|
Kita disini lebih banyak sharing biar sama2 menjadi sutradara, begitu juga bapak ibu disekolah jangan hanya bapak ibu yang jadi sutradara, dan anak2 yang jadi bintang film tapi semua harus seimbang. Mungkin sebentar lagi sudah press, dan mungkin pertanyaan saya yang lebih mendasar. kalau KBK tahun 2004 semua produk di keluarkan oleh SKM, SK, KD dan Indikator, sehingga kalau ibu buat RPP indikatornya sudah ada, sedangkan KTSP 2006 ini tidak dikasih indicator, nah ini yang menjadi tugas ibu memberikan indicator yang bagus. Kurikulum pada tahun 1974, 1984 dan yang terakhir tahun 1999, semuanya kurikulum ini di ikuti kerikulum KTSP ini yang buat sekolah bukan Pemerintah, dan draff hukum ini ditanda tangani dan di kembangkan ke sekolah, dan kalau kelender pendidikan sekarang dinas yang berikan, padahal ini bisa di buat oleh akademik kalau ada kenduri laut mau di liburkan bisa di usulkan dan kalau di setujui ini bisa di liburkan, bisa kita lihat pada Peraturan Menteri Nomor 23 Tahun 2005 tentang standar kompetensi lulusan kata Adi Darmawan, S. Ag (Fasilitator)
Notulensi Workshop Wali Kelas I SD-MI Meureubo 26 – 29 dan 31 Maret 2008 TRAINING WALI KELAS I Dilaksanakan oleh Grassroots Society Forum (GSF) Support BY CAFOD Meureubo 26 – 29 dan 31 Maret 2008
Hari Pertama, Rabu, 26 Maret 2008 Cutti Aisyah Pembukaan
Tgk. Hasballah Pembacaan Ayat Suci Alquran
Pembukaan sekaligus sambutan Abdul Jalil (Direktur GSF) Assalam mualaikum, wr. Wb. Syukur kepada Allah kita masih diberikan umur hingga masih berjumpa pada hari ini, Salawat beriring salam kepada Rasulullah. Penghormatan saya kepada ibu2 bapak2 yang telah memenuhi undangan, dan sebelumnya mungkin sebagian sudah pernah bertemu pada training yang lalu, dan mungkin pertemuan ini juga bukan yang terakhir dalam upaya kita terus berpacu dengan waktu untuk meningkatkan mutu pendidikan di bumi Teuku umar ini, penghormatan saya kali ini yang telah hadir pada sesepuh saya, disini ada ibu saya ibu Jaliah beliau adalah guru saya dan ini merupakan penghormatan yang sangat besar kepada beliau dari saya, dan semoga beliau mendapat rahmad dari Allah atas semua syafaat yang telah beliau berikan kepada saya, hingga saya bisa ada didepan bapak ibu seperti saat ini, dan sebelumnya kita sudah melaksanakan training baik bagi kepala sekolah, komite, camat dan para mukim, baik kita bahas UU sisdiknas, UU-PA pada tahun 2006-2007. Dan pada tahun 2008 ini kami programkan untuk wali kelas dari kelas I-III dan juga Wali murid. Mungkin agak sedikit capek karena ada12 x pertemuan ini target kita dalam 5 bulan karena dana terlambat turun dan baru nyampe bulan 3 maka kami press menjadi 3 bulan, dan berkat doa dari semua semoga selesai dalam 3 bulan 12 x pertemuan, dan karena saya lahir di Aceh Barat saya ingin melakukan banyak hal yang terbaik untuk Aceh Barat, dan mungkin selama ini yang bisa kami lakukan hanya baru sebagian kecil. Dan untuk tahap ini semua kami rencanakan untuk dibuat 20 x Pertemuan dan ini yang pertama semoga 19 lagi juga lancar. Sebelumnya ini kami merencanakan untuk acara training wali kelas I ini selama 1 bulan dan karena Donator tidak bersedia maka kami laksanakan 5 hari saja, ini yang disetujui, rencana kami akan langsung mengaitkan dengan menyusun KTSP setiap/1 bulan karena selama ini kita sangat jauh ketinggalan dibandingkan daerah luar, beberapa bulan lalu pernah saya keluarkan surat kabar saya katakan guru di Aceh Barat banyak yang buta huruf saya mohon maaf jika bapak ibu tersinggung, tapi ini lah kenyataan yang ada, bukan maksud saya buta huruf dalam artian tidak tahu apa2, kalau bapak ibu tidak tahu apa2 mana mungkin saya bisa duduk disini malah disini ada ada guru yang telah mengajarkan saya, maksud saya buta huruf disini masih kurang sekali guru yang tidak bisa menghidupkan apalagi mengakses computer, jika pun ada computer di sekolah pada saat ada tamu yang datang tidak bisa diberikan data apa2 padahal data didalam computer penuh, ini percuma, dan kita usahakan kedepan kita harus bisa mengoperasikan interned, computer dll, dan ketika tamu datang meminta data dan kita tidak bisa buka computer berarti ini yang saya katakan buta huruf, mungkin juga dulu cara pengajaran yang salah, bukan ibu Jaliah, kalau ibu Jaliah mengajar pelajaran mate matika, guru saya dulu mengajarkan saya kerbau, sehingga terus disuruh hafal sehingga mungkin didiri saya tertanam jiwa kerbau dalam artian tidak pernah puas. dan sehingga watak saya mirip kerbau ini tanpa saya sadari untuk kedepan ini yang perlu ditukar misal diganti dengan Cut Nyak Dhien, agar berjiwa Cut Nyak Dhien bukan kerbau, saya pernah memimpin HMI Cabang Meulaboh dipercayakan sebagai Ketua Umum untuk beberapa Periode, dan saya sering di amanatkan untuk memimpin DS pada peserta oleh Master of Training untuk mengosongkan kepada peserta dan nanti masuk master untuk mengisi kembali, dan Alhamdulillah saya bisa dan begitu juga kepada anak kelas satu ini bisa dilakukan agar semua pelajaran dapat diterima dengan baik inipun perlu ditanam, yang jelas saya mengharapkan training ini saya rencana 1 bulan dan yang bisa kita laksanakan cuma 5 hari maka tolong mamfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya dan target saya kalau bisa peserta harus cukup, kalaupun kurang satu maka pada pertemuan berikutnya harus saya lebihkan menjadi 26, karena prinsip saya saya tidak mau mengembalikan dana kepada donator, alangkah bodohnya saya kalau tidak bisa memaksimalkan dana yang sudah mereka berikan, jadi tolong pergunakan waktu dan datang pada jam yang telah ditentukan, karena bagi saya dan saya haram kepada staff saya datang sesudah peserta datang. Dan Alhamdulillah untuk yang sudah2 kami selalu bisa memegang komitmen, kita rencanakan training kita 4 hari teori dan 1 hari praktek. Prakteknya kita rencanakan di SD Pasi Pinang, SD Peunaga, SD Langung dan MIN Meureubo, dilakukan 2 jam pelajaran, dan juga rencanakan kami pada hari terakhir langsung kami berikan sertifikat. Dalam hal praktek kalau tidak cukup kelas 1 maka akan di bagi dari kelas 1 – VI. Baiklah bapak ibu kami atas nama panitia mohon maaf jika ada kesalahan dalam penyampaian, dan bila ada kekurangan Akhir kata saya ucapkan Assalam mualaikum, wr. Wb.
Adi Darmawan, S. Ag (Fasilitator) Assalam mualaikum, wr. Wb. Alhamdulillah kepada Allah kita masih bisa diberikan kesehatan, kemampuan berpikir dan kejernihan pikiran, mungkin sebagian sudah pernah berjumpa pada tahap sebelumnya, dan kepada saudara yang baru semoga lebih setia dari pada saudara2 lama, Salawat dan salam kepada Nabi Muhammad Saw atas petunjuk dari beliau kita bisa merasakan nikmat islam seperti sekarang ini, Perkenankan saya memperkenalkan diri Nama saya Adi Darmawan, S.Ag, sehari2 saya menjalankan tugas di SMA 2 dan hari ini saya berguru dari pengalaman bapak ibu yang lebih berumur dari pada saya, kalau pengalaman di sekolah mungkin saya lebih banyak belajar kepada bapak2 ibu2, dan mungkin hari ini yang perlu kita konsultasi bersama hanya keadaan di lapangan, dan mungkin hal di lapangan mungkin yang perlu kita berbagi pendapat dan informasi
STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) Adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap pengetahuan dan keterampilan Berdasarkan PP No.19/2005 § Sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan § Meliputi kompetensi seluruh mata pelajaran § Dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP)
Ada yang tahu bagaimana pembelajaran KBK
Peserta Kalau tentang KBK siswa yang mungkin lebih banyak berperan
Adi Darmawan, S. Ag (Fasilitator) Kita disini lebih banyak sharing biar sama2 menjadi sutradara, begitu juga bapak ibu disekolah jangan hanya bapak ibu yang jadi sutradara, dan anak2 yang jadi bintang film tapi semua harus seimbang. Mungkin sebentar lagi sudah press, dan mungkin pertanyaan saya yang lebih mendasar. kalau KBK tahun 2004 semua produk di keluarkan oleh SKM, SK, KD dan Indikator, sehingga kalau ibu buat RPP indikatornya sudah ada, sedangkan KTSP 2006 ini tidak dikasih indicator, nah ini yang menjadi tugas ibu memberikan indicator yang bagus. Kurikulum pada tahun 1974, 1984 dan yang terakhir tahun 1999, semuanya kurikulum ini di ikuti kerikulum KTSP ini yang buat sekolah bukan Pemerintah, dan draff hukum ini ditanda tangani dan di kembangkan ke sekolah, dan kalau kelender pendidikan sekarang dinas yang berikan, padahal ini bisa di buat oleh akademik kalau ada kenduri laut mau di liburkan bisa di usulkan dan kalau di setujui ini bisa di liburkan, bisa kita lihat pada Peraturan Menteri Nomor 23 Tahun 2005 tentang standar kompetensi lulusan kata Adi Darmawan, S. Ag (Fasilitator)
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 23 TAHUN 2006 Tentang STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN (SKL)
Pengertian l Kompetensi adalah kemampuan bersikap, berpikir, dan bertindak secara konsisten sebagai perwujudan dari pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dimiliki peserta didik.
l Standar Kompetensi adalah ukuran kom-petensi minimal yang harus dicapai peserta didik setelah mengikuti suatu proses pembelajaran pada satuan pendidikan tertentu.
l Standar Kompetensi Lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
Fungsi Standar Kompetensi Lulusan (SKL) l Standar kompetensi lulusan digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. l Standar kompetensi lulusan pada jenjang pendidikan dasar bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, ahklak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. l Standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikan menengah umum bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, ahklak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. l Standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikan menengah kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, ahklak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.
Sampai di sini Ada pertanyaan….? Kalau tidak ada kita lanjutkan kembali....
Pengertian Bahan Ajar • Bahan ajar merupakan informasi, alat dan teks yang diperlukan guru/instruktur untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran. • Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/ instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. (National Center for Vocational Education Research Ltd/National Center for Competency Based Training). • Bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak sehingga tercipta lingkungan/suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar.
Bentuk Bahan Ajar • Bahan cetak seperti: hand out, buku, modul, lembar kerja siswa, brosur, leaflet, wallchar • Audio Visual seperti: video/film,VCD • Audio seperti: radio, kaset, CD audio, PH • Visual: foto, gambar, model/maket. • Multi Media: CD interaktif, computer Based, Internet Peserta Kalau Murid 60 orang, jadi satu bangku 4 orang ini bagaimana permasalahannya
Adi Darmawan, S. Ag (Fasilitator) Masih ada yang seperti itu, kalau ada ya semoga pemerintah cepat membangun kelas yang baru
Peserta Biar pas kalau murid banyak 1 kelas harus ada 2 orang guru
Peserta Ada kalau ditempat saya seperti itu
Adi Darmawan, S. Ag (Fasilitator) Kalau bisa besok kita praktek ketempat itu biar sama2 kita rasakan, yang mudah memang sdh gampang tapi yang seperti ini harus kita coba,
Peserta Hal ini adalah tugas kita kalau dulu misalnya MIS Kampung Belakang ini sampai 80 orang/Kelas, saat kita tidak mau menerima anak tersebut disekolah karena sudah kelebihan murid dan kita katakan agar diantarkan kesekolah lain saja, malah mereka mengatakan ”kami maunya sekolah in bukan sekolah lain”, jadi kita terpaksa menerima, akhirnya ya terjadi pembengkakan murid.
Adi Darmawan, S. Ag (Fasilitator) Saya juga guru, mungkin kendala saya lebih kecil dari pada ibu2 di SD apa lagi kelas I, dan kalau ingin berjuang ya berjuanglah, karena ini memang tugas guru walaupun tidak seimbang jasa dan pengeluaran dan kita sudah sering dengar ”jangankan gaji balas jasa saja tidak ada”
Peserta Kalau kita disini susah pak, murid banyak terus kapan kita susun RPP ini gimana, kan tidak mungkin lagi ngajar sambil susun RPP.
Adi Darmawan, S. Ag (Fasilitator) RPP ini kapan di buat, kan sebelum tahun ajaran baru, jadi tidak ada hubungan dgn banyak murid
Peserta Jadi ini bagaimana kami tidak tahu kapan di buat dan sebelumnya belum ada penjelasan tentanng RPP, pelatihan saja yang saya ikuti baru kali ini
Adi Darmawan, S. Ag (Fasilitator) Alhamdulillah dgn pertemuan ini kita bersaudara, dan saya siap menunggu kedatangan ibu2 di SMU 2 untuk berkonsultasi bila ada keluhan.
Cakupan Bahan Ajar • Judul, MP, SK, KD, Indikator, Tempat • Petunjuk belajar (Petunjuk siswa/guru) • Tujuan yang akan dicapai • Informasi pendukung • Latihan-latihan • Petunjuk kerja • Penilaian
Ada yang tahu Cakupan belajar apa ?
Peserta Sebelum kita memberi materi kita cakupkan cara2 pemberian pelajaran
Adi Darmawan, S. Ag (Fasilitator) Ya seperti Cara pemakaian alat dll,
Peserta Hasil bacaaan, bagaimana kalau kita ngajar jika diantara murid ini ada 10 orang tidak mampu
Adi Darmawan, S. Ag (Fasilitator) Kita harus bisakan karena kitapun tidak ingin ada yang tidak lulus
Peserta Kita di sekolah ada anak yang sudah mencapai pelajaran satu semester dan ada yang belum sedangkan kita belajar/semester 6 bulan dan belajar aktif 4 bulan, bila ada yang belum bisa, ini kita arahkan ke orang tua untuk bisa mengajarkan di waktu luang,
Adi Darmawan, S. Ag (Fasilitator) Ada buku khusus yang di buat, anak saya di play group, setiap dia pulang sekolah selalu saya baca pelajaran yang sudah dia pelajari dari sekolah, kemudian kembali saya ulangi, agar dia mengerti.
Peserta Ini kalau sebagian orang tua mengerti tapi sebagian tidak, ini bagaimana ?
Adi Darmawan, S. Ag (Fasilitator) Ini adalah resiko bagi kita, dan mungkin nanti kita akan menemukan jawabannya, oke sekarang kita lanjutkan kembali.....
Pengertian Lembar Kegiatan Siswa • Lembar kegiatan siswa (student work sheet) adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh siswa. • Lembar kegiatan berisi petunjuk, langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas. • Tugas-tugas yang yang diberikan kepada siswa dapat berupa teori dan atau praktik.
Lembar Kegiatan Siswa (LKS) Langkah-langkah penulisan LKS sebagai berikut: • Melakukan analisis kurikulum; SK, KD, indikator dan materi pembelajaran. • Menyusun peta kebutuhan LKS • Menentukan judul LKS • Menulis LKS • Menentukan alat penilaian
Struktur LKS secara umum adalah sebagai berikut: • Judul, mata pelajaran, semester, tempat • Petunjuk belajar • Kompetensi yang akan dicapai • Indikator • Informasi pendukung • Tugas-tugas dan langkah-langkah kerja • Penilaian
Bahan ajar : Menimbulkan minat baca Ditulis dan dirancang untuk siswa Menjelaskan tujuan instruksional Disusun berdasarkan pola belajar yang fleksibel Struktur berdasarkan kebutuhan siswa dan kompetensi akhir yang akan dicapai. Memberi kesempatan pada siswa untuk berlatih Mengakomodasi kesulitan siswa Memberikan rangkuman Gaya penulisan komunikatif dan semi formal Kepadatan berdasar kebutuhan siswa Dikemas untuk proses instruksional Mempunyai mekanisme untuk mengumpulkan umpan balik dari siswa Menjelaskan cara mempelajari bahan ajar.
Buku teks : Mengasumsikan minat dari pembaca Ditulis untuk pembaca (guru, dosen) Dirancang untuk dipasarkan secara luas Belum tentu menjelaskan tujuan instruksional Disusun secara linear Stuktur berdasar logika bidang ilmu Belum tentu memberikan latihan Tidak mengantisipasi kesukaran belajar siswa Belum tentu memberikan rangkuman Gaya penulisan naratif tetapi tidak komunikatif Sangat padat Tidak memilki mekanisme untuk mengumpulkan umpan balik dari pembaca.
Jenis Bahan Ajar • Lembar informasi (information sheet) • Operation sheet • Jobsheet • Worksheet • Handout • Modul Kita istirahat sejenak sambil shalat ashar Assalam mualaikum, wr. Wb. Break
Adi Darmawan, S. Ag (Fasilitator) Assalam mualaikum, wr. Wb. Sebenarnya materi ini hari jum’at, dan karena waktunya masih banyak dan ada ibu yang belum ikut maka kita berikan hari ini, materi hari jum’at kita bahas hari ini dan hari jum’at kita bahas tentang RPP
Peserta Kami sangat ingin bisa semua agar bisa siap buat dan bisa pakai,
Adi Darmawan, S. Ag (Fasilitator) Yang datang kesini semua guru kelas I jadi kita ambil sample pelajaran B.Indonesia
Kelas IV, Semester I Standar kompetensi Kompetensi Dasar Mendengarkan 1. Mendengarkan penjelasan tentang petunjuk denah dan simbol daerah / lambang korps Membuat gambar/denah berdasarkan penjelasan yang didengar - Siswa dapat menentukan/memnguraikan ciri-ciri dari simbol daerah/lambang daerah - Siswa dapat menunjukan jenis-jenis simbol daerah/lambang kops - Siswa dapat menggambarkan simbol daerah/lambang korps - Soal : 1. lambang yang terdiri darikupiah meukutop dan rencong adalah lambang daerah......... 2. gambar berikut
.............
Adalah lambang daerah......... a. 2. gambarkan kops pegawai negeri
Menjelaskan kembali secara lisan atau tulis penjelasan tentang simbol daerah/lambang korps - siswa dapat menggambar denah kelas - siswa menyebutkan indentitas dari denah kelas - siswa dapat menjelaskan indentitas dari denah kelas
5. Perilaku-perilaku berbahasa a. Menyingkat/memendekkan (abbreviate) b. Memberi tekanan pada sesuatu /menekankan (accent) c. Mengabjad/menyusun menurut abjad (alphabetize) d. Mengartikulasikan/ mengucapkan kata-kata dengan jelas (articulate) e. Memanggil (call) f. Menulis dengan huruf besar (capitalize) g. Menyunting (edit) h. Menghubungkan dengan garis penghubung (hyphenate) i. Memasukkan (beberapa spasi) /melekukkan (indent) j. Menguraikan / memperlihatkan garis bentuk/ menggambar denah atau peta (outline) k. Mencetak (print) l. Mengucapkan/melafalkan/ menyatakan (pronounce) m. Memberi atau membubuhkan tanda baca (punctuate) n. Membaca (read) o. Mendeklamasikan/ membawakan/menceritakan (recite) p. Mengatakan (say) q. Menandakan (sign) r. Berbicara (speak) s. Mengeja (spell) t. Menyatakan (state) u. Menyimpulkan (summarize) v. Membagi atas suku-suku kata (syllabicate) w. Menceritakan (tell) x. Menerjemahkan (translate) y. Mengungkapkan dengan kata-kata (verbalize) z. Membisikkan (whisper) aa. Menulis (write)
Peserta Seluruh indonesia sama SK dan KD, apakah sama soal yang di lemparkan ke anak2 daerah kita dengan daerah lain
Adi Darmawan, S. Ag (Fasilitator) SKL ini sama, seluruh indonesia ini yang harus di capai.
SILABUS
Nama Sekolah : Sekolah Dasar Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Kelas/Semester : IV/1 Standar kompetensi : 1. Mendengarkan Mendengarkan penjelasan tentang petunjuk denah dan symbol daerah atau lambang korps. 2. Berbicara Mendeskripsikan secara lisan tempat sesuai denah dan petunjuk penggunaan suatu alat. 3. Menulis Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi secara tetulis dalam bentuk percakapan, petunjuk, cerita, dan surat.
Kompetensi Dasar Materi Pokok Indikator Pengalaman Belajar Penilaian Alokasi Waktu Sumber/ Bahan/Alat Membuat gambar/denah berdasarkan penjelasan yang didengar Denah sekolah · Mencatat hal-hal penting dari penjelasan · Membuat denah berdasarkan penjelasan yang didengar · Mendengarkan penjelasan tentang denah dengan cermat · Mencatat hal-hal penting dari penjelasan guru · Membuat denah berdasarkan penjelasan yang didengar Tes tertulis saat membuat denah 2X45’ Gambar/ denah Mendeskripsikan tempat sesuai dengan denah atau gambar dengan kalimat yang runtut Denah sekolah · Menjelaskan urutan perjalanan menuju tempat tertentu · Menjelaskan secara rinci satu tempat tertentu dalam denah dengan pilihan kata yang tepat dan kalimat yang runtut § Menjelaskan tanda-tanda dalam denah (arah mata angin) § Menjawab pertanyaan tentang denah § Menjelaskan secara rinci urutan perjalanan menuju tempat tertentu dari suatu denah dengan kalimat yang runtut § Menjelaskan secara rinci suatu denah dengan kalimat yang runtut Kinerja: saat mendes-kripsikan denah
2X45’ Denah /gambar Melengkapi bagian cerita yang hilang (rumpang) dengan menggunakan kata/kalimat yang tepat sehingga menjadi cerita yang padu Cerita rumpang tentang suatu tempat § Melengkapi bagian awal, tengah, atau akhir cerita yang hilang sehingga menjadi cerita yang utuh/padu § Membaca dalam hati cerita rumpang § Mengisi cerita rumpang dengan kata yang tepat Tes tertulis 2X45’ Cerita rumpang RENCANA PERSIAPAN PENGAJARAN
Mata pelajaran : Bahasa Indonesia Kelas Semester : IV/1 Pertemuan Ke : 1 Alokasi Waktu : 60 menit Standar Kompetensi : Mendeskripsikan secara lisan tempat sesuai denah dan petunjuk penggunaan suatu alat. Kompetensi Dasar : Mendeskripsikan tempat sesuai dengan denah atau gambar dengan kalimat yang runtut. Indikator : - Menjelaskan simbol-simbol dalam denah (arah mata angin, tempat umum) - Menjelaskan secara rinci satu tempat tertentu dalam denah dengan kalimat yang runtut
I. Tujuan Pembelajaran : - Siswa dapat memahami tanda/simbol dalam denah - Siswa dapat mencatat hal-hal penting yang akan dideskripsikan - Siswa dapat menjelaskan urutan perjalanan menuju tempat tertentu dengan kalimat yang runtut
II. Materi Pokok : Denah sekolah/ lingkungan
III. Metode : diskusi, modelling (pemodelan), penugasan IV. Langkah-langkah Pembelajaran
Kegiatan Awal · Siswa diajak bernyanyi lagu ”Naik-Naik ke Puncak Gunung” · Guru bertanya tentang tempat-tempat yang pernah dikunjungi siswa Mis: tempat pariwisata, rumah kerabat · Guru menanyakan hal lain, seperti jarak (jauh-dekat), bangunan/tempat apa saja yang dilihat selama melewatii tempat itu.
Kegiatan Inti · Guru menugaskan siswa mencermati denah sederhana tentang suatu tempat · Guru menugaskan siswa mencermati dan mendiskusikan simbol-simbol dalam denah, misalnya arah mata angin (U=utara B=Barat T=Timur S= Selatan), rumah ibadah, tempat umum (rumah makan, pom bensin, dll) · Guru menugaskan siswa mencatat hal-hal penting dari denah yang akan dideskripsikan · Guru menugaskan siswa mendeskripsikan denah berdasarkan hal-hal penting yang telah dicatat dengan menggunakan kalimat yang runtut · Guru menanyakan kepada siswa lain tentang kejelasan pendeskripsian denah temannya. · Guru dan siswa mendiskusikan bagaimana cara mendeskripsikan denah secara jelas
Kegiatan Penutup · Guru dan siswa merefleksikan hasil pembelajaran, yaitu manfaat mempelajari kompetensi ini.
V. Alat dan Sumber Belajar: - contoh denah - buku teks
VI. Penilaian Format Penilaian Mendeskripsikan Denah No. Aspek Skor 1. Keruntutan Kalimat a. runtut b. kurang runtut c. tidak runtut 5 3 1 2 Keberanian a. berani b. malu-malu 3 1
Hari Kedua, Kamis, 27 Maret 2008 Khairudin, M.Pd (Fasilitator) Assalam mualaikum wr. Wb Alhamdulilah hirabbil’alamin wassalatu ‘ala himursalin, waala alihi waatsahbihi adma’in. Pertama2 puji syukur kepada Allah salawat salam kepada nabi Muhammad berserta ahli dan sahabat beliau. Yang saya hormati dan aplikasi yang setinggi2nya kepada bapak ibu guru yang telah berhadir pada hari ini, penghormatan yang sebesar-besarnya kepada Direktur dan semua Kru GSF yang telah banyak bekerja sehingga terlaksananya acara ini, harapan saya kepada bapak2 ibu2 yang telah hadir dan semoga kita menemukan akserasi di dunia pendidikan ini. Bapak ibu izinkan saya memperkenalkan diri nama saya Khairuddin, nama yang sederhana, sesederhana orangnya, saya orangnya sederhana dan tidak neko2, saya lahir pada tahun 1965, umur sudah 40 tahun lebih, istri 1 putra 3, saya dilahirkan di daerah paling populer di jeram kuala baro, dan walaupun saya orang daerah namun walaupun demikian pada hari ini bisa bertemu disini dalam satu tujuan kita bersama yaitu mencerdaskan anak bangsa, pendidikan saya di Unsyiah Banda Aceh, kemudian di Malang Jawa Timur. Dan saya bersama GSF sejak tahun lalu sudah bergerak di lapangan kearah pendidikan dan Alhamdulillah sampai hari ini, sekarang kita masuk ke model pembelajaran tematik
MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK SD KELAS I Pelajaran yang bermutu adalah ada 5 1. nilai tauhit tidak ada putus asa dalam hidup 2. cerdas, 3. Material 4. Sosial 5. Bermoral
Untuk menggapai hal ini bisa kita lihat Bab I
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Pembelajaran Tematik
Peserta didik yang berada pada sekolah dasar kelas satu, dua, dan tiga berada pada rentangan usia dini. Pada usia tersebut seluruh aspek perkembangan kecerdasan seperti IQ, EQ, dan SQ tumbuh dan berkembang sangat luar biasa. Pada umumnya tingkat perkembangan masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) serta mampu memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masih bergantung kepada objek-objek konkrit dan pengalaman yang dialami secara langsung.
Saat ini, pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SD kelas I – III untuk setiap mata pelajaran dilakukan secara terpisah, misalnya IPA 2 jam pelajaran, IPS 2 jam pelajaran, dan Bahasa Indonesia 2 jam pelajaran. Dalam pelaksanaan kegiatannya dilakukan secara murni mata pelajaran yaitu hanya mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang berhubungan dengan mata pelajaran itu. Sesuai dengan tahapan perkembangan anak yang masih melihat segala sesuatu sebagai suatu keutuhan (holistic), pembelajaran yang menyajikan mata pelajaran secara terpisah akan menyebabkan kurang mengembangkan anak untuk berpikir holistik dan membuat kesulitan bagi peserta didik.
Selain itu, dengan pelaksanaan pembelajaran yang terpisah, muncul permasalahan pada kelas rendah (I-III) antara lain adalah tingginya angka mengulang kelas dan putus sekolah. Angka mengulang kelas dan angka putus sekolah peserta didik kelas I SD jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelas yang lain. Data tahun 1999/2000 memperlihatkan bahwa angka mengulang kelas satu sebesar 11,6% sementara pada kelas dua 7,51%, kelas tiga 6,13%, kelas empat 4,64%, kelas lima 3,1%, dan kelas enam 0,37%. Pada tahun yang sama angka putus sekolah kelas satu sebesar 4,22%, masih jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelas dua 0,83%, kelas tiga 2,27%, kelas empat 2,71%, kelas lima 3,79%, dan kelas enam 1,78%.
Angka nasional tersebut semakin memprihatinkan jika dilihat dari data di masing-masing propinsi terutama yang hanya memiliki sedikit taman Kanak-kanak. Hal itu terjadi terutama di daerah terpencil. Pada saat ini hanya sedikit peserta didik kelas satu sekolah dasar yang mengikuti pendidikan prasekolah sebelumnya. Tahun 1999/2000 tercatat hanya 12,61% atau 1.583.467 peserta didik usia 4-6 tahun yang masuk Taman Kanak-kanak, dan kurang dari 5 % Peserta didik berada pada pendidikan prasekolah lain.
Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa kesiapan sekolah sebagian besar peserta didik kelas awal sekolah dasar di Indonesia cukup rendah. Sementara itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik yang telah masuk Taman Kanak-Kanak memiliki kesiapan bersekolah lebih baik dibandingkan dengan peserta didik yang tidak mengikuti pendidikan Taman Kanak-Kanak. Selain itu, perbedaan pendekatan, model, dan prinsip-prinsip pembelajaran antara kelas satu dan dua sekolah dasar dengan pendidikan pra-sekolah dapat juga menyebabkan peserta didik yang telah mengikuti pendidikan pra-sekolah pun dapat saja mengulang kelas atau bahkan putus sekolah.
Atas dasar pemikiran di atas dan dalam rangka implementasi Standar Isi yang termuat dalam Standar Nasional Pendidikan, maka pembelajaran pada kelas awal sekolah dasar yakni kelas satu, dua, dan tiga lebih sesuai jika dikelola dalam pembelajaran terpadu melalui pendekatan pembelajaran tematik. Untuk memberikan gambaran tentang pembelajaran tematik yang dapat menjadi acuan dan contoh konkret, disiapkan model pelaksanaan pembelajaran tematik untuk SD/MI kelas I hingga kelas III.
B. Tujuan
Tujuan penyusunan dokumen model pengembangan silabus tematik pada kelas awal Sekolah Dasar adalah sebagai berikut: 1. Memberikan pengetahuan dan wawasan tentang pembelajaran tematik. 2. Memberikan pemahaman kepada guru tentang pembelajaran tematik yang sesuai dengan perkembangan peserta didik kelas awal Sekolah Dasar. 3. Memberikan keterampilan kepada guru dalam menyusun perencanaan, melaksanakan dan melakukan penilaian dalam pembelajaran tematik. 4. Memberikan wawasan, pengetahuan dan pemahaman bagi pihak terkait, sehingga diharapkan dapat memberikan dukungan terhadap kelancaran pelaksanaan pembelajaran tematik
C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup pengembangan pembelajaran tematik meliputi seluruh mata pelajaran pada kelas I - III Sekolah Dasar, yaitu: Pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Pendidikan Kewarganegaraan, Ilmu Pengetahuan Sosial, Seni Budaya dan Keterampilan, serta Pendidikan Jasmani,Olahraga dan Kesehatan.
Latar Belakang Peserta didik kelas satu, dua, dan tiga berada pada rentangan usia dini yang masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) sehingga pembelajarannya masih bergantung kepada objek-objek konkrit dan pengalaman yang dialaminya Pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SD kelas I – III yang terpisah untuk setiap mata pelajaran, akan menyebabkan kurang mengembangkan anak untuk berpikir holistik Terdapat permasalahan pada kelas awal (I-III) antara lain adalah tingginya angka mengulang kelas dan putus sekolah.
Kecerdasan yang diperlu ditumbuhkan pada anak 1. Kecerdasan berbahasa ini yang perlu kita kembangkan, 2. Kecerdasan berpikir, mengelola kecerdasan sendiri 3. Kecerdasan hilastis jasmaniah (bergerak) 4. Kecerdasan Musiccal Vokalis 5. Kecerdasan interpersonal (memahami Potensi diri) 6. kecerdasan intra personal (Pintar bergaul) 7. Kecerdasan naturalis/otodidat (cerdas alam) Ada pertanyaan dari penjelasan diatas, kalau ini tidak kita kembangkan maka hal ini tidak akan berfungsi
Peserta Ada kecerdasan yang dimiliki anak sesuai dgn tipe masing2, sedangkan ada anak yang tidak bisa diarahkan semua pelajaran dan ada anak2 ini bisa diberikan semua pelajaran tapi dia butuh semua, jadi bagaimana, bagaimana utk menyamakan dan mengarahkan antara yang bisa dan yang tidak bisa.
Khairuddin, M.Pd (Fasilitator) Terima kasih ada yang lain, oke ini tergantung dari tangan yang mendidik
Peserta Setelah saya lihat dari kejadian di sekolah, perkembangan anak ini dilatih dari awal perkembangan yang dari tidak mau menjadi mau, misal jika dia tidak menyukai pelajaran mate matika ini bisa diarahkan pelajaran ini dengan bernyanyi agar dia bisa menyukai
Khairuddin, M.Pd (Fasilitator) Ini yang saya maksud, banyak jalan menuju sukses, akan lebih bijak jika ini dimasukkan secara kofehensif, dan ini harus dipelajari oleh sianak, walaupun tidak semua dia punyai tapi ini lah yang harus kita benahi. Kalau didaerah orang Ir. mengajar dikelas 1, tapi kalau kita ada hal yang seperti itu malah di anggap Ir. bodoh, masak sudah gelar Ir masih mengajar dikelas I SD padahal ini pondasi yang paling penting untuk dibentuk jika pondasi awal kuat maka kesemuanya akan Kokoh. Sekarang ada anggapan di Aceh Barat bahwa semua bisa jadi guru padahal tidak sembarang orang bisa jadi guru, karena guru itu orang yang mendidik anak bangsa. Jadi tidak mungkin semua kelebihan bisa kita miliki tapi pasti ada 1 atau 2 kelebihan yang ada pada diri kita dan begitu juga pada anak didik. Jika penjelasan tadi bisa ditanggapi dgn baik maka ditangan ibu pasti akan muncul mutiara, contoh SMU Muhammaddiyah tahun ini mereka juara 1 Paskibraka, padahal di SMU ini terkenal anak buangan dari sekolah lain. Tapi kalau bisa kita didik maka dari hinaan akhirnya jadi pujian
Peserta Memang dari seninya ada dan mau, tapi kalau kita hanya mengajak dia hanya dgn bernyanyi bagaimana dia akan mengikuti ujian akhir, jika kemampuannya terus menurun,
Khairuddin, M.Pd (Fasilitator) Ini ada konsep yang harus kita ajarkan memberi contoh yang kongkrit kepada anak yang mudah dia pahami seperti hal2 yang mudah dia mengerti seperti menampakkan peta, nampakkan peta kota meulaboh pasti dia akan tertarik jgn menampakkan kota Jakarta mana dia tahu, jangan kan murid guru saja tidak tahu. Dan yang juga perlu diingat guru hanya sebagai fasilitator bukan penceramah, bisa bapak ibu perhatikan hal yang perlu ditanam pada sang anak : 1. Quisterning (bertanya) tumbuh kembangkan bertanya 2. Inquiry (Menemukan) guru harus menemukan karya ilmiah Melalui Risset 3. Modelling (contoh model) 4. Masyarakat belajar ini dapat di akses dari berbagai pihak 5. Refleksi, pengetahuan yang sudah didapat untuk menghubung pengetahuan yg satu dan yang lainnya. 6. Autentic Assement penilaian bisa diberikan setiap hari melalui prestasi sehari2
Ditangan bapak ibu harus ada anak bangsa yang empati, Memiliki prinsip dan visi yang kuat, ingatlah bapak ibu kata2 ”jika sesuatu di berikan kepada yang bukan ahlinya maka kehancuran akan tiba”
IQ (Intellegence Quetiont) Intelengence adalah keseluruhan kemampuan individu untuk berfikir dan bertindak secara terarah serta mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif.
Dengan Penemuan Multiple Intelegence paradigma baru tidak ada siswa yang bodoh, setiap siswa memiliki kecerdasan. Dulu IQ kecerdasan tunggal, kini multi dimensional. Ada 8 kecerdasan: 1. Linguistik (bahasa) 2. Matematis-Logis/Cerdas angka 3. Spasial/cerdas gambar 4. Kenistis Jasmaniah/Cerdas gerak 5. Musical 6. Interpersonal/cerdas diri 7. Intra personal/cerdas bergaul 8. Naturalis/cerdas alam
EQ (Emotional Quotient) Kecerdasan Emosi adalah kemampuan mengenali perasaan sendiri, orang lain, memotivasi, mengelola emosi dengan baik dab berhubungan dengan orang lain. · Kesadaran diri · Pengaturan diri · Motivasi · Empati · Keterampilan social
AQ (Adversity Quotient) Adalah kemampuan/kecerdasan seseorang untuk dapat bertahan menghadapi kesulitan-kesulitan dan mampu mengatasi kesulitan hidup.
SQ (Spiritual Quotient) Adalah sumber yang mengilhami, menyemangati, mengikat diri seseorang kepada nilai-nilai kebenaran tanpa batas waktu. SQ kecerdasan yang digunakan untuk berhubungan dengan Tuhan Sang Pencipta. Ciri-ciri SQ Tinggi · Memiliki prinsip dan visi yang kuat; prinsip kebenaran, keadilan, kebaikan visi: cara pandang semata dengan visi yang benar. · Mampu melihat kesatuan dalam keanekaragaman: semua pihak berbeda, tetapi sama-sama menginginkan kebaikan. · Mampu memaknai sisi kehidupan: semua yang terjadi di alam raya ada makna, hikmah, dciptakan ada tujuannya, serta rasa syukur dan tidak lupa diri. · Mampu mengelola dan bertahan dalam kesulitan dan penderitaan: jika tubuh banyak berada dalam kemudahan/kesenangan, maka aspek jiwa akan rusak/jiwanya tidak pernah tersentuh, penderitaan atau kesulitan menumbuhkan dan mengembangkan dimensi spiritual. · Perbedaan antara Akhlak Islamiah dan Moral Akhlak islamiyah: 1. Bersumber pada wahyu Allah, 2. bertujuan untuk mencari ridha Allah, 3. Berhubungan erat dengan keberadaan Allah, dan keyakinan terhadap-Nya 4. Universal: untuk seluruh umat manusia dimana pun berada 5. Konsisten: tidak terpengaruh oleh lingkungan sekitar (tetap)
Moral: 1. Bersumber pada aliran filsafat 2. Dipengaruhi oleh motif-motif materil 3. Bersifat sekuler 4. Sektoral: Rakyat terbatas pada daerah tertentu 5. Inkonsisten: mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar 6. Fana: mudah goyah dan hilang, sesuai dengan tuntutan kebudayaan manusia dan lingkungannya. BAB II KERANGKA BERPIKIR
A. Karakteristik Perkembangan anak usia kelas awal SD
Anak yang berada di kelas awal SD adalah anak yang berada pada rentangan usia dini. Masa usia dini ini merupakan masa yang pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupan seseorang. Oleh karena itu, pada masa ini seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal.
Karakteristik perkembangan anak pada kelas satu, dua dan tiga SD biasanya pertumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan, mereka telah mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya. Mereka telah dapat melompat dengan kaki secara bergantian, dapat mengendarai sepeda roda dua, dapat menangkap bola dan telah berkembang koordinasi tangan dan mata untuk dapat memegang pensil maupun memegang gunting. Selain itu, perkembangan sosial anak yang berada pada usia kelas awal SD antara lain mereka telah dapat menunjukkan keakuannya tentang jenis kelaminnya, telah mulai berkompetisi dengan teman sebaya, mempunyai sahabat, telah mampu berbagi, dan mandiri.
Perkembangan emosi anak usia 6-8 tahun antara lain anak telah dapat mengekspresikan reaksi terhadap orang lain, telah dapat mengontrol emosi, sudah mampu berpisah dengan orang tua dan telah mulai belajar tentang benar dan salah. Untuk perkembangan kecerdasannya anak usia kelas awal SD ditunjukkan dengan kemampuannya dalam melakukan seriasi, mengelompokkan obyek, berminat terhadap angka dan tulisan, meningkatnya perbendaharaan kata, senang berbicara, memahami sebab akibat dan berkembangnya pemahaman terhadap ruang dan waktu.
B. Cara Anak Belajar
Piaget (1950) menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif). Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman tentang objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran) dan akomodasi (proses memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek). Kedua proses tersebut jika berlangsung terus menerus akan membuat pengetahuan lama dan pengetahuan baru menjadi seimbang. Dengan cara seperti itu secara bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut, maka perilaku belajar anak sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam dirinya dan lingkungannya. Kedua hal tersebut tidak mungkin dipisahkan karena memang proses belajar terjadi dalam konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya.
Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret. Pada rentang usia tersebut anak mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai berikut: (1) Mulai memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak, (2) Mulai berpikir secara operasional, (3) Mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda, (4) Membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat, dan (5) Memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat.
Memperhatikan tahapan perkembangan berpikir tersebut, kecenderungan belajar anak usia sekolah dasar memiliki tiga ciri, yaitu:
1. Konkrit Konkrit mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkrit yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan.
2. Integratif Pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi bagian.
3. Hierarkis Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan serta kedalaman materi .
C. Belajar dan Pembelajaran Bermakna
Belajar pada hakekatnya merupakan proses perubahan di dalam kepribadian yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, dan kepandaian. Perubahan ini bersifat menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.
Pembelajaran pada hakekatnya adalah suatu proses interaksi antar anak dengan anak, anak dengan sumber belajar dan anak dengan pendidik. Kegiatan pembelajaran ini akan menjadi bermakna bagi anak jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman bagi anak. Proses belajar bersifat individual dan kontekstual, artinya proses belajar terjadi dalam diri individu sesuai dengan perkembangannya dan lingkungannya.
Belajar bermakna (meaningfull learning) merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Kebermaknaan belajar sebagai hasil dari peristiwa mengajar ditandai oleh terjadinya hubungan antara aspek-aspek, konsep-konsep, informasi atau situasi baru dengan komponen-komponen yang relevan di dalam struktur kognitif siswa. Proses belajar tidak sekadar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, tetapi merupakan kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh, sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan. Dengan demikian, agar terjadi belajar bermakna maka guru harus selalu berusaha mengetahui dan menggali konsep-konsep yang telah dimiliki siswa dan membantu memadukannya secara harmonis konsep-konsep tersebut dengan pengetahuan baru yang akan diajarkan.
Dengan kata lain, belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami langsung apa yang dipelajarinya dengan mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya mendengarkan orang/guru menjelaskan.
D. Pengertian Pembelajaran Tematik
Sesuai dengan tahapan perkembangan anak, karakteristik cara anak belajar, konsep belajar dan pembelajaran bermakna, maka kegiatan pembelajaran bagi anak kelas awl SD sebaiknya dilakukan dengan Pembelajaran tematik. Pembelajaan tematik adalah pembelajaran tepadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, 1983). Dengan tema diharapkan akan memberikan banyak keuntungan, di antaranya: 1) Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu, 2) Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar matapelajaran dalam tema yang sama; 3) pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan; 4) kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan matapelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa; 5) Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas; 6) Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain; 7) guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkaan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.
E. Landasan Pembelajaran Tematik
Landasan Pembelajaran tematik mencakup:
Landasan filosofis dalam pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat yaitu: (1) progresivisme, (2) konstruktivisme, dan (3) humanisme. Aliran progresivisme memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa. Aliran konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa (direct experiences) sebagai kunci dalam pembelajaran. Menurut aliran ini, pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan obyek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada anak, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing siswa. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus menerus. Keaktifan siswa yang diwujudkan oleh rasa ingin tahunya sangat berperan dalam perkembangan pengetahuannya. Aliran humanisme melihat siswa dari segi keunikan/kekhasannya, potensinya, dan motivasi yang dimilikinya.
Landasan psikologis dalam pembelajaran tematik terutama berkaitan dengan psikologi perkembangan peserta didik dan psikologi belajar. Psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi/materi pembelajaran tematik yang diberikan kepada siswa agar tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana isi/materi pembelajaran tematik tersebut disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus mempelajarinya.
Landasan yuridis dalam pembelajaran tematik berkaitan dengan berbagai kebijakan atau peraturan yang mendukung pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah dasar. Landasan yuridis tersebut adalah UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya (pasal 9). UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya (Bab V Pasal 1-b).
Peserta Diantara sekian murid ada anak menerima pelajaran mau, mendengarkan pelajaran mau, yang tidak mau menulis, kita sudah beri tahu kepada orang tua murid tersebut, dan ternyata di rumah juga tidak mau, disini bagaimana apa memang dia tidak ada potensi atau bagaimana, menurut bapak bagaimana guru yang tidak ada potensi atau murid yang tidak potensi.
Khairuddin, M.Pd (Fasilitator) Sebenarnya di Sekolah ini tugas kita sebagai pengajar bukan penceramah, mendidik menampilkan hal yang di lihat, jika ada anak yang kelainan, ini sebenarnya ada bimbingan konselling (keilmuan/spisikologi) agar kita temukan jawabannya, seharusnya pembelajaran ini dan pembimbing ini harus ada tapi di daerah kita dirasa tidak perlu.
Peserta Ini apa faktor keturunan atau keluarga Khairuddin, M.Pd (Fasilitator) Ini dari kejadian yang sianak perhatikan dari kehidupan sehari, jadi bukan faktor keturunan, pendidikan berhasil ini bisa dari otoriter, misal kalau sianak sering mellihat orang tuanya membaca maka sianak pasti akan mengikuti jejak ayahnya dan begitu juga sebaliknya.
Peserta Ada 2 sekolah yang saya ajari dan masing2 sekolah ada anak kalau saya suruh apapun dan huruf apapun pasti dibuat bulat saja tidak mau dengar, akhirnya saya biarkan terus berminggu2 dan akhirnya bisa diubah dgn sendirinya
Peserta Diantara kelas I ini ada 34 murid dan ada yang tidak berhasil sekitar 4, ini bagaimana yang lain udah mau lanjut. Kita ulang kembali atau kita lanjut terus.
Pendidikan tidak boleh yang klasikal harus yang personol, karena beda murid beda kemampuan, ada beberapa cara untuk menngatasi hal ini : 1. Sentuh dgn berbagai pendekatan 2. Jika materi yang di sampaikan belum tuntas maka lakukan renmedial, beri kan tugas tambahan, jika belum selesai pertopik. 3. Istiqarah kepada Allah swt
Sekarang kita bagi kelompok Belajar kelompok Kelompok A tentang : 1. Latar belakang pembelajaran tematik 2. Pengertian pembelajaran tematik 3. Mamfaat Pembelajaran Tematik dan Ruang lingkup pembelajar tematik
Kelompok B tentang : 1 Karakteristik Pembelajaran Tematik 2 Implikasi Pembelajaran Tematik 3 Rambu-Rambu Pembelajaran Tematik 4 Pelaksanaan Pembelajaran Tematik
Kelompok C tentang : 1. Karakteristik pembelajaran anak secara kophentif 2. Pembelajaran bermakana (kontektual) 3. Pemetaan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar 4. Indikator Dalam Tema 5. Kegiatan Pemetaan
Kelompok D tentang : 1. Pengetian pembelajarn tematik 2. Landaran pembelajaran tematik 3. Arti penting pembelajaran tematik 4. Karakteristik pembelajaran tematik.
Kelompok E tentang : 1. Implikasi pembelajaran bagi guru, siswa, 2. Indikasi terhadap pengaturan ruangan 3. Menetapkan Jaringan Tema 4. Penyusunan Silabus
Kelompok F tentang : 1. Tahap pelaksanaan 2. Tahapan Kegiatan 3. Penilaian Dalam Pembelajaran Tematik 4. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Presentasi Kelompok
Break Assalam mualaikum wr. wb Dikarenakan waktu terus berjalan, maka kita lanjutkan kembali
Lanjutan Presentasi Kelompok
Kegiatan Pemetaan Menentukan tema Cara penentuan tema ü Cara pertama, mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat dalam masing-masing mata pelajaran, dilanjutkan dengan menentukan tema yang sesuai.
ü Cara kedua, menetapkan terlebih dahulu tema-tema pengikat keterpaduan, untuk menentukan tema tersebut, guru dapat bekerjasama dengan peserta didik sehingga sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.
Prinsip Penentuan tema Memperhatikan lingkungan yang terdekat dengan peserta didik Dari yang termudah menuju yang sulit Dari yang sederhana menuju yang kompleks Dari yang konkret menuju ke yang abstrak. Tema yang dipilih harus memungkinkan terjadinya proses berpikir pada diri Peserta didik Ruang lingkup tema disesuaikan dengan usia dan perkembangan Peserta didik, termasuk minat, kebutuhan, dan kemampuannya
Karakteristik Pembelajaran Tematik n Berpusat pada peserta didik n Memberikan pengalaman langsung n Tidak terjadi pemisahan mata pelajaran n Menyajikan konsep yang terpadu dari berbagai mata pelajaran n Bersifat fleksibel n Proses pembelajaran mudah disesuaikan dengan minat dan kebutuhan peserta didik n Menggunakan prinsip pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan
Implikasi Pembelajaran Tematik Implikasi bagi: n Guru : harus kreatif dalam menyiapkan kegiatan/pengalaman belajar bagi peserta didik, memilih kompetensi dari berbagai mata pelajaran dan mengaturnya agar pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik, menyenangkan dan utuh.
n Peserta didik: harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran baik secara individual, pasangan, kelompok kecil ataupun klasikal dan mengikuti secara aktif kegiatan pembelajaran yang bervariasi.
Sarana prasarana, sumber belajar dan media: n Memerlukan berbagai sarana dan prasarana belajar. n Memanfaatkan berbagai sumber belajar n Mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran yang bervariasi n Masih dapat menggunakan bahan ajar yang sudah ada saat ini untuk masing-masing mata pelajaran dan menggunakan buku suplemen khusus yang memuat bahan ajar yang terintegrasi
Peserta Masalah tematik beberap bulan lalu yang sudah pernah mengikuti sudah pernah kita pelajari tapi sampai sekarang masih ngambang, kalau bisa lain kali di bahas lagi
Peserta Kami sangat menyenangkan mengikuti pelatihan ini, tapi kami meminta untuk kedepan agar bapak dapat membantu memberlakukan syariah di Aceh Barat ini. Terima kasih
Khairuddin, M.Pd (Fasilitator) Pengertian Pengembangan Diri Pengembangan diri merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran sebagai bagian integral dari kurikulum sekolah/madrasah.
Kegiatan pengembangan diri merupakan upaya pembentukan watak dan kepribadian peserta didik yang dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling berkenaan dengan masalah pribadi dan kehidupan sosial, kegiatan belajar, dan pengembangan karir, serta kegiatan ekstra kurikuler.
Untuk satuan pendidikan kejuruan, kegiatan pengembangan diri, khususnya pelayanan konseling ditujukan guna pengembangan kreativitas dan karir
Untuk satuan pendidikan khusus, pelayanan konseling menekankan peningkatan kecakapan hidup sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik. Tujuan Umum Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, kondisi dan perkembangan peserta didik, dengan memperhatikan kondisi sekolah/madrasah.
Tujuan Khusus Pengembangan diri bertujuan menunjang pendidikan peserta didik dalam mengembangkan : a. Bakat b. Minat c. Kreativitas d. Kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan e. Kemampuan kehidupan keagamaan f. Kemampuan sosial g. Kemampuan belajar h. Wawasan dan perencanaan karir i. Kemampuan pemecahan masalah j. Kemandirian
Bentuk Pelaksanaan Pengembangan Diri
Kegiatan pengembangan diri secara terprogram dilaksanakan dengan perencanaan khusus dalam kurun waktu tertentu untuk memenuhi kebutuhan peserta didik secara individual, kelompok dan atau klasikal melalui penyelenggaraan : § Layanan dan kegiatan pendukung Konseling § Kegiatan Ekstra Kurikuler § Kegiatan pengembangan diri secara tidak terprogram dapat dilaksanakan sebagai berikut : v Rutin, yaitu kegiatan yang dilakukan terjadwal, seperti : upacara bendera, senam, ibadah khusus keagamaan bersama, keberaturan, pemeliharaan kebersihan dan kesehatan diri. v Spontan, adalah kegiatan tidak terjadwal dalam kejadian khusus seperti : pembentukan perilaku memberi salam, membuang sampah pada tempatnya, antri, mengatasi silang pendapat (pertengkaran). v Keteladanan, adalah kegiatan dalam bentuk perilaku sehari-hari seperti : berpakaian rapi, berbahasa yang baik, rajin membaca, memuji kebaikan dan atau keberhasilan orang lain, datang tepat waktu
Konseling Konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok, agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bidang pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kemampuan belajar, dan perencanaan karir, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Bidang Pelayanan Konseling a. Pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami, menilai, dan mengembangkan potensi dan kecakapan, bakat dan minat, serta kondisi sesuai dengan karakteristik kepribadian dan kebutuhan dirinya secara realistik. b. Pengembangan kehidupan sosial, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya, anggota keluarga, dan warga lingkungan sosial yang lebih luas. c. Pengembangan kemampuan belajar, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara mandiri. d. Pengembangan karir, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi, serta memilih dan mengambil keputusan karir.
Fungsi Bimbingan Konseling Ø Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memahami diri dan lingkungannya. Ø Fungsi Pencegahan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik mampu mencegah atau menghindarkan diri dari berbagai permasalahan yang dapat menghambat perkembangan dirinya.. Ø Fungsi Pengentasan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik mengatasi masalah yang dialaminya. Ø Fungsi Pemeliharaan dan Pengembangan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memelihara dan menumbuhkembangkan berbagai potensi dan kondisi positif yang dimilikinya. Ø Fungsi Advokasi, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memperoleh pembelaan atas hak dan atau kepentingannya yang kurang mendapat perhatian.
Jenis Layanan Konseling Orientasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik memahami lingkungan baru, terutama lingkungan sekolah/madrasah dan obyek-obyek yang dipelajari, untuk menyesuaikan diri serta mempermudah dan memperlancar peran peserta didik di lingkungan yang baru.
Informasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi diri, sosial, belajar, karir/jabatan, dan pendidikan lanjutan.
Penempatan dan Penyaluran, yaitu layanan yang membantu peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program studi, program latihan, magang, dan kegiatan ekstra kurikuler.
Penguasaan Konten, yaitu layanan yang membantu peserta didik menguasai konten tertentu, terumata kompetensi dan atau kebiasaan yang berguna dalam kehidupan di sekolah, keluarga, dan masyarakat. Konseling Perorangan, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam mengentaskan masalah pribadinya. Bimbingan Kelompok, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam pengembangan pribadi, kemampuan hubungan sosial, kegiatan belajar, karir/jabatan, dan pengambilan keputusan, serta melakukan kegiatan tertentu melalui dinamika kelompok. Konseling Kelompok, yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam pembahasan dan pengentasan masalah pribadi melalui dinamika kelompok. Konsultasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik. Mediasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antarmereka.
Seharusnya lembaga pendidikan harus berlangsung secara ideal dan terpraktek di lingkungan masyarakat maka akan terlaksana pengertian bermakna. Oke bapak ibu sampai disini saja pertemuan kita pada hari ini, Terima kasih atas perhatian, mohon maaf jika ada kesalah wabillah hitaufit walhidayah Assalam mualaikum wr.wb.
Hari Ketiga, Kamis, 28 Maret 2008 Abdul Jalil (Direktur GSF) Assalam mualaikum wr, wb Terima kepada bapak2 ibu2 yang telah hadir di hari ketiga pertemuan kita ini, perlu bapak ibu ketahui kami ini hanya sekelompok kecil dari GSF yang mencoba membantu pendidikan, dan GSF hanya memiliki personil 15 orang personil termasuk saya, di Dinas Pendidikan mereka punya personil ratusan mungkin lebih bagus, dan saya selaku anak murid dari ibu2, walau umur saya masih seumur jagung, saya mencoba membenah diri di dunia pendidikan, perencanaan awal dari kita, berusaha keras untuk memajukan pendidikan. Ini adalah pola yang kami bangun di GSF, sampai disini yang dapat saya sampaikan pak Adi sudah dating saya akhiri Assalam mualaikum, wr. wb
Adi Darmawan, S.Ag (Fasillitator) Assalam mualaikum, wr. wb, Puja puji kepada Allah, salawat dan salam kepada Rasulullah, dan tidak kita perpanjang mukadimah, tadi sudah diberikan siraman oleh DIrektur GSF, dan Alhamdulillah kita masih bisa berbagi Silahurahmi pada hari ini, baiklah bapak ibu kita lanjutkan untuk materi hari ini…..
PENGEMBANGAN SILABUS 1. Pengertian
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.
2. Landasan Pengembangan SILABUS ? 1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 17 ayat (2)
2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 20
PP NO 19 TAHUN 2005 Pasal 17 Ayat (2)
Sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite madrasah, mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, di bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggung jawab di bidang pendidikan untuk SD, SMP, SMA, dan SMK, dan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI. MTs, MA, dan MAK.
PP NO 19 TAHUN 2005 Pasal 20 Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar
SILABUS menjawab pertanyaan 1. Apa kompetensi yang harus dikuasai siswa? 2. Bagaimana cara mencapainya? 3. Bagaimana cara mengetahui pencapaiannya?
3. Prinsip Pengembangan 1. Ilmiah Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. 2. Relevan Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik. 3. Sistematis Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.
4. Konsisten Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok/ pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian.
5. Memadai Cakupan indikator, materi pokok/ pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.
6. Aktual dan Kontekstual Cakupan indikator, materi pokok/ pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.
7. Fleksibel Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.
8. Menyeluruh Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor).
4. UNIT WAKTU
1. Silabus mata pelajaran disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang disediakan untuk mata pelajaran selama penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan.
2. Penyusunan silabus memperhatikan alokasi waktu yang disediakan per semester, per tahun, dan alokasi waktu mata pelajaran lain yang sekelompok.
3. Implementasi pembelajaran per semester menggunakan penggalan silabus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk mata pelajaran dengan alokasi waktu yang tersedia pada struktur kurikulum. Bagi SMK/MAK menggunakan penggalan silabus berdasarkan satuan kompetensi.
5. PENGEMBANG SILABUS
1. Guru kelas/mata pelajaran, atau 2. Kelompok guru kelas/mata pelajaran, atau 3. Kelompok kerja guru (KKG/PKG/MGMP)
Dibawah koordinasi dan supervisi Dinas Pendidikan Kab/Kota/Provinsi
Ketika sudah membuat KTSP lampiran silabus dinaikkan.
6. KOMPONEN SILABUS 1. Standar Kompetensi 2. Kompetensi Dasar 3. Materi Pokok/Pembelajaran 4. Kegiatan Pembelajaran 5. Indikator 6. Penilaian 7. Alokasi Waktu 8. Sumber Belajar
Catatan: Indikator dikembangkan berdasarkan
Pengembangan Indikator 1. Setiap KD dikembangkan menjadi beberapa indikator (lebih dari dua) 2. Indikator menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur dan/atau diobservasi 3. Tingkat kata kerja dalam indikator lebih rendah atau setara dengan kata kerja dalam KD maupun SK
Peserta Ada sekitar 30 % murid lama nangkap ini bagaimana
Adi Darmawan, S.Ag (Fasillitator) Kalau 75 % sudah nangkap ini sudah termasuk berhasil, jika 50% murid tidak nangkap ini harus diulang kembali.
Prinsip pengembangan indikator adalah sesuai dengan kepentingan (Urgensi), kesinambungan (Kontinuitas), kesesuaian (Relevansi) dan Kontekstual Keseluruhan indikator dalam satu KD merupakan tanda-tanda, perilaku, dan lain-lain untuk pencapaian kompetensi yang merupakan kemampuan bersikap, berpikir, dan bertindak secara konsisten.
MENENTUKAN JENIS PENILAIAN Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.
Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, sikap, penilaian hasil karya berupa proyek atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.
Peserta Kegunaan portofolio kelas 1 misalnya berkisar antara bahasa dan bahasa, orang tua mengganggap anaknya lebih pinter di rumah dari pada di sekolah, kalau di beri nilai sesuai dgn prestasi di sekolah maka orang tua komplin, ini bagaimana
Adi Darmawan, S.Ag (Fasillitator) Pakai bahasa orang tua nya mengetes, apakah terbukti pintar atau tidak, jangan didepan teman2nya.
HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MENENTUKAN PENILAIAN: a. Untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik, yang dilakukan berdasarkan indicator Penilaian tidak blh keluar dari indikator. b. Menggunakan acuan kriteria c. Menggunakan sistem penilaian berkelanjutan, nilai yang terus berlangsung d. Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut e. Sesuai dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam kegiatan pembelajaran
MENENTUKAN ALOKASI WAKTU Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar.
Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam. Biasanya komposisinya sulit maka alokasinya sulit
MENENTUKAN SUMBER BELAJAR Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Bahan yang dipakai baha yang menentukan. Sumber belajar dapat berupa media cetak dan elektronik, nara sumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.
Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.
CONTOH FORMAT SILABUS Nama Sekolah : Mata Pelajaran : Kelas/Semester : Standar Kompetensi : Kompetensi Dasar : Materi Pokok/Pembelajaran : Kegiatan Pembelajaran : Indikator : Penilaian : Alokasi Waktu : Sumber Belajar :
PENGEMBANGAN SILABUS BERKELANJUTAN Silabus: • Dijabarkan ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran • Dilaksanakan, dievaluasi, dan ditindaklanjuti oleh masing-masing guru • Dikaji dan dikembangkan secara berkelanjutan dengan memperhatikan masukan hasil evaluasi hasil belajar, evaluasi proses (pelaksanaan pembelajaran),dan evaluasi rencana pembelajaran.
Tidak semua program kita tepat guna, kalau tidak berhasil boleh diganti. Baiklah bapak ibu, sekarang kita masuk ke RPP, prakteknya nanti
PENGEMBANGAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) LANDASAN RPP PP NO 19 TAHUN 2005 Pasal 20 Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar
PENGERTIAN RPP Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan telah dijabarkan dalam silabus. Lingkup Rencana Pembelajaran paling luas mencakup 1 (satu) kompetensi dasar yang terdiri atas 1 (satu) atau beberapa indikator untuk 1 (satu) kali pertemuan atau lebih.
KOMPONEN RPP (minimal) v Tujuan Pembelajaran v Materi Pembelajaran v Metode Pembelajaran v Sumber Belajar v Penilaian Hasil Belajar
Format RPP Mata Pelajaran : … Kelas/Semester : … Pertemuan Ke- : … Alokasi Waktu : … Standar Kompetensi : … Kompetensi Dasar : … Indikator : …
I. Tujuan Pembelajaran : … II. Materi Ajar : … III. Metode Pembelajaran : … IV. Langkah-langkah Pembelajaran Pertemuan pertama, A. Kegiatan Awal : … B. Kegiatan Inti : … C. Kegiatan Akhir : … Pertemuan kedua, dst. V. Alat/Bahan/Sumber Belajar : … VI. Penilaian : …
Langkah-langkah Menyusun RPP 1. Mengisi kolom identitas 2. Menentukan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk pertemuan yang telah ditetapkan 3. Menentukan SK, KD, dan Indikator yang akan digunakan ( terdapat pada silabus yang telah disusun) 4. Merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan SK, KD, dan Indikator yang telah ditentukan. (Lebih rinci dari KD dan Indikator, pada saat-saat tertentu rumusan indikator sama dengan tujuan pembelajaran, karena indikator sudah sangat rinci sehingga tidak dapat dijabarkan lagi.) 5. Mengidentifikasi materi ajar berdasarkan materi pokok/ pembelajaran yang terdapat dalam silabus. Materi ajar merupakan uraian dari materi pokok/pembelajaran 6. Menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan 7. Merumuskan langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan awal, inti, dan akhir. 8. Menentukan alat/bahan/ sumber belajar yang digunakan 9. Menyusun kriteria penilaian, lembar pengamatan, contoh soal, teknik penskoran, dll
Usahakan di RPP alokasi waktu perlu untuk dicatat.
Peserta Kalau kerumitan sedikit, kalau bahan ada misal 1 jam 30 menit, sedikit tersisa waktu dilanjutkan ke bahan lain atau ke itu lagi, materi yang rumit ada sedangkan waktu yang tinggal ini bagaimana,
Peserta Kalau sudah selesai boleh diulang lagi
Adi Darmawan, S.Ag (Fasillitator) Nanti waktu buat RPP akan terlihat, cukup gak 40 menit, saya tidak punya jawaban karena waktu itu sebenarnya tidak cukup. Biasanya kegiatan awal berapa menit...? Bicaranya yang Riil, kalau kegiatan awal 15, bahan 30 menit, penutup harus berapa menit .....?
Peserta Kami sudah diingatkan kalau di absen ini tidak di panggil tapi cukup di lihat
Adi Darmawan, S.Ag (Fasillitator) Kalau materi baru ini di jelaskan dari awal tapi kalau materi lama ini tidak dari awal. Jadi lebih menghemat waktu.
Peserta Ini supaya kedepan ada kesulitan agar ada solusi, ini bagaimana kita ulang atau bagaimana
Adi Darmawan, S.Ag (Fasillitator) Kita bisa mengulang materi ini kalau anak2 50% baru bisa tapi kalau sudah bisa ya dilanjut saja. Ini solusi yang paling bagus, dan jika masih ada yang belum jelas maka bisa diajak dgn metode belajar sambil bermain dsb.
Peserta Murid saya 43 orang, yang tidak tahu cuma 1 tapi yang lain Alhamdulillah bisa makanya saya menanyakan seperti ini.
Adi Darmawan, S.Ag (Fasillitator) Saya merasa bahagia karena bisa berbagi ilmu, dan kalau ini termasuk tugas saya maka kalau tidak saya sampaikan maka saya akan berdosa. Nanti kita lanjutkan kembali sekarang kita istirahat Assalam mualaikum wr, wb
Break
Assalam mualaikum wr, wb. Sesuai dengan rencana kita, kegiatan selanjutnya pengisian silabus, dan sekarang silahkan kita bagikan kelompok.
Diskusi kelompok....... Presentasi kelompok......
Contoh pengisian silabus hasil Diskusi kelompok
SILABUS
Nama Sekolah : SDN Pasi Pinang Mata Pelajaran : Bina Bahasa Indonesia Kelas : I (satu) Semester : II (Dua) Standar kompetensi : Menggunakan pikiran, perasaan dan informasi, secara lisan dgn perkenalan dan tegur sapa, pengenalan benda dan fungsi anggota tubuh dan deklamasi
Kompetensi Dasar Materi Pokok pembelajaran IndikatorKegiatan pembelajaran indikator Penilaian Alokasi Waktu Sumber/ Bahan/Alat 2.2 Menyapa oran lain dgn menggunakan kalimat dgn sederhana dan bahasa yang santun Kalimat sapaan · Guna Manggunakan kalimat sapaan kepada siswa a. Assalam mualaikum b. Selamat pagi c. Terima kasih d. Minta Maaf
· Guna menanyakan kalimat sapaan yang sering digunakan di rumah
5. -. Siswa dapat menyapa orang lain dgn bahasa yang santun - siswa dapat menyebutkan kalimat sapaan dgn bahasa yang santun ü Bagaimana cara menyapa orang lain dgn santun
2X30’ Buku Paket bina bahasa Indonesia hal 12. Erlangga
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mata Pelajaran : Pertemuan Ke : Kelas/ semester : Alokasi Waktu : 2 x 30 menit
Standar Kompetensi Memahami bunyi bahasa dan dongeng yang dilisankan Kompetensi Dasar 1.1. melaksanakan sesuatu sesuai dgn perintah atau petunjuk yang sederhana Indikator Menirukan bunyi2 suara Materi Pembelajaran macam-macam bunyi Tujuan Pembelajaran Siswa dapat meniru bunyi ayam, sepeda motor, bunyi kucing Bunyi Bebek Metode Pembelajaran Langkah2 Pembelajaran: Kegiatan Awal (10 menit) - Memotivasi dgn mengajukan pertanyaan a. binatang b. berbagai bunyi
Kegiatan inti (15 menit) - Guru menngarahkan siswa agar menirukan macam2 bunyi seperti : ayam, bebek dll - guru membagi anak2 dalam dua kelompok, kelompok pertama menjelaskan menyebutkan benda atau binatang, dan kelompok lain kedua membunyikan suara yang tepat terhadap benda atau binatang yang disebutkan
Kegiatan penutup (10 menit) - Guru mengarahkan anak2 utk duduk kembali pada posisi semula - Memberikan PR Alat dan sumber belajar c. (gambar) lonceng, ayam, sepeda, kucing, beduk, bebek Penilaian Bagaimana bunyi lonceng Bagaimana bunyi ayam Bagaimana bunyi bentuk
Jadi manfaatkan gambar yang mudah ditiru, ada yang ingin ditanyakan sebelum saya tutup,
Peserta Cara mengajarnya nanti sewaktu praktek hari senin bagaimana menurut kelompok atau sendiri2, kalau bisa perkelompok aja biar lebih gampang.
Adi Darmawan, S. Ag (Fasilitator) Nanti kita sepakati, kalau tidak ada pertanyaan tentang Materi segera saya tutup. Mohon maaf jika ada salah dari tadi sampai sekarang, dan untuk hari ini selesai sudah kita berdiskusi dalam aspirasi berbagi informasi, saya akhiri Assalam mualaikum, wr.wb.
Hari Keempat, Sabtu, 29 Maret 2008
Khairudiddin, M. Pd (Fasilitator) Assalam mualaikum wr,wb. kita berjumpa kembali hari ini dengan pokok bahasan yang pertama Penetapan Kriteria yang harus kita berikan untuk mencapai ketuntasan yang minimal.
Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal
PENETAPAN KKM
ANALISIS PENCAPAIAN KKM
RAMBU-RAMBU Ø KKM ditetapkan pada awal tahun pelajaran Ø KKM ditetapkan oleh forum MGMP sekolah Ø Nilai KKM dinyatakan dalam bentuk bilangan bulat dengan rentang 0 – 100 Ø Nilai ketuntasan belajar maksimal adalah 100 Ø Sekolah dapat menetapkan KKM dibawah nilai ketuntasan belajar maksimal Ø Nilai KKM harus dicantumkan dalam LHBS
Break MENAFSIRKAN KRITERIA MENJADI NILAI A. Dengan memberikan point pada setiap kriteria yang ditetapkan :
1. Kompleksitas : - Tinggi = 1 - Sedang = 2 - Rendah = 3 2. Daya dukung : - Tinggi = 3 - Sedang = 2 - Rendah = 1 3. Intake : - Tinggi = 3 - Sedang = 2 - Rendah = 1
Jika indikator memiliki Kriteria : kompleksitas rendah, daya dukung tinggi dan intake siswa sedang nilainya adalah: (3 + 3 + 2) x 100 = 88.89 9
Hari Kelima, Senin, 31 Maret 2008 Abdul Jalil (GSF) Assalammualaikum wr wb. Alhamdulilah puji syukur ke hadirat Allah SWT, Salawat salam ke pangkuan nabi Muhammad SAW. Terima kasih Bapak Ibu sekalian, dan juga terima kasih kepada Pak Adi dan Pak Khairuddin. Saya rasa apa yang terjadi hari ini merupakan peristiwa dan tekanan serta masukan yang luar biasa. Semua itu bisa kita ambil hikmah dalam memperjuangkan dan mengajar anak2 bangsa, dibandingkan dengan anak daerah lain kita sangat tertinggal. Ada guru yang komplain jika wali kelas 1 masuk ngajar kelas 6. Padahal kan itu guru sudah kaya pengalaman bukan PPL, tinggal dipoles dengan kondisi zaman ini. Alhamdulillah kami panitia masih komitmen, mungkin dari ketegasan itu saya mohon maaf kami tidak bermaksud macam2 cuma kita mau implementasi kan dari apa yang kita dapat di pelatihan. Kalau ada yang tidak ngerti boleh konsul kepada tutor atau bahan kalau perlu bahan ada di kantor. Silahkan datang! Mudahan2 di sekolah sudah ada komputer. Namun kami jika ada kata-kata yang kasar, saya selaku pimpinan mohon maaf. Mungkin ibu bisa lihat di layar ada foto2 trening dulu dalam bentuk kalender. Baik selanjutnya ada evalusi sedikit. Silahkan untuk pak Adi dulu!
Adi Darmawan, S.Ag (Tutor) Assalammualaikum wr wb. Mudah-mudahan mohon maaf yang disampaikn oleh pak Jalil, saya juga ikut dimaafkan. Saya orang muda ada keinginan yang kuat untuk merubah paradigma pendidikan yang buruk, dan ini perlu proses yang panjang tidak cukup hanya 5 hari, saya tunggu kedatangan bapak ibu, tidak benar anggapan saya orang yang paham dalam teori dan praktik. Masalah penilaian RPP, saya puas, pelaksannan Pores Belajar yang didahului persiapan, saya lihat sudah lumayan cuma ada beberapa kata yang tidak pada tempatnya. Jangan cantumkan kata2 ”diharapkan”, tetapi tulis kata ”dapat”. Kalau seperti ini seakan ngajar setengah hati. Yang lainnya saya kira sama. Saya lebih ke teoritis kalau pengalaman saya masih sangat baru, saya diangkat jadi PNS baru Tahun 2003. Jangan sampai guru jadi bintang film di kelas, artinya guru Cuma berceramah. Mudah-mudahan ke depan anak2 kita bisa mendapatkan pendidikan yang lebih optimal.
Khairuddin, M.Pd (Tutor) Assalammualaikum wr wb. Bapak ibu yang saya banggakan, hasil observasi di lapangan saya lihat secara komprehensif pada prinsipnya sudah baik. Cuma ada beberapa komentar berkaitan dengan bahasa, seperti kata pak Adi kita ini adalah orang akademis, jadi bahasa yang kita gunakan pun harus akademis. Kata depan/preposision: me, di, pe, ke, dari, dari pada,,, semuanya ditulis terpisah. Awalan/akhiran/sisipan: ditulis serangkai... Ternyata kita belum mampu membedakan antara ”di” awalan dan ”di” sisipan. Baik, bapak ibu saya tidak menguraikan secara komprehensif.
Kemudian masalah Alat peraga, ada dari ibu Nursimah materi tentang gempa bumi, sebenarnya alat peraga lebih kreatif misalnya gambar tsunami, dari gambar itu kita minta si anak untuk bercerita. Pada prinsipnya sudah baik. Sehingga 7 langkah Proses Belajar ada: Kontruktifis, listening, inkuiri, masayaarakat belajar, modelling. Ini kesempatan si anak merangkai kata. Belajar yang maksimal adalah 20 orang. Tapi kita yang penting kuantitas banyak dan rupiah juga. Ceramah dikurangi. Ada beberapa indikator yang saya lihat, yang diajarkan lain, kemudian yang ditanya lain. Karena ini konsep ilmiah jadi berikan waktu kepada saya untuk baca di rumah, saya tidak berani coret2. Saya lihat secara umum administrasi sudah memenuhi tapi dari segi bahasa kita sempurnakan.
Peserta Kami ingin mencoba pakem, bagaimana cara kami laksanakan dengan sebaik2nya?
Khairuddin, M.Pd (Tutor) Harus pakemis,, yang kiat sebut dengan CTL, Construktifis (pengetahuan diperoleh oleh seseorang secara bertahap tidak serta merta. Jadi pedekatan personal. Questioning (Mengajukan pertanyaan) Inquiry (menemukan). Modelling Reflection (pengalaman belajar) Authentic assesment maka teori dikaitkan dengan alquran, hadis, dan budaya aceh. Terakhir kontekskan, materi yang disampaiakn harus dihubungkan dengan fakta mimetik. Terima kasih saya akhiri billahi taufiq walhidayah, Assalammualaikum wr wb.
Abdul jalil (GSF) Terima kasih kepada tutor yang telah menyumbangkan saran2. Baiklah untuk selanjutnya kita ada lembar evaluasi tolong diisi sesuai dengan hati nurani bapak ibu, nama jangan ditulis!
EVALUASI
Abdul jalil (GSF) Baiklah apa yang sudah ibu dapatkan dalam ruangan ini belum sempurna perlu ditambah dan dikembang kan. Alhamdulillah tahun 2007 kami sudah lakukan pada guru2 di sekolah ibu, bisa ibu padukan, sehingga tiap sekolah ada RPP, sebagai panduan boleh diambil tapi sebagai landasan. Mudah-mudahan ke depan sudah punya silabus RPP, visi dan misi. Kami menyadari yang kami berikan tidak sempurna. Baiklah sebagai penutup kita dengarkan pembacaan doa oleh pak Hasballah.
Penutup Do’a oleh Hasballah........
Abdul jalil (GSF) Dengan berakhirnya pembacaan doa, selesai pula acara kita pada hari dengan mengucapkan alhamdulillah saya akhiri assalam mualaikum wr. wb
|