AE5C0 Content-Type: text/css; charset="iso-8859-1" Content-Transfer-Encoding: quoted-printable Content-Location: http://www.legalitas.org/incl-php/ln.css BODY { BACKGROUND: #f6f6fb } .teks { FONT-WEIGHT: normal; FONT-SIZE: 14px; FONT-FAMILY: arial,tahoma,verdana } B { FONT-WEIGHT: bold } A:hover { COLOR: magenta } TD { PADDING-LEFT: 5px; FONT-WEIGHT: normal; FONT-SIZE: 12px; = VERTICAL-ALIGN: top; FONT-FAMILY: arial,tahoma,verdana } .s12 { MARGIN-LEFT: 14pt; TEXT-INDENT: -13pt } .s121 { MARGIN-LEFT: 0pt } .s120 { MARGIN-LEFT: 12pt } .s14 { MARGIN-LEFT: 18pt; TEXT-INDENT: -18pt } .s140 { MARGIN-LEFT: 16pt } .s27 { MARGIN-LEFT: 27pt; TEXT-INDENT: -12pt } .s27m { MARGIN-LEFT: 27pt; TEXT-INDENT: -27pt } .s270 { MARGIN-LEFT: 27pt } .s40 { MARGIN-LEFT: 40pt; TEXT-INDENT: -12pt } .s40m { MARGIN-LEFT: 45pt; TEXT-INDENT: -45pt } .s400 { MARGIN-LEFT: 40pt } .s60 { MARGIN-LEFT: 60pt; TEXT-INDENT: -60pt } .s600 { MARGIN-LEFT: 55pt } .s300 { MARGIN-LEFT: 300pt } .salinea { TEXT-INDENT: 14pt } .sm { MARGIN-LEFT: 76pt; TEXT-INDENT: -74pt } .sm1 { MARGIN-LEFT: 76pt; TEXT-INDENT: -13pt } .d3 { FONT: 11px arial,tahoma,verdana } H3 { TEXT-ALIGN: center } H4 { FONT: 11px arial,tahoma,verdana; COLOR: gray; TEXT-ALIGN: center } ------=_NextPart_000_0024_01C999FC.B79AE5C0--