|
MEULABOH - Meski dokter Mudiarti telah secara resmi menyatakan mundur dari jabatannya sebagai Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien (RSUD CND) Meulaboh,
Di Aceh Barat, ‘Perang’ Bupati-Wabup Berlanjut * Dokter Mudiarti Gelar Apel Perpisahan Utama Thu, May 27th 2010, 11:36
MEULABOH - Meski dokter Mudiarti telah secara resmi menyatakan mundur dari jabatannya sebagai Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien (RSUD CND) Meulaboh, namun perang argumen antara Bupati dengan Wakil Bupati Aceh Barat terus berlanjut. Bupati Ramli MS tetap dengan keputusannya menotadinaskan tiga dokter spesialis dari RSUD CND ke Puskesmas Kaway XVI sedangkan Wabup Fuadri SSi berharap agar bupati menarik kembali ketiga dokter ahli itu ke RSUD.
Bupati Aceh Barat dalam jumpa pers di pendapa bupati, Rabu (26/5) menegaskan, kebijakan menotadinaskan tiga dokter spesialis dari RSUD CND ke Puskesmas Kaway XVI merupakan harga mati yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Menurut Ramli, meski banyak yang meminta agar kebijakan itu dibatalkan tetapi dirinya tetap akan menjalankan program ini karena sangat diharapkan oleh masyarakat di pedesaan.
Dikatakannya, penugasan ketiga dokter ahli dengan nota dinas ke puskesmas dilakukan secara bergilir. Untuk tahap awal selama enam bulan dan akan dievaluasi selama tiga bulan apakah dilanjutkan atau ditarik lagi ke RSUD. “Kehadiran dokter ahli di puskesmas sangat diharapkan masyarakat. Jumlah pasien yang berobat juga meningkat. Saya kembali mengimbau dokter spesialis ini agar segera bertugas di puskesmas sedangkan kepada pihak yang protes agar datang ke puskesmas untuk melihat langsung,” ujar Ramli.
Menanggapi mundurnya dr Mudiarti dari jabatannya sebagai Direktur RSUD CND, menurut Ramli itu adalah haknya Mudiarti dan dirinya tidak dapat melarang. Namun diakui Ramli, selama dijabat Mudiarti, RSUD CND semakin baik bahkan dalam waktu dekat statusnya akan meningkat dari C ke B. Ditanya siapa nantinya yang akan menggantikan Mudiarti, Ramli mengaku belum tahu dan urusan itu diserahkan kepada Baperjakat.
Perlu ditarik Di tempat terpisah, Wakil Bupati (Wabup) Aceh Barat, Fuadri SSi mengatakan, dalam kasus pencopotan tiga dokter ahli dari RSUD CND perlu ada revisi kembali. Ketiga dokter ahli ini perlu ditarik kembali ke RSUD sebab dinilai masih belum tepat ditempatkan di puskesmas. “Harapan saya kepada Pak Bupati agar lebih bijak menyikapi kasus dokter sehingga tidak terus berlarut-larut,” ujar Fuadri.
Fuadri menyatakan mendukung program bupati terhadap penetapan dokter spesialis di puskesmas, akan tetapi perlu dipelajari terhadap harapan masyarakat dan desakan dari pihak manapun sehingga tidak terus menjadi polemik yang berkepanjangan. “Kebijakan penugasan secara permanen perlu dievaluasi lagi oleh bupati sehingga tidak semakin meruncingkan persoalan, terlebih Direktur RSUD CND (dr Mudiarti) mundur dari jabatan,” kata Fuadri.
Harusnya, lanjut Fuadri, Mudiarti tidak perlu mundur sebab bukan dirinya yang bersalah tetapi akibat dokter spesialis yang dipindah sehingga muncul masalah. “Bila dokter spesialis ini ditarik kembali ke RSUD dipastikan akan kembali berjalan normal dan tidak menjadi masalah lagi,” demikian Fuadri.
Sebelumnya, pihak DPRK Aceh Barat yang melakukan pertemuan dengan Direktur RSUD CND, Kadis Kesehatan, Ketua IDI, serta ketiga dokter yang dipindah mengatakan, bupati harus segera mengembalikan ketiga dokter ini ke RSUD CND. “Rekomendasi ini semata-mata agar pelayanan di RSUD CND berjalan baik. Tujuan lainnya agar hubungan eksekutif-legislatif tetap harmonis,” kata Wakil Ketua DPRK Aceh Barat, Masrizal.
Apel perpisahan Sementara itu, dr Mudiarti, Rabu 26 Mei 2010 secara resmi mundur dari jabatannya sebagai Direktur RSUD CND Meulaboh. Surat pengunduran diri itu diserahkan ke Asisten Administrasi Pemkab Aceh Barat, Sattri SIP. Sebelum mengantar surat pengunduran diri itu, dr Mudiarti memimpin apel pagi terakhir di RSU CND. Di depan ratusan tenaga medis, Mudiarti mengumumkan bahwa dirinya sudah resmi mengundurkan diri. Banyak peserta apel yang meneteskan air mata mendengarkan pernyataan Mudiarti.
Kepada wartawan, dr Mudiarti mengatakan dirinya sudah 13 tahun bertugas di RSUD CND sebagai dokter dan pada 2008 dipercayakan sebagai Direktur RSUD CND. Sekarang dirinya merasa sudah tidak nyaman lagi melaksanakan tugas sebab banyak pihak yang dinilai tidak suka lagi terhadap dirinya.
Mudiarti berpesan meski dirinya tidak lagi sebagai direktur, tetapi berbagai hal positif yang telah terbangun selama ini seperti apel pagi dan kegiatan Jumat supaya tetap dipertahankan. Sebagai pegawai negeri, Mudiarti menyatakan bersedia bertugas di mana saja dan tidak ada masalah. Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh Barat, dr Akbar mengatakan, keputusan mundur Mudiarti sebagai Direktur RSUD CND merupakan hal wajar dan biasa. Siapa pun nantinya yang memimpin RSUD CND diharapkan dapat melakukan perubahan ke arah yang lebih baik lagi. IDI menyatakan siap bila Pemkab Aceh Barat akan berkonsultasi mengenai siapa yang dinilai layak untuk menggantikan Mudiarti. (riz) http://serambinews.com/news/view/31594/di-aceh-barat-perang-bupati-wabup-berlanjut
|