|
Harian Aceh—Pintu masuk kantor Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias di kawasan Lueng Bata, Banda Aceh, didobrak ratusan korban tsunami asal Aceh Barat, Jumat (23/1).
Ratusan orang beru saha memasuki kantor BRR, namun upaya tersebut dapat dicegah puluhan aparat kepolisian. Pengunjuk rasa dari mahasiswa dan masyarakat korban tsunami asal Aceh Barat terlibat aksi dorong pagar dengan aparat di depan kantor BRR Aceh-Nias, Lueng Bata, Banda Aceh, Jumat (23/01/09). (Foto HARIAN ACEH | RAHMAD KELANA) Saat aksi unjuk rasa tersebut mulai memanas, pejabat BRR mempersilakan enam perwakilan pengunjuk rasa untuk melakukan pembicaraan terkait dengan tuntutan korban tsunami Aceh Barat. Juanda Djamal, juru bicara BRR Aceh-Nias, menyatakan pihaknya hanya bisa menampung aspirasi yang disampaikan perwakilan pengunjuk rasa, yakni Hendra Budian. BRR Aceh-Nias akan mengakhiri tugasnya pada April 2009 setelah empat tahun menangani proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pascatsunami 26 Desember 2004. Ratusan korban tsunami Aceh Barat menuntut BRR membangun kembali tempat tinggal mereka karena hingga masa tugas lembaga tersebut akan berakhir, mereka belum memperoleh bantuan rumah Aksi korban tsunami pesisir pantai barat Aceh itu mendapat perhatian warga terutama mereka yang melintas di depan kantor BRR. Warga korban tsunami yang telah berhari-hari di Banda Aceh itu juga menggelar aksi unjuk rasa di kantor gubernur dan DPR Aceh. Sebelumnya, Ketua DPRA Sayed Fuad Zakaria menyatakan pihaknya telah menyurati Pemerintah Aceh untuk menyelesaikan masalah korban tsunami yang belum mendapat rumah. "Saya jamin surat ini Kamis (22/1) sudah disampaikan kepada Gubernur Irwandi Yusuf," katanya. Ibu Hamil Ainal Mardiah, 28, salah satu korban tsunami asal Aceh Barat yang sedang hamil delapan bulan, juga datang ke Banda Aceh menuntut pembangunan rumah. "Alhamdulillah sampai saat ini saya sehat-sehat saja meski harus tidur di lantai dan hidup seadanya," kata Ainal di Banda Aceh, Jumat. Ainal bersama 250 korban tsunami Aceh Barat, kini tinggal di sekretariat Aceh Judicial Monitoring Institute (AJMI) di Banda Aceh. Mereka bertolak dari kampung asal ke ibukota Provinsi Aceh pada Minggu (18/1). Ibu dua anak ini mengaku terpaksa meninggalkan kampung halaman selain untuk menuntut rumah juga menemani ibunya yang ikut dalam rombongan korban tsunami ini. Ainal juga membawa Nabila, anak keduanya yang berusia 34 bulan. Sementara suaminya yang bekerja sebagai penarik becak tetap di kampung menjaga anak tertua yang berusia enam tahun. Pasca tsunami, Ainal mengaku menyewa rumah di Kecamatan Johan Pahlawan Aceh Barat untuk tempat tinggal mereka. Sebelum tsunami ia juga berstatus sebagai penyewa rumah. Selain Ainal, di antara ratusan korban tsunami itu juga terdapat sembilan balita berusia antara dua hingga tiga tahun. Sekitar 400 orang korban tsunami yang menamakan diri Gerakan Pejuang Rumah Tsunami (GPRS) Aceh Barat menuntut pembangunan rumah yang dijanjikan.(ant) |