|
CALANG – Aktivitas Yayasan Amallillah yang berkantor pusat di Bekasi Jawa Barat, yang mengutip dana dari masyarakat Rp 50.000 perorang di Aceh Jaya, telah meresahkan warga
Kutip Dana dari Warga Yayasan Amallillah Resahkan Masyarakat Aceh Barat. Sat, Mar 12th 2011, 10:35
CALANG – Aktivitas Yayasan Amallillah yang berkantor pusat di Bekasi Jawa Barat, yang mengutip dana dari masyarakat Rp 50.000 perorang di Aceh Jaya, telah meresahkan warga. Pengutipan dana itu dengan iming-iming akan diberikan modal usaha yang sumber dananya dari harta warisan mantan Presiden Indonesia Soekarno yang disimpan di Bank Swiss. Namun, sudah sekian lama dana tersebut belum juga disalurkan. Menyikapi laporan dari masyarakat, Kepala Satpol PP dan WH Aceh Jaya, Bahrum, Rabu (9/3) memanggil koordinator Yayasan Amallillah, Aceh Jaya, Salihin, untuk dimintai penjelasannya terhadap kutipan dana dari masyarakat tersebut.
Menurut Bahrum, keberadaan Yayasan Amalillah tidak ada koordinasi sama sekali dengan Pemerintah Aceh Jaya. Dalam pertemuan dengan pengurus yayasan itu, Bahrum juga mempertanyakan kepada Salihin berapa banyak masyarakat yang telah menyetor uang untuk Yayasan Amalilllah di Aceh Jaya. Dalam pertemuan itu Salihin menyebutkan, khusus di Aceh Jaya yang kantor yayasan itu berpusat di Pangan, Kecamatan Teunom dan Setia Bakti, baru ada sekitar 400 orang yang menyetor.
Sedangkan di Aceh Barat, sebut Salihin seperti dikutip Bahrum, Yayasan Amalillah yang berpusat di Sawang Teubee, kawasan pedalaman Aceh Barat, lebih kurang 12.000 orang yang telah dikutip dana Rp 50.000 perorang. Menurut Salihin, setiap orang yang telah dikutip dana itu akan dijadikan anggota dan mereka menyebutnya sebagai ‘makmum’ dan dijanjikan akan diberikan modal usaha.
Menurut Bahrum, khusus di Aceh Jaya, kepada masyarakat dijanjikan akan diberikan modal usaha pada akhir Februari 2011 lalu. Tapi, hingga pertengahan Maret (bulan ini) dana itu belum juga disalurkan. “Karena itu, masyarakat resah dan mempertanyakan kepastian kapan modal usaha dana dari warisan Soekarno yang disimpan di Bnk Swiss itu bisa disalurkan,”ujar Bahrum.
Data yang diperoleh, Bahrum mengaku sangat curiga dengan sepak terjang Yayasan Amalillah, yang menurut informasi yang diperolehnya itu yayasan itu tidak jelas misinya. “Karena merasa curiga, saya sudah ambil bahan administrasi yayasan itu dan telah saya serahkan ke Jaksa untuk dipelajari,” ujar Bahrum. Dalam pertemuan yang juga dihadiri unsur Muspika Panga dan Setia Bakti itu, Pemkab Aceh Jaya, meminta kepada pengelola yayasan agar menghentikan sementara aktivitas lembaga tersebut, sebelum mengantongi izin dan persyaratan lainnya.
Sedangkan Koordinator Yayasan Amalillah, Salihin, yang ditanyai Serambi mengaku belum bisa memastikan kapan mereka bisa menyalurkan bantuan itu kepada masyarakat. “Saya baru pulang dari Jakarta, pimpinan pusat yayasan menyebutkan proses pencairan hanya tinggal satu persen lagi, karena surat penarikan dana dari BI ke Bank Swiss belum keluar,”ungkap Salihin.
Penipuan Sejumlah media online dan media cetak pernah memberitakan bahwa ada sejumlah pengurus Yayasan Amalillah sempat berurusan dengan pihak berwajib. Seperti diberitakan Kompas TV pada pertengahan 2009 lalu memberitakan, bahwa jajaran Polsek Cisarua Bogor, Jawa Barat, meringkus seorang tersangka kasus penipuan yang berkedok koperasi Bina Sejahtera Mandiri atau Yayasan Amalillah bernilai puluhan milyar rupiah. Tersangka beinisial HM yang berkedudukan di Pangkal Pinang, Propinsi Bangka Belitung, berhasil diringkus petugas, saat berada disebuah fila beserta keluarga dan puluhan korbannya di kampung Munjul Sukaresmi, Puncak Megamendung, Bogor Jawa Barat. Tersangka tersangkut kasus penipuan lebih dari enam puluh miliar rupiah. Uang sebesar itu, dikelola oleh tersangka yang diperoleh dari ratusan korbannya.
Sedangkan pada Mei 2008 media online lainnya juga memberitakan, bahwa penipuan penipuan berkedok investasi Yayasan Amalillah, yang telah merugikan ribuan hingga jutaan orang di Indonesia, murni penipuan dan tidak ada kaitannya dengan kegiatan keagamaan.
Yayasan Amalillah, menurut Kriminilog Jakarta, Mustafa, mengincar calon korbannya dari ekonomi bawah, dengan tingkat pengetahuan soal perbankan yang minim.”Saya percaya karena katanya nanti ada pencairan warisan Bung Karno, sehingga uang yang akan saya terima bakal jauh lebih banyak,” kata Rachmat, seorang korban yang menjadi anggota Amalillah karena ajakan guru mengajinya yang mengaku telah menyetor dana Rp 25.000. Ketua Yayasan Amalillah telah ditahan di Polda Jawa Barat. Yayasan Amalillah menjanjikan pencairan dana investasi para anggotanya pada tahun 2008 lalu senilai Rp 480 triliun atau nyaris separuh APBN Indonesia.(c45/mis) http://aceh.tribunnews.com/news/view/51315/yayasan-amallillah-resahkan-masyarakat |