|
MEULABOH - Puluhan penumpang angkutan umum tujuan Kota Banda Aceh, Calang (Aceh Jaya) maupun Meulaboh (Aceh Barat), beserta pengguna jalan lainnya,
Kian Gencar, Razia Rok di Aceh Barat * Seluruh Penumpang Diperiksa Utama Wed, Jun 2nd 2010, 11:24 Komandan Operasi WH Aceh Barat T Abdurrazak SPdi (tengah) memberikan pengarahan terhadap sejumlah penumpang angkutan umum tujuan Banda Aceh yang terjaring razia di lintasan Meulaboh-Calang, kawasan Desa Suak Raya, Kecamatan Johan Pahlawan, Selasa (1/6) siang. Dalam razia itu puluhan kaum perempuan ikut terjaring petugas dan dibagikan rok guna menutupi aurat. SERAMBI/DEDI ISKANDAR MEULABOH - Puluhan penumpang angkutan umum tujuan Kota Banda Aceh, Calang (Aceh Jaya) maupun Meulaboh (Aceh Barat), beserta pengguna jalan lainnya, Selasa (1/6) siang terjaring razia busana ketat yang dilancarkan petugas Wilayatul Hisbah (WH) kabupaten setempat di lintasan Meulaboh-Calang, kawasan Desa Suak Raya, Kecamatan Johan Pahlawan.
Dalam razia yang dibantu aparat kepolisian dari Satuan Lalu Lintas (Satlantas) dan Samapta Polres Aceh Barat itu, puluhan warga yang sebagian besar kaum perempuan kaget dan ketakutan dirazia petugas. Pasalnya, mereka yang merupakan pengguna jalan ataupun penumpang angkutan umum itu mengenakan pakaian ketat di jalanan, malah ada yang tak berbusana muslimah.
Apalagi, dalam razia kemarin, petugas WH menyetop sejumlah minibus L-300 jurusan Meulaboh-Calang-Banda Aceh maupun sebaliknya. Bahkan satu per satu penumpangnya diturunkan dan diperiksa petugas secara sopan. Kemudian diminta menuju pos pemeriksaan untuk dibina dan didata.
Bahkan, seorang penumpang becak bermotor yang tak luput dari sasaran razia WH ikut menangis, karena tak mau terjaring oleh petugas yang merazia busana ketat. Namun, setelah diberikan arahan, perempuan yang mengaku sedang mengalami musibah itu diberikan rok oleh petugas, karena ia berpakaian ketat tapi tak membawa rok, sehingga tak memungkinkan untuk diambil ke rumahnya yang jauh.
Sedangkan puluhan penumpang angkutan umum lainnya yang terjaring petugas, diminta segera memakai rok apabila di dalam barang bawaan mereka terdapat rok. Namun, bagi yang tak membawa rok dan tak memungkinan untuk kembali ke rumahnya karena jauh, maka diberikan rok oleh petugas WH. Rok itu langsung dipakai di hadapan petugas WH perempuan, tanpa melepaskan celana ketat. Pertimbangannya, rok yang diberikan tersebut telah menutupi celana ketat yang dipakai pelanggar.
Terobos razia Meski razia yang dilancarkan petugas WH ikut dikawal aparat kepolisian, namun puluhan warga yang naik kendaraan bermotor roda dua dan empat nekat menerobos razia petugas. Bahkan beberapa petugas tertabrak akibat kendaraan dipacu warga dengan kecepatan tinggi. Bahkan seorang pria berpakaian loreng ikut “melarikan” pasangannya yang berbusana ketat. Sebelumnya ia berusaha menghentikan laju kendaraan yang dipacu dari arah Kota Calang, Aceh Jaya.
Petugas WH yang melakukan razia dan berusaha menghentikan laju kendaraan oknum berpakaian loreng itu, malah tak bisa berbuat banyak karena tidak ingin terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Melihat peristiwa itu, sejumlah warga sipil yang terjaring petugas justru protes, namun petugas tak bisa berbuat banyak.
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP dan WH) Aceh Barat, H Teuku Ahmad Dadek melalui Komandan Operasi WH, T Abdurrazak SPdi kepada Serambi usai razia menyatakan, razia busana ketat yang dilakukan petugas terhadap angkutan umum maupun pengguna jalan lainnya itu, dimaksudkan untuk menerapkan implementasi syariat Islam di Aceh Barat, khususnya terhadap aturan penerapan rok dan busana muslim bagi umat Islam di wilayah itu. “Razia busana yang kita lakukan ini tetap mengedepankan etika dan sopan santun, mengingat aturan yang kita tegakkan ini untuk menerapkan syariat Islam di Aceh Barat,” tukas Abdurrazak.
Menurutnya, razia terhadap pengguna jalan maupun angkutan umum itu terus dilakukan pihaknya secara berkelanjutan tanpa pandang bulu, apalagi dalam razia kemarin, sejumlah warga yang berasal dari Pidie, Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, Nagan Raya, Aceh Jaya, serta Aceh Barat ikut terjaring petugas.
Menyangkut pembagian rok, menurutnya, hanya dibagikan kepada pelanggar syariat Islam yang sama sekali tidak membawa rok saat terjaring petugas dan merupakan warga yang tinggal jauh dari lokasi razia. Sedangkan bagi pelanggar yang kediamannya berada di sekitar lokasi razia dan masih terjangkau untuk diambilkan roknya, maka rok itu harus diantar keluarganya ke lokasi razia, tempat ia terjaring.
Ia beralasan, kalau rok itu dibagikan kepada semua pelanggar, maka tidak cukup, mengingat jumlah pelanggar yang terjaring petugas setiap harinya sangat banyak. Apalagi razia busana muslim/muslimah itu berlangsung setiap hari di lokasi berbeda. Ia juga meminta kepada semua pihak memaklumi dan menghormati aturan yang sedang diberlakukan tersebut, sehingga tak ada yang salah penafsiran terhadap penerapan syariat Islam di “Kota Tauhid-Tasawuf” tersebut. (edi) http://www.serambinews.com/news/view/31896/kian-gencar-razia-rok-di-aceh-barat |