|
MEULABOH - Amiruddin, 42 tahun, keluarga pasien Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh, Minggu (25/9) malam sekira pukul 23.45 Wib, mengamuk dirumah sakit milik pemkab Aceh Barat.
Dokter Puteri ke Banda Aceh, Pasien di Meulaboh Meninggal Dunia Tuesday, 27 September 2011 08:00 MEULABOH - Amiruddin, 42 tahun, keluarga pasien Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh, Minggu (25/9) malam sekira pukul 23.45 Wib, mengamuk dirumah sakit milik pemkab Aceh Barat. Pelaku menendang tabung oksigen di kamar penanganan khusus 1, ruang Intensive Care Unit (ICU), karena kecewa dengan pelayanan rumah sakit.
Insiden berawal dari meninggalnya Hamdani 14, keponakan pelaku, pada Minggu malam setelah menjalani perwatan sejak Jumat (16/9) lalu. Pelaku menilai terbatasnya tindakan medis yang dilakukan dokter membuat nyawa Hamdani yang dirawat karena kasus kecelakaan lalu lintas, tidak terselamatkan.
“Baru tadi (Minggu malam), dia dirontgen, padahal sudah sembilan hari disini. Itu yang saya sesalkan. Jika ini (rontgen), sejak awal dilakukan mungkin kebocoran pencernaannya akan cepat diketahui,” kata Amiruddin yang ditemui wartawan.
Selain itu, saat kondisi korban kritis, dokter yang menanganinnya tidak berada ditempat, dan diperparah dengan tidak adannya tindakan dari dokter lain, karena alasan tidak mengetahui riwayat penyakit Hamdani.
“Saya dengar dari perawat, dokter lain tidak berani menangani karena sejak awal, Hamdani ditangani Dokter Puteri, dan sejak 2 hari dia cuti ke Banda Aceh,” ungkap Amiruddin.
Ia mengatakan, harusnya dokter yang menangani Hamdani melakukan rontgen sejak awal untuk mengetahui luka dalam pada pencernaan Hamdani sehingga kondisinya tidak memburuk. Dikatakan, pada Jumat, Hamdani sempat membaik, namun kondisinya kembali drop Sabtu kemarin.
“Jumat luka di kepala akibat kecelakaan sudah baik, rupannya ada kebocoran di pencernaan dan itu baru tadi diketahui karena baru tadi di rotgen. Kalau sejak awal diketahui mungkin bisa diambil langkah cepat,” katannya.
Amir juga menyayangkan tidak adannya pemberitahuan dari tim medis yang menangani Hamdani tentang perkembangan kesehatan Hamdani.
”Harusnya kalau memang tidak mampu, katakan tidak mampu, jadi kita bisa mencari solusi lain. Apa membawannya ke Banda Aceh atauke tempat lain,” sesal Amiruddin.
Sementara itu dua perawat yang bertugas di ruang ICU rumah sakit tersebut menyebutkan telah mencoba menghubungi dokter yang bersangkutan melalui nomor Handphonennya.
“Selaku perawat kami hanya menjalankan perintah dokter dan barusan untuk menanyakan riwayat pasien dan tindakan yg mesti diambil. Kami sudah sms dokter Puteri tapi belum dibalas,” kata Cut Murdiani AMK.
Menurut Cut, seharusnya memang ada dokter pengganti, namun karena tidak menangani Hamdani sejak awal, membuat dokter lain tidak berani mengambil tindakan.
”Memang harusnya tadi Minggu pagi sudah dioperasi, tapi kondisinya sudah buruk sekali dan dokter lain juga tidak berani main caplok,” kata Cut mengutip hasil pemeriksaan dokter piket di IGD Minggu malam.
Akibat peristiwa ini, suasana diruang ICU heboh, karena tabung oksigen yang ditendang pelaku nyaris mengenai kaca jendela dan mengeluarkan suara keras. Keluarga pasien lain yang mendengar kegaduhan berhamburan keruang ICU. Amiruddin yang sebelumnya sempat mengamuk akhirnya ditenangkan puluhan keluarga yang telah berada di ruang ICU.
Usai ditangani perawat, jenazah Hamdani yang sebelumnya dirawat diruang anak, akhirnya dibawa pulang keluarga ke desanya di Sawang Teube Kecamatan Kaway XVI.[]
http://atjehpost.com/nanggroe/daerah/6736-dokter-puteri-ke-banda-aceh-pasien-di-meulaboh-meninggal-dunia.html
|