|
MEULABOH - Aksi mogok makan babak kedua yang dilakukan mahasiswa dan korban tsunami yang tergabung dalam Gabungan Pejuang Rumah Tsunami (GPRS) Aceh Barat sejak Jumat (22/1),
Serambi Seorang Pemogok Diinfus, Tiga Lainnya Dipulangkan * Koin untuk Pemkab Bertambah Utama 25 Januari 2010, 15:08 
Pemogok makan Seorang dari tiga pemogok makan yang berasal dari kalangan korban tsunami Aceh Barat terpaksa diinfus karena kondisinya semakin memburuk, Minggu (24/1). Aksi mogok makan berlangsung di Posko Batee Buteh, Suak Ujong Kalak, Meulaboh.SERAMBI/RIZWAN MEULABOH - Aksi mogok makan babak kedua yang dilakukan mahasiswa dan korban tsunami yang tergabung dalam Gabungan Pejuang Rumah Tsunami (GPRS) Aceh Barat sejak Jumat (22/1), masih terus berlanjut hingga Minggu kemarin. Dari enam peserta pengunjuk rasa yang awalnya ikut mogok makan, sore kemarin hanya tinggal tiga orang lagi yang bertahan. Yakni Iskandar, Supardi, dan Maimun. Yang disebut terakhir malah terpaksa diinfus, karena kondisinya makin lemas, dehidrasi, dan mencret. “Kondisi ketiga pemogok makan makin memburuk, satu orang sudah diinfus. Dipastikan beberapa jam lagi yang dua lagi juga bakal diinfus karena makin lemas,” ujar Dadang, juru bicara aksi mogok makan tersebut, menjawab Serambi di Meulaboh, sore kemarin. Menurut Dadang, tiga orang lagi dari para pemogok makan itu, yakni Edy Candra, Jufri, dan Rudi pada Minggu siang sudah dipulangkan ke pihak keluarganya, karena tak tahan lagi ikut mogok makan. “Bila tetap dipaksakan, kami khawatir akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan,” ujar Dadang. Mogok makan itu berlangsung di pos relawan Bate Puteh Suak Ujong Kalak, Kecamatan Johan Pahlawan, Meulaboh. Serambi mendatangi tempat itu pukul 17.30 WIB kemarin. Menurut Dadang, aksi tersebut masih belum diketahui kapan berakhirnya. “Sangat bergantung pada kesanggupan peserta.” Dadang menambahkan bahwa mogok makan ini merupakan lanjutan dari aksi sebelumnya yang dilancarkan oleh mahasiswa dari Solidaritas Mahasiswa Bela Pendidikan (Sombep) Aceh Barat. Aksi tersebut, kata Dadang, masih tetap merupakan bentuk protes mereka kepada pemerintah, khususunya Pemkab Aceh Barat, yang mereka nilai telah mengabaikan hak-hak korban tsunami di kabupaten itu untuk mendapatkan rumah bantuan. “Kita juga meminta DPR Aceh yang sekarang sedang membahas RAPBA 2010 agar bisa merealisasikan wacana rumah duafa untuk diberikan kepada korban tsunami yang belum mendapat rumah bantuan,” kata Dadang. Galang koin Sementara itu, aksi penggalangan koin yang dimulai akhir Desember tahun lalu, hingga pekan ketiga bulan Januari ini masih berlanjut. Koin yang terkumpul selama aksi itu akan disumbangkan kepada Pemkab Aceh Barat yang dinilai sudah tak mampu merealisasikan janjinya sejak setahun lalu untuk membangunkan rumah bantuan kepada korban tsunami. Hingga kemarin, koin yang berhasil digalang dari pengguna jalan oleh warga, mahasiswa, dan aktivis LSM di kabupaten itu sudah mencapai Rp 7,8 juta. Ketua LSM Sombep Aceh Barat, Chaidir, mengatakan penggalangan koin itu tidak akan dihentikan sebelum ada kepastian dari pemkab untuk membangun atau memberikan rumah bantuan kepada korban tsunami. “Penggalangan koin ini juga dibantu oleh korban tsunami yang sekarang masih bertahan di Posko Batee Puteh Suak Ujong Kalak, Meulaboh,” jelas Chaidir. (riz) http://serambinews.com/news/view/22553/seorang-pemogok-diinfus-tiga-lainnya-dipulangkan |