|
Martti Ahtisaari Minta Donor Terus Bantu Aceh * Mahasiswa Sampaikan Enam Tuntutan - Utama 11 December 2009, 16:56 BANDA ACEH - Mantan presiden Finlandia, Martti Ahtisaari mengatakan, pihaknya terus meminta negara dan lembaga-lembaga donor untuk terus membantu Aceh. Saat ini prioritas yang paling utama bagi masyarakat Aceh adalah menggerakkan roda ekonomi. "Saya yakin semua Anda tentunya setuju yang paling penting saat ini adalah bagaimana memperbaiki keadaaan ekonomi masyarakat Aceh. Jadi, masyarakat bisa merasakan adanya perubahan yang lebih baik, bukan hanya terwujudnya perdamaian, tetapi juga adanya kesejahteraan hidup yang lebih baik," kata Direktur Crisis Management Initiative (CMI) itu dalam konferensi pers di ruang rapat Kantor Gubernur Aceh, Kamis (10/12). Ahtisaari tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Aceh Besar pukul 11.00 WIB. Konferensi pers itu digelar usai pertemuan tertutup hampir tiga jam yang dihadiri Martti Ahtisaari, Gubernur Irwandi Yusuf, dan beberapa Kepala Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA). Pertemuan itu berlangsung sejak pukul 14.30 hingga 17.30 WIB. Menurut Ahtisaari, kedatangannya ke Aceh dalam rangka membuat perencanaan supaya butir-butir dalam MoU Helsinki bisa diimplementasikan dengan baik. Ahtisaari datang ke Jakarta, Selasa lalu. Dia mengaku sudah bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Wakil-wakil pemerintah di Jakarta, katanya, menyambut baik peran dirinya untuk terus memfasilitasi proses damai Aceh. Pada Sabtu atau Minggu lusa Ahtisaari juga berencana akan bertemu lagi dengan wakil-wakil pemerintah dan lembaga donor. Sebelum kembali, peraih Nobel Perdamaian itu berencana menemui wakil-wakil dari partai politik, LSM, dan masyarakat sipil. Ahtisaari juga berharap kondisi di Aceh akan cepat lebih baik. "Sehingga kalau saya datang lagi berikutnya bukan untuk bekerja, melainkan untuk berlibur," katanya, yang disambut tawa Gubernur Irwandi yang mendampinginya saat konferensi pers berlangsung. Dia mengakui sebelumnya sempat khawatir dengan suasana pemilihan umum di Aceh, namun ternyata dapat berlangsung dalam suasana aman dana damai. Saat ditanya tanggapannya mengenai sikap Mendagri yang belum menerbitkan SK penetapan Pimpinan DPRA, Ahtisaari berharap, persoalan itu bisa segera diselesaikan secara formalitas. "Kesulitan-kesulitan yang dihadapi sekarang secara formalitasnya bisa diselesaikan. Saya juga sudah berjumpa dengan Ketua DPRA," katanya. Jumpa mahasiswa Usai konfrensi pers, lima perwakilan mahasiswa dan seorang pemuda yang sudah menunggu di luar Kantor Gubernur, sejak sebelum kedatangan Martti Ahtisaari , akhirnya diizinkan masuk dan bertemu Martti Ahtisaari di ruang kerja Gubernur. Koordinator aksi, Herri Mauliza mengatakan dalam pertemuan tertutup itu, mereka menyampaikan enam tuntutan mahasiswa yang sebelumnya telah disampaikan kepada anggota DPR Aceh, saat berunjuk rasa di depan Dedung DPRA. Pertama, mendesak Pemerintah RI merevisi Undang-undang Pemerintah Aceh (UU-PA) yang belum sesuai MoU Helsinki, seperti pembagian hasil bumi dan gas antara Aceh dan Pusat. Kedua, mendesak Pemerintah RI menjamin pelaksanaan UU-PA yang belum sesuai MoU Helsinki. Ketiga, mendesak Mendagri mengeluarkan SK pimpinan DPRA definitif. Keempat, mendesak Pemerintah RI dan Pemerintah Aceh menghadirkan pemantau asing di Aceh. Kelima, meminta Pemerintah RI menghormati proses perdamaian berkelanjutan dan kekhususan Aceh. Dan terakhir, apabila tuntutan tidak dilaksanakan dalam waktu dekat, maka rakyat Aceh akan memboikot sistem kinerja eksekutif dan legislatif di Aceh. "Secara umum, Pak Martti menanggapi tuntutan kami. Beliau mengatakan akan memfasilitasi pertemuan Pemerintah Aceh dengan Pemerintah RI, jika ada persoalan penting yang menyimpang amanah MoU Helsinky. Beliau juga berjanji, ia dan Uni Eropa selalu memantau proses perdamaian di Aceh, walaupun tidak dibentuk lembaga pemantau, seperti AMM," kata Herri menjawab Serambi malam tadi. Pertemuan Ahtisaari beserta stafnya dengan para perwakilan mahasiswa dimulai pukul 17.00 WIB dan berlangsung sekitar satu jam. Sebelum bertemu Ahtisaari, para mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa di Kantor Gubernur dan Gedung DPRA. Mereka mengusung enam tuntutan yang kemudian juga disampaikan kepada Ahtisaari. Namun, saat di Kantor Gubernur mereka hanya diterima Kasubbag Keamanan Dalam Kantor Gubernur, Syukrianto. Sementara Gubernur Irwandi sudah berangkat ke Bandara SIM menjemput Ahtisaari. Sedangkan dalam aksi di DPRA, para demonstran diterima anggota DPRA, Abdullah Saleh, M Yunus Ilyas, dan T Husen Banta. Dalam pertemuan di luar Gedung DPRA, anggota dewan ini menerima permintaan mahasiswa untuk menghubungi Ketua sementara DPRA, Hasbi Abdullah yang sedang menjumpai Mendagri di Jakarta. Melalui HP, Hasbi menjawab mendagri perlu menelaah kembali persoalan pengesahan pimpinan DPRA, apakah sudah sesuai dengan aturan yang berlaku.(sak/sal) |